Breaking News
light_mode
Trending Tags

Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

  • account_circle Jefrianus Temba
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • visibility 416
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jefrianus Temba

(Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma)

Pendahuluan

Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya perlahan tapi pasti. Kecerdasan buatan (AI) mulai masuk ke dapur dan ruang makan kita. Mulai dari asisten, suara yang memberi resep, aplikasi yang memantau kebiasaan makan, hingga chatbot yang bisa mendeteksi nada bicara, menjadikan AI seperti “tamu yang tak diundang” yang sulit diabaikan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting, bahwa apabila teknologi yang dirancang untuk mengukur dan mengoptimalkan kehidupan ikut hadir di momen-momen pribadi kita, apakah kebersamaan akan berubah? Apakah hubungan kita akan direduksi menjadi sekadar data? Tulisan ini bukan bermaksud menolak kemajuan teknologi, tetapi ingin mengajak kita berpikir kritis, bagaimana kita menempatkan AI dalam ekosistem relasi. Dengan melihat sejarah, sudut pandang sosiologis dan etika, kita akan membahas bagaimana pengukuran bisa berdampak pada kebersamaan, risiko terpecahnya perhatian, dan bagaimana menjaga nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, meja makan akan tetap menjadi ruang manusiawi selama kita tidak memaksakan kehadiran untuk selalu optimal, tapi cukup dijalani dengan tulus.

Meja Makan Sebagai Ruang Sakral: Jejak Antropologi dan Sosiologis

Sebelum membahas AI, kita perlu pahami dulu, mengapa meja makan begitu bermakna. Para antropolog, seperti Mary Douglas dan Clude Levi-Starus, mencatat bahwa makanan dan cara kita memakannya bukan sekadar soal biologis tapi juga simbol yang mengatur tatanan sosial.[1] Meja makan adalah Gambaran kecil dari Masyarakat, di sana, peran dalam keluarga diajarkan, norma kesopanan dilatih, dan nilai kebersamaan dibentuk. Misalnya, tradisi makan besar keluarga, seperti acara peminangan, pernikahan, atau sekadar ngopi bersama dengan tetangga, itu sudah mencerminkan gotong royong, dan keakraban yang tidak dapat dipisahkan dari konteks ruang makan.

Yang istimewa dari interaksi di meja makan adalah sifatnya yang alami dan tidak terstruktur. Percakapan bisa melompat-lompat dari satu topik ke topik yang lain, jeda diam bukan hal yang canggung, dan cerita yang kacau justru bisa jadi lelucon. Sosiolog Erving Goffman, menyebut ini sebagai ritual interaksi yang membangun kepercayaan dan rasa hormat.[2] Kebersamaan di sini tidak butuh target atau ukuran. Ia tumbuh justru karena ketidaksempurnaan, spontanitas, dan kehadiran sepenuh hati. Ketika ruang ini mulai dipenuhi alat yang terus memantau dan mengoreksi alur interaksi, ada risiko bahwa spontanitas itu bisa hilang digantikan oleh performa yang terarah pada hasil yang bisa diukur.

AI di balik Piring: Dari Asisten Dapur hingga Pendengar Virtual

Integrasi AI ke dalam kehidupan domestik telah berlangsung secara bertahap namun pasif. Pada tahun 2020-an AI di meja makan mungkin hanya terbatas pada rekomendasi menyarankan resep, sekarang ada kulkas pintar yang tahu stok makanan, piring pintar yang hitung kalori, sampai asisten suara yang bisa memulai percakapan dengan pertanyaan yang dipersonalisasi oleh algoritma.[3]. Bahkan ada AI pendamping untuk lansia agar tidak kesepian dan ingat minum obat.  Dari sisi manfaat, ini jelas membantu. Keluarga bisa lebih mudah mangatur waktu makan dan nutrisi.

Bagi lansia atau penyandang disabilitas, AI bisa jadi jembatan sosial yang mencegah isolasi. Namun, ada harga yang perlu diperhatikan, yaitu interaksi langsung mulai digantikan oleh mediasi mesin. Ketika AI menawarkan topik obrolan berdasarkan data masa lalu, atau ketika aplikasi mengingatkan “anda sudah 3 hari tidak makan”, interkasi tidak lagi muncul dari hati, tapi dari dorongan system. Ini tidak selalu merusak hubungan, tetapi mengubah sumber inisiatifnya, yaitu dari keinginan alami menjadi dorongan algoritma.

Ilusi Pengukuran: Saat Kebersamaan Jadi Data

Salah satu ciri yang paling mencolok di era digital adalah keinginan untuk mengukur segala hal. Dulu hanya untuk kesehatan, sekarang merambah hubungan. Ada platform yang menyediakan “skor kebersamaan keluarga, presentase waktu layar yang dihabiskan bersama, frekuensi percakapan positif, bahkan analisis perasaan berdasarkan suara[4]. Logikanya sederhana, jika sesuatu bisa diukur, maka ia bisa dikelola dan ditingkatkan. Tetapi logika ini mengabaikan hakikat dasar hubungan manusia yang bersifat kualitatif, tidak linear dan penuh kejutan.

Tulisan ini menunjukan bahwa ketika hubungan interpersonal dijadikan target angka, orang cenderung bertindak hanya demi penampilan.[5] Keluarga mungkin mulai “memenuhi target” makan bersama bukan karena kerinduan, melainkan hanya untuk menjaga skor agar tetap hijau. Percakapan bisa menjadi dangkal karena menghindari topik yang beresiko menurunkan skor positif. Diam yang nyaman diganti dengan obrolan yang dipaksakan. Shoshana Zuboff dalam buknya tentang kapitalisme pengawasan, mengatakan bahwa ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, nilai instrinsiknya bisa tergerus.[6] Kebersamaan yang dikur bukan berarti lebih dalam, ia hanya kebersamaan yang sudah dipindai dan dikotakan, dan ditempatkan dalam kerangka efisien, Padahal, momen yang paling berkesan biasanya justru yang tidak terukur: tawa yang tidak terkendali, cerita yang tersendat, atau diam yang hangat.

Perhatian yang Terpecah dan Memudarnya Empati: Dampak Kognitif dan Sosial

Kehadiran AI di meja makan juga mengubah cara kita mengalami kebersamaan secara sadar. Otak kita punya kepasitas perhatian terbatas dalam memperoses perhatian. Jika perangkat terus memberi notifikasi dan sarana, perhatian kita jadi terpecah. Istilah phubbing (mengabaikan orang demi ponsel) sekarang berkembang menjadi algo-hubbing (perhatian kita tidak hanya teralih pada perangkat tetapi secara halus diarahkan oleh algoritma yang mendahlui kebutuhan manusia).[7]

Dampaknya terhadap empati tidak kecil. Sebuah studi menunjukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lima hari di kamp Pendidikan luar tanpa layar mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca isyarat non-verbal dan empati di bandingkan kelompok kontrol.[8] Temuan ini mengkonfirmasi bahwa kehadiran penuh dan interkasi tatap muka yang tidak termediasi merupakan laboratorium alami untuk kecerdasan emosional. Jika AI selalu menjadi perantra, anak-anak yang terbiasa dengan asisten suara yang sabar mungkin kesulitan menghadapi ketidakpastian atau konflik dengan toleransi terhadap perbedaan, kemampuan mendengar aktif, dan keberanian menunjukan kerentanan bisa perlahan memudar.

Etika, Otonomi, dan Menata Ulang Hubungan Manusia dengan Mesin

Menyadari resiko tersebut, bukan berarti kita menolak AI sepenuhnya. Teknologi adalah alat, dampaknya tergantung pada cara kita menggunakanya. UNESCO dalam pedoman etika AI terbarunya, menekankan bahwa teknologi harus memperkuat, bukan menggantikan kemampuan manusia.[9] Di meja makan, ini berarti AI boleh menjadi pendukung, tetapi kita yang tetap memegang kendali. Beberap langka sederhana yang bisa jadi menarik untuk dipraktekan, yakni: buat zona bebas perangkat saat makan, matikan asisten suara kecuali diminta, dan tolak notifikasi yang mengubah kebersamaanmy jadi tugas. Yang lebih penting, kita perlu literasi digital bukan hanya cara pakai, tetapi juga cara menolak saat teknologi muali menggerus nilai kemanusiaan.

Dari sudut pandang filosofis, AI di meja makan mengajak kita merenung, apa artinya “hadir”. kehadiran bukan sekedar soal fisik atau frekuensi interaksi. “Hadir” adalah kesediaan menjadi rentan, mendengarkan tanpa agenda, dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keutuhan. Algortima bisa menghitung beberapa kali kita makan bersama, tetapi tidak bisa merasakan hangatnya tangan yang menyuapi, atau makna tatapan “aku di sini untuk kamu”. Jika kita biarkan AI mendefinisikan keberhasilan kebersamaan, kita serahkan otoritas kepada mesin, sebaliknya ketika kita memilih untuk sesekali tidak optimal, tidak terukkur, dan tidak efisien, kita justru menegaskan kedaulatan kita sebagai manusia.

Penutup

Meja makan selalu menjadi cermin peradaban. Dulu ia mencerminkan hierarki dan kelimpahan, kini ia mulai mencerminkan bagaimana kita bernegosiasi dengan teknologi. AI yang ikut “duduk” di meja makan bukanlah ancaman mutlak, melainkan ajakan untuk lebih sadar. Ia menguji apakah kitab isa memakai efisiensi tanpa kehilangan esensi, memanfaatkan data tanpa mengubah cinta menjadi grafik, dan merangkul kemajuan tanpa mengorbankan kehadiran. Kebersamaan tidak harus terukur untuk menjadi bermakna. Ia cukup untuk dialami. Di tengah dunia yang terus menuntut optimasi, mari jaga meja makan sebagai ruang perlawanan yang lembut, tempat di mana waktu tidak dihitung, obrolan tidak dipindai, dan kehadiran tidak dinilai. Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukanlah seberapa akurat kita terhubung, melainkan seberapa tulus kita memilih untuk hadir.

 

Sumber Referensi 

Douglas, Mary. 1975. “Deciphering a Meal.” Dalam Implicit Meanings: Essays in Anthropology. London: Routledge.

Goffman, Erving. 1967. Interaction Ritual: Essays on Face-to-Face Behavior. New York: Anchor Books.

Lévi-Strauss, Claude. 1966. “The Culinary Triangle.” Partisan Review 33 (4): 586–595.

Roberts, James A., dan Meredith E. David. 2016. “The Influence of Phubbing on Relationship Satisfaction and Depression.” Computers in Human Behavior 55: 530–539.

Schwartz, Barry. 2004. The Paradox of Choice: Why More Is Less. New York: HarperCollins.

Uhls, Yalda T., dkk. 2014. “Five Days at Outdoor Education Camp Without Screens Improves Preteens’ Skills with Nonverbal Emotion Cues.” Computers in Human Behavior 39: 387–392.

UNESCO. 2021/2024. Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence. Paris: UNESCO Publishing.

World Economic Forum. 2024. The Future of Smart Homes and Domestic AI. Geneva: WEF.

Zuboff, Shoshana. 2019. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. New York: PublicAffairs.

[1] Mary Douglas, Decipherimg a Meal dalam Implicit Meanings: Esay in Anthropology (London: Routledge, 1975)., Hal. 249-251; Clude Levis-Straus, The Culinary Triagle dalam Partisan Review 33, no 4 (1966); Hal. 586.

[2] Erving Goffman, Iteraction Ritual: Essays on Face-to-Face Behavior (New York: Anchor Books, 1967)., Hal. 47-50

[3] Word Economic Forum, The Future of Smart Homes and Domestic AI (Geneva: wef, 2024)., Hal. 18

[4] Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight fo  a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019), Hal. 298

[5] Barry Schwartz, The Paradox of Choise: Why More Is Less (New York: HarperCollins, 2024), Hal. 112

[6] Zuboff, Surveillance Capitalism, Hal. 301

[7] James A. Roberts dan Meredith E. David, “The Influence og Phubbing on Relationship Satisfaction and Depression”, Computer in Human Behavior, 55 (2016), Hal. 530

[8] Yalda T. Uhls et al., “Five at Outdoor Education Camp Without Screens Improves Preteens’ Skills with Nonverbal Emotion Cues,” Computer ini Human Behavior 39 (2014), Hal 387

[9] UNESCO, Recommendation on the Ethics of Artificial Intelegence (Paris: UNESCO Publishing, 2021, direvisi 2024), Pasal 4 & 9

  • Penulis: Jefrianus Temba
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 231
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    Sudut Pandang: KASUS NADIEM: BUKAN AYAM BERKOKOK

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Agustinus Edy Kristanto
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Oleh: Agustinus Edy Kristanto Setelah rekaman ILC yang membahas kasus Nadiem Makarim, saya dan Bang Rocky Gerung (RG) salaman sambil tertawa. Ia bilang sebaiknya saya lebih detail lagi menjelaskan hubungan sebab-akibat. Sebelumnya kami terlibat sedikit debat tentang korelasi temporal dan analogi ayam-matahari. Ada baiknya saya jelaskan begini. Saya bukannya tidak menangkap analogi dimaksud. Tapi saya […]

  • Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    Sudut Pandang: Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S. J: Sosok di Balik Perjalanan Sanata Dharma

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Novita Din
    • visibility 80
    • 2Komentar

    “Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda.” Romo Driyarkara: Dari Pendidik hingga Penjaga Martabat Manusia Nama Romo Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, S.J. tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pendidikan di Indonesia, khususnya Universitas Sanata Dharma. Lahir di Kedunggubah, Purworejo, pada 13 Juni 1893 dengan nama Djentoe, Driyarkara kemudian memilih jalan hidup sebagai imam Jesuit sekaligus pendidik dan […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 277
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 350
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

expand_less