Breaking News
light_mode
Trending Tags

4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 203
  • comment 4 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas.

Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh teman lama. Teman saya ini bernama Dofan. Saat itu saya sedang menulis sebuah naskah yang nantinya akan saya publikasi di platform Medium. Saya penasaran, kenapa tiba-tiba saya ditelepon, video call. Agar rasa penasaran itu terjawab, saya pun menerima panggilan tersebut.

Lami, posisi di mana?

Belum sempat menjawab, Dofan pun langsung arahkan kamera HP ke teman-teman yang lain. Mari, kami lagi di tempat pangkas rambut miliknya Pian So’o. Tanpa menunggu lama, saya memutuskan panggilan video tersebut. Ctrl+S naskah yang masih terbuka lalu matikan laptop. Saya menuju kamar, pamit kepada istri dan ke kios pamit kepada mertua. Teman-teman sudah menunggu. Di luar, hujan rintik-rintik. Saya pun melewati hujan sambil mengendarai sepeda motor.

Tetiba di tempat pangkas rambut, tatapan saya langsung tertuju di atas meja di depan teman-teman. Sebuah kebiasaan kalau lagi ngumpul, ada saja ritualnya, minum moke (jenis alcohol dari pohon nira khas Flores). Ini adalah jenis meinuman persaudaraan yang sering dihidangkan kalau saat jumpa. Seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi.

Saling melemparkan jabat tangan kepada teman-teman yang sudah terlebih dahulu di sana. Tanpa menunggu, saya diberikan satu seloki moke. Panas saat sampai pada kerongkongan. Ya, satu tarikan beres, ditemani cemilan dan daging anj*ng yang diolah khas orang Boawae. Bagaimana, moke enak? Tanya Dofan. Ya, enak. Apalagi gratis dan teman yang beli ni! Jawab saya tanpa basa-basi yang disambut gelak tawa teman-teman. Sedang Pian terus melanjutkan melayani pelanggan yang datang memangkas rambut. Tapi kami ragu, Pian sudah telalu banyak kosumsi moke. Pian meyakinkan kami, aman le, ini tidak seberapa. Di antara kami yang datang ada juga memangkas rambut di tempat pangkasnya Pian. Teman-teman pun tetap membayar sesuai tarifnya. Teman ya teman dan bisnis tetaplah bisnis.

Sloki yang sama terus digilir. Percakapan pun beragam. Memunculkan kembali pengalaman masa SMP yang menyenangkan di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Kehidupan kami di asrama, mengenal cinta monyet, dan apakah ada peluang salah satu dari kami yang memberanikan diri untuk terlibat di dalam dunia politik praktis.

Pa Fian tidak ada rencana mau maju pileg di 2029 nanti ko? Tanya Boy.

Lami e, tidak le. Hidup hanya mo pikir dapur saja. Untuk urus banyak orang, saya belum Makmur ni. Jawab saya singkat saja. Oh ya, Boy ni teman masa SD dan SMP yang saat ini pulang kampung karena kecelakaan yang dialaminya.

Tiba-tiba muncul satu pertanyaan dan pernyataan yang bikin kaget, kenapa belum punya anak? Nikah sudah lama juga tu! Pertanyaan ini ditujukan kepada salah satu teman saya, yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kami pun saling bertatapan, sebenarnya sejak awal ada teman saya yang mau ajukan pertanyaan ini, tetapi dia urungkan niatnya. Kadang, candaan tidak berakhir dengan tawa, ada luka yang mengaga di dalam diri seseorang.

Jawabannya selalu beragam, ya karena kami sudah punya kesepakatan untuk jalani saja seperti ini dulu. Belum berpikir untuk punya anak setelah menikah. Kalau kawin si sudah berulang kali, hahahah. Kami kembali pecah dengan tawa. Sloki sudah digilir sekian kali.

Kepada dua orang teman yang sudah menikah dan punya anak pun mendapatkan pertanyaan horor dari teman yang sama. Rencanan anak kedua ni kapan? Nikah Sudah lama jangan sampai keburu tua, lekas dapat yang kedua sudah. Kami selalu melumuri hal yang horor dengan tawa. soal buat anak itu gampang, yang tidak gampang itu merawat! Kita lelaki ni omong enak semua, harus ada komunikasi dengan istri. Agar pola ASI dan asuh tu berimbang. Jangan hanya istri sendiri yang urus, terus kita yang laki-laki mau enak saja. Saya pun berujar demikian, teman-teman pun mulai dengan jurus andalan menyerang saya, dia punya retorika sudah mulai ke luar ni. Hahahhaha

Bertemu teman seperti bertemu setan. Banyak yang aneh semua. Tidak puas sampai di situ pun muncul pertanyaan. Sekarang kerja di mana? Ini pertanyaan untuk semua kami yang ada di situ, saya teringat akan ucapan Mahfud Ikhwan, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur. Semua kembali fokus pada sloki. Cemilan pun ditambahkan. Pelanggan yang datang pun menyaksikan keheboan kami.

Kami pun terus semangat berbagi cerita. Ada rencana akan dibuatkan kelompok arisan putra. Kelompok arisan ini dikhsuskan kami seangkatan yang putra. Tujuannya adalah agar tetap terjadi tali persaudaraan. Masih saja ada pertanyaan sumbang di tengah-tengah hal serius. Teman-teman yang belum menikah, kira-kira kapan? Jangan sampai teman-teman yang sudah anak sampai tiga begitu baru menikah. Awas Tuhan lepas tangan!

Bangke memang kalau bertemu teman-teman lama. Jujur, itu hal yang paling saya takuti. Saya takut kalau banyak pertanyaan itu yang menimbulkan overthingking yang bisa berujung pada keributan dalam rumah tangga, gangguan psikis dan lain sebagainya. Teman-teman bisa menemukan akibatnya di banyak sumber lainnya.

Akhirnya, ada hal tabu yang tidak boleh diajukan ketika sedang reuni dengan teman-temanmu. Sekali lagi saya ulangi, setiap canda belum tentu berakhir tawa. Bisa jadi ada luka yang timbul dari candaan yang berlebihan.

Di luar masih hujan, di layar hape waktu menunjukan jam 20:12. Saya dan Dofan harus pamit duluan. Kami berdua yang sedang kumpul ini, yang sudah memiliki anak. Usia anaknya Dofan 4 bulan dan usia anak saya 11 bulan. Dofan ke arah Timur pun saya ke Barat. Membelah hujan dan tiba di rumah tepat jam makan malam.

Terima kasih, semoga kita tetap saling menjaga dalam hal hubungan. Kalau teman-teman sedang reunian, apa pertanyaan yang paling sering teman-teman dengar? Silakan tinggalkan jejak di kolom komentar atau silakan tanggapi melalu sebuah tulisan!

Boawae, 2024

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (4)

  • Marlen Lejo

    Kadang pun pertanyaan yang dibalut candaan masih terasa sakit, karena semua candaan terkadang bukan hal lucu untuk orang lain sekali pun teman sendiri 🤭

    Balas20 Mei 2026 1:03 pm
  • Lusia Dee Buro

    Yang sering ditanyakan adalah kesibukan apa yang dilakukan sekarang? 😅

    Balas20 Mei 2026 12:11 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 1.021
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 274
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

expand_less