Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma
- account_circle Novita Din
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 80
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda.”
Romo Driyarkara: Dari Pendidik hingga Penjaga Martabat Manusia
Nama Romo Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S.J. tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, khususnya Universitas Sanata Dharma. Lahir di Kedunggubah, Purworejo, pada 13 Juni 1893 dengan nama Djentoe, Driyarkara kemudian memilih jalan hidup sebagai imam Jesuit sekaligus pendidik dan filsuf.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar sesuatu yang hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi jalan untuk membentuk manusia yang mampu menghargai sesamanya.
Memilih Jalan Pendidikan
Ketertarikan Driyarkara terhadap kehidupan sebagai imam mulai tumbuh ketika ia berada di Malang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Kecil Yogyakarta sebelum bergabung dengan Serikat Yesus pada 7 September 1935.
Setelah menjalani pendidikan filsafat dan teologi, beliau melanjutkan studinya ke luar negeri. Pada tahun 1952, Driyarkara kembali ke Yogyakarta setelah menyelesaikan pendidikan filsafatnya di Universitas Gregoriana, Roma.
Ketika kembali ke Indonesia, dunia pendidikan menjadi salah satu bidang utama pengabdiannya. Pada tahun 1955, ia dipercaya menjadi pimpinan pertama Perguruan Tinggi Pendidikan (PTPG) Sanata Dharma. Pada masa itu, Sanata Dharma baru memiliki beberapa jurusan seperti Bahasa Inggris, Sejarah, Ilmu Pendidikan Alam, dan Ilmu Mendidik.
Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia
Pemikiran Driyarkara tidak berhenti pada persoalan sekolah dan perguruan tinggi. Ia banyak berbicara mengenai manusia, pendidikan, moral, dan kehidupan bersama. Salah satu gagasan yang dikenal dari Driyarkara adalah bahwa manusia adalah kawan bagi sesama.
Gagasan tersebut menunjukkan pandangannya bahwa manusia tidak seharusnya hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi memiliki tanggung jawab terhadap manusia lainnya. Pemikiran ini masih relevan dengan dunia pendidikan saat ini. Seorang guru atau pendidik tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa, tetapi juga membantu peserta didik berkembang menjadi individu yang bermanfaat bagi negara dan bangsa. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang pintar secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menghargai, bekerja sama, dan peduli terhadap sesamanya.
Guru Menurut Pandangan Driyarkara
Pemikiran Driyarkara tentang guru juga menarik untuk diperhatikan, terutama bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan keguruan. Menurut gagasan pendidikan yang dikembangkan pada masa kepemimpinannya di Sanata Dharma, guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Guru juga membutuhkan kepribadian yang kuat dan kemampuan untuk mendampingi peserta didik dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa guru bukan sekadar orang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi. Guru memiliki peran dalam membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Jika dilihat dengan kondisi pendidikan sekarang, pandangan tersebut menjadi semakin penting. Peserta didik hidup dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan dengan masa Driyarkara. Mereka berhadapan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti media sosial, games, informasi yang banyak, dan berbagai bentuk distraksi digital. Dalam situasi seperti ini, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga perlu mampu memahami peserta didik dan menjadi pendamping dalam proses perkembangan mereka.
Dengan demikian, gagasan Driyarkara tentang pendidikan masih dapat dibaca kembali dalam konteks pendidikan modern. Teknologi boleh berubah, kurikulum dapat diubah, dan cara belajar dapat diubah, tetapi kebutuhan manusia untuk dihargai, didampingi, dan dikembangkan sebagai manusia tetap ada.
Driyarkara dan Kehidupan Mahasiswa Sanata Dharma
Bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma, pemikiran Driyarkara sebenarnya bukan sesuatu yang jauh. Namanya hadir dalam berbagai ruang dan kegiatan akademik. Universitas juga terus menghidupkan pembicaraan mengenai pemikirannya. Pada tahun 2023, misalnya, Universitas Sanata Dharma mengadakan pameran arsip untuk memperingati 110 tahun kelahiran Driyarkara sekaligus mengenang kontribusinya sebagai rektor pertama Sanata Dharma, filsuf, dan ahli pendidikan.
Hal ini menunjukkan bahwa warisan Driyarkara tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah. Pemikirannya masih dipandang memiliki hubungan dengan pendidikan masa kini. Bahkan Universitas Sanata Dharma memiliki berbagai karya dan kajian akademik yang secara khusus membahas pemikiran Driyarkara. Salah satunya adalah buku Membaca Ulang Pemikiran Driyarkara yang memuat pembahasan mengenai pendidikan manusia muda, pendidikan, humanisasi, serta aktualisasi pemikiran Driyarkara di Universitas Sanata Dharma.
Bagi mahasiswa, mengenal Driyarkara seharusnya tidak berhenti pada hafalan mengenai siapa dirinya, tetapi yang lebih penting adalah memahami mengapa pemikirannya itu masih dipertahankan. Sebab, ketika seseorang mengetahui bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, cara memandang kuliah pun dapat berubah.
Warisan yang Tidak Berhenti pada Nama
Driyarkara meninggal pada 11 Februari 1967. Meskipun hidupnya tidak panjang, perjalanan dan pemikirannya meninggalkan pengaruh yang luas dalam bidang pendidikan dan filsafat Indonesia. Ia dikenang sebagai tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap persoalan manusia, pendidikan moral, dan kehidupan bersama.
Yang menarik dari Driyarkara bukan hanya banyaknya jabatan atau gelar akademik yang pernah dimilikinya, tetapi bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan kedudukannya untuk memikirkan manusia dan pendidikan.
Pada akhirnya, sosok Driyarkara mengajarkan bahwa pendidikan seharusnya tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. Sekolah dan universitas memang membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, kurikulum, serta berbagai sistem pembelajaran. Namun, semua itu pada akhirnya tetap ditujukan kepada manusia.
Bagi Sanata Dharma, warisan Driyarkara bukan sekadar sebuah nama yang digunakan untuk gedung atau ruangan. Warisan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang terus relevan, yaitu apakah pendidikan yang kita jalani benar-benar membuat kita menjadi manusia yang baik dan dapat berguna untuk masa depan.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa saat ini. Di tengah persaingan akademik dan tuntutan dunia kerja, seseorang mudah terjebak dalam keharusan mengejar nilai, gelar, dan prestasi. Padahal pendidikan mempunyai tujuan yang lebih luas dari itu. Pendidikan seharusnya dapat membuat orang menjadi individu yang bisa berpikir kritis untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi, saling menghargai orang lain, dan menggunakan kemampuannya untuk sesuatu yang bermanfaat.
Mungkin itulah alasan mengapa pemikiran Driyarkara masih terus dibicarakan di Sanata Dharma. Ia tidak hanya meninggalkan sebuah institusi, tetapi juga meninggalkan cara pandang tentang pendidikan. Pendidikan bukan sekadar proses mengisi kepala dalam pengetahuan, melainkan perjalanan untuk menjadi manusia yang semakin matang.
Driyarkara telah lama tiada, tetapi pertanyaan tentang manusia dan pendidikan yang ia tinggalkan belum selesai. Justru pertanyaan itulah yang membuat sosoknya tetap hidup di tengah dunia pendidikan Indonesia.
Tentang penulis: Novita Din, mahasiswa Universitas Sanata Dharma.
- Penulis: Novita Din
- Editor: Redaksi Mataleza

Luar Biasa sekali
19 September 2026 9:19 pmSepakat
19 September 2026 9:35 pm