Breaking News
light_mode
Trending Tags

4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

  • account_circle Fian N
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 41
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas.

Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh teman lama. Teman saya ini bernama Dofan. Saat itu saya sedang menulis sebuah naskah yang nantinya akan saya publikasi di platform Medium. Saya penasaran, kenapa tiba-tiba saya ditelepon, video call. Agar rasa penasaran itu terjawab, saya pun menerima panggilan tersebut.

Lami, posisi di mana?

Belum sempat menjawab, Dofan pun langsung arahkan kamera HP ke teman-teman yang lain. Mari, kami lagi di tempat pangkas rambut miliknya Pian So’o. Tanpa menunggu lama, saya memutuskan panggilan video tersebut. Ctrl+S naskah yang masih terbuka lalu matikan laptop. Saya menuju kamar, pamit kepada istri dan ke kios pamit kepada mertua. Teman-teman sudah menunggu. Di luar, hujan rintik-rintik. Saya pun melewati hujan sambil mengendarai sepeda motor.

Tetiba di tempat pangkas rambut, tatapan saya langsung tertuju di atas meja di depan teman-teman. Sebuah kebiasaan kalau lagi ngumpul, ada saja ritualnya, minum moke (jenis alcohol dari pohon nira khas Flores). Ini adalah jenis meinuman persaudaraan yang sering dihidangkan kalau saat jumpa. Seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi.

Saling melemparkan jabat tangan kepada teman-teman yang sudah terlebih dahulu di sana. Tanpa menunggu, saya diberikan satu seloki moke. Panas saat sampai pada kerongkongan. Ya, satu tarikan beres, ditemani cemilan dan daging anj*ng yang diolah khas orang Boawae. Bagaimana, moke enak? Tanya Dofan. Ya, enak. Apalagi gratis dan teman yang beli ni! Jawab saya tanpa basa-basi yang disambut gelak tawa teman-teman. Sedang Pian terus melanjutkan melayani pelanggan yang datang memangkas rambut. Tapi kami ragu, Pian sudah telalu banyak kosumsi moke. Pian meyakinkan kami, aman le, ini tidak seberapa. Di antara kami yang datang ada juga memangkas rambut di tempat pangkasnya Pian. Teman-teman pun tetap membayar sesuai tarifnya. Teman ya teman dan bisnis tetaplah bisnis.

Sloki yang sama terus digilir. Percakapan pun beragam. Memunculkan kembali pengalaman masa SMP yang menyenangkan di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Kehidupan kami di asrama, mengenal cinta monyet, dan apakah ada peluang salah satu dari kami yang memberanikan diri untuk terlibat di dalam dunia politik praktis.

Pa Fian tidak ada rencana mau maju pileg di 2029 nanti ko? Tanya Boy.

Lami e, tidak le. Hidup hanya mo pikir dapur saja. Untuk urus banyak orang, saya belum Makmur ni. Jawab saya singkat saja. Oh ya, Boy ni teman masa SD dan SMP yang saat ini pulang kampung karena kecelakaan yang dialaminya.

Tiba-tiba muncul satu pertanyaan dan pernyataan yang bikin kaget, kenapa belum punya anak? Nikah sudah lama juga tu! Pertanyaan ini ditujukan kepada salah satu teman saya, yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kami pun saling bertatapan, sebenarnya sejak awal ada teman saya yang mau ajukan pertanyaan ini, tetapi dia urungkan niatnya. Kadang, candaan tidak berakhir dengan tawa, ada luka yang mengaga di dalam diri seseorang.

Jawabannya selalu beragam, ya karena kami sudah punya kesepakatan untuk jalani saja seperti ini dulu. Belum berpikir untuk punya anak setelah menikah. Kalau kawin si sudah berulang kali, hahahah. Kami kembali pecah dengan tawa. Sloki sudah digilir sekian kali.

Kepada dua orang teman yang sudah menikah dan punya anak pun mendapatkan pertanyaan horor dari teman yang sama. Rencanan anak kedua ni kapan? Nikah Sudah lama jangan sampai keburu tua, lekas dapat yang kedua sudah. Kami selalu melumuri hal yang horor dengan tawa. soal buat anak itu gampang, yang tidak gampang itu merawat! Kita lelaki ni omong enak semua, harus ada komunikasi dengan istri. Agar pola ASI dan asuh tu berimbang. Jangan hanya istri sendiri yang urus, terus kita yang laki-laki mau enak saja. Saya pun berujar demikian, teman-teman pun mulai dengan jurus andalan menyerang saya, dia punya retorika sudah mulai ke luar ni. Hahahhaha

Bertemu teman seperti bertemu setan. Banyak yang aneh semua. Tidak puas sampai di situ pun muncul pertanyaan. Sekarang kerja di mana? Ini pertanyaan untuk semua kami yang ada di situ, saya teringat akan ucapan Mahfud Ikhwan, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur. Semua kembali fokus pada sloki. Cemilan pun ditambahkan. Pelanggan yang datang pun menyaksikan keheboan kami.

Kami pun terus semangat berbagi cerita. Ada rencana akan dibuatkan kelompok arisan putra. Kelompok arisan ini dikhsuskan kami seangkatan yang putra. Tujuannya adalah agar tetap terjadi tali persaudaraan. Masih saja ada pertanyaan sumbang di tengah-tengah hal serius. Teman-teman yang belum menikah, kira-kira kapan? Jangan sampai teman-teman yang sudah anak sampai tiga begitu baru menikah. Awas Tuhan lepas tangan!

Bangke memang kalau bertemu teman-teman lama. Jujur, itu hal yang paling saya takuti. Saya takut kalau banyak pertanyaan itu yang menimbulkan overthingking yang bisa berujung pada keributan dalam rumah tangga, gangguan psikis dan lain sebagainya. Teman-teman bisa menemukan akibatnya di banyak sumber lainnya.

Akhirnya, ada hal tabu yang tidak boleh diajukan ketika sedang reuni dengan teman-temanmu. Sekali lagi saya ulangi, setiap canda belum tentu berakhir tawa. Bisa jadi ada luka yang timbul dari candaan yang berlebihan.

Di luar masih hujan, di layar hape waktu menunjukan jam 20:12. Saya dan Dofan harus pamit duluan. Kami berdua yang sedang kumpul ini, yang sudah memiliki anak. Usia anaknya Dofan 4 bulan dan usia anak saya 11 bulan. Dofan ke arah Timur pun saya ke Barat. Membelah hujan dan tiba di rumah tepat jam makan malam.

Terima kasih, semoga kita tetap saling menjaga dalam hal hubungan. Kalau teman-teman sedang reunian, apa pertanyaan yang paling sering teman-teman dengar? Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar atau silakan tanggapi melalu sebuah tulisan!

Boawae, 2024

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 316
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 228
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 193
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 295
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 143
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 241
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, β€œkita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

expand_less