Breaking News
light_mode
Trending Tags

4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 149
  • comment 4 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas.

Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh teman lama. Teman saya ini bernama Dofan. Saat itu saya sedang menulis sebuah naskah yang nantinya akan saya publikasi di platform Medium. Saya penasaran, kenapa tiba-tiba saya ditelepon, video call. Agar rasa penasaran itu terjawab, saya pun menerima panggilan tersebut.

Lami, posisi di mana?

Belum sempat menjawab, Dofan pun langsung arahkan kamera HP ke teman-teman yang lain. Mari, kami lagi di tempat pangkas rambut miliknya Pian So’o. Tanpa menunggu lama, saya memutuskan panggilan video tersebut. Ctrl+S naskah yang masih terbuka lalu matikan laptop. Saya menuju kamar, pamit kepada istri dan ke kios pamit kepada mertua. Teman-teman sudah menunggu. Di luar, hujan rintik-rintik. Saya pun melewati hujan sambil mengendarai sepeda motor.

Tetiba di tempat pangkas rambut, tatapan saya langsung tertuju di atas meja di depan teman-teman. Sebuah kebiasaan kalau lagi ngumpul, ada saja ritualnya, minum moke (jenis alcohol dari pohon nira khas Flores). Ini adalah jenis meinuman persaudaraan yang sering dihidangkan kalau saat jumpa. Seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi.

Saling melemparkan jabat tangan kepada teman-teman yang sudah terlebih dahulu di sana. Tanpa menunggu, saya diberikan satu seloki moke. Panas saat sampai pada kerongkongan. Ya, satu tarikan beres, ditemani cemilan dan daging anj*ng yang diolah khas orang Boawae. Bagaimana, moke enak? Tanya Dofan. Ya, enak. Apalagi gratis dan teman yang beli ni! Jawab saya tanpa basa-basi yang disambut gelak tawa teman-teman. Sedang Pian terus melanjutkan melayani pelanggan yang datang memangkas rambut. Tapi kami ragu, Pian sudah telalu banyak kosumsi moke. Pian meyakinkan kami, aman le, ini tidak seberapa. Di antara kami yang datang ada juga memangkas rambut di tempat pangkasnya Pian. Teman-teman pun tetap membayar sesuai tarifnya. Teman ya teman dan bisnis tetaplah bisnis.

Sloki yang sama terus digilir. Percakapan pun beragam. Memunculkan kembali pengalaman masa SMP yang menyenangkan di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Kehidupan kami di asrama, mengenal cinta monyet, dan apakah ada peluang salah satu dari kami yang memberanikan diri untuk terlibat di dalam dunia politik praktis.

Pa Fian tidak ada rencana mau maju pileg di 2029 nanti ko? Tanya Boy.

Lami e, tidak le. Hidup hanya mo pikir dapur saja. Untuk urus banyak orang, saya belum Makmur ni. Jawab saya singkat saja. Oh ya, Boy ni teman masa SD dan SMP yang saat ini pulang kampung karena kecelakaan yang dialaminya.

Tiba-tiba muncul satu pertanyaan dan pernyataan yang bikin kaget, kenapa belum punya anak? Nikah sudah lama juga tu! Pertanyaan ini ditujukan kepada salah satu teman saya, yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kami pun saling bertatapan, sebenarnya sejak awal ada teman saya yang mau ajukan pertanyaan ini, tetapi dia urungkan niatnya. Kadang, candaan tidak berakhir dengan tawa, ada luka yang mengaga di dalam diri seseorang.

Jawabannya selalu beragam, ya karena kami sudah punya kesepakatan untuk jalani saja seperti ini dulu. Belum berpikir untuk punya anak setelah menikah. Kalau kawin si sudah berulang kali, hahahah. Kami kembali pecah dengan tawa. Sloki sudah digilir sekian kali.

Kepada dua orang teman yang sudah menikah dan punya anak pun mendapatkan pertanyaan horor dari teman yang sama. Rencanan anak kedua ni kapan? Nikah Sudah lama jangan sampai keburu tua, lekas dapat yang kedua sudah. Kami selalu melumuri hal yang horor dengan tawa. soal buat anak itu gampang, yang tidak gampang itu merawat! Kita lelaki ni omong enak semua, harus ada komunikasi dengan istri. Agar pola ASI dan asuh tu berimbang. Jangan hanya istri sendiri yang urus, terus kita yang laki-laki mau enak saja. Saya pun berujar demikian, teman-teman pun mulai dengan jurus andalan menyerang saya, dia punya retorika sudah mulai ke luar ni. Hahahhaha

Bertemu teman seperti bertemu setan. Banyak yang aneh semua. Tidak puas sampai di situ pun muncul pertanyaan. Sekarang kerja di mana? Ini pertanyaan untuk semua kami yang ada di situ, saya teringat akan ucapan Mahfud Ikhwan, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur. Semua kembali fokus pada sloki. Cemilan pun ditambahkan. Pelanggan yang datang pun menyaksikan keheboan kami.

Kami pun terus semangat berbagi cerita. Ada rencana akan dibuatkan kelompok arisan putra. Kelompok arisan ini dikhsuskan kami seangkatan yang putra. Tujuannya adalah agar tetap terjadi tali persaudaraan. Masih saja ada pertanyaan sumbang di tengah-tengah hal serius. Teman-teman yang belum menikah, kira-kira kapan? Jangan sampai teman-teman yang sudah anak sampai tiga begitu baru menikah. Awas Tuhan lepas tangan!

Bangke memang kalau bertemu teman-teman lama. Jujur, itu hal yang paling saya takuti. Saya takut kalau banyak pertanyaan itu yang menimbulkan overthingking yang bisa berujung pada keributan dalam rumah tangga, gangguan psikis dan lain sebagainya. Teman-teman bisa menemukan akibatnya di banyak sumber lainnya.

Akhirnya, ada hal tabu yang tidak boleh diajukan ketika sedang reuni dengan teman-temanmu. Sekali lagi saya ulangi, setiap canda belum tentu berakhir tawa. Bisa jadi ada luka yang timbul dari candaan yang berlebihan.

Di luar masih hujan, di layar hape waktu menunjukan jam 20:12. Saya dan Dofan harus pamit duluan. Kami berdua yang sedang kumpul ini, yang sudah memiliki anak. Usia anaknya Dofan 4 bulan dan usia anak saya 11 bulan. Dofan ke arah Timur pun saya ke Barat. Membelah hujan dan tiba di rumah tepat jam makan malam.

Terima kasih, semoga kita tetap saling menjaga dalam hal hubungan. Kalau teman-teman sedang reunian, apa pertanyaan yang paling sering teman-teman dengar? Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar atau silakan tanggapi melalu sebuah tulisan!

Boawae, 2024

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (4)

  • Marlen Lejo

    Kadang pun pertanyaan yang dibalut candaan masih terasa sakit, karena semua candaan terkadang bukan hal lucu untuk orang lain sekali pun teman sendiri 🤭

    Balas20 Mei 2026 1:03 pm
  • Lusia Dee Buro

    Yang sering ditanyakan adalah kesibukan apa yang dilakukan sekarang? 😅

    Balas20 Mei 2026 12:11 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month 14 jam yang lalu
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Menyebut Namamu Aku pernah mencoba mencari celah pada bingkai senyummu Namun yang aku dapat hanyalah rajutan kata yang di bungkus rapi pada wajah cantikmu Itulah alasan pasti mengapa aku tetap di sini menatap langit tanpa henti sembari melantunkan doa di sepertiga malam menyebutkan namamu pada puisiku untuk […]

  • CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 122
    • 2Komentar

    Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, lahir sebuah tim yang sedang menulis kisahnya sendiri. Namanya CPJF Flores (PT. Charon Pokphand Jaya Farm). Usianya memang masih sangat muda, tetapi semangat dan keberaniannya telah membuat banyak orang mulai melirik ke arah mereka. Didirikan pada tahun 2025, CPJF Flores bukan sekadar tim sepak bola yang […]

  • Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    Ketika Kamera Menjadi Mimbar: Kritik atas Kecenderungan Propagandis dalam Film seperti Pesta Babi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle RD. Patris Allegro
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Oleh : RD Patris Allegro   Film seperti Pesta Babi tidak boleh dibaca hanya sebagai dokumenter biasa. Ia bukan sekadar rangkaian gambar tentang tanah, masyarakat adat, babi, hutan, proyek negara, dan luka ekologis. Ia adalah sebuah tindakan penafsiran. Kamera tidak pernah hanya melihat; kamera memilih, memotong, mendekatkan, menjauhkan, memberi sunyi, memberi musik, memberi wajah, lalu […]

expand_less