Panggung Terakhir di Tanjung Lesung: Memori Kolektif Tsunami Selat Sunda 2018 melalui Tragedi Band Seventeen
- account_circle Felisitas Tri Wulandari
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Felisitas Tri Wulandari. Pendidikan Sejarah
Pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, Pantai Tanjung Lesung di Banten sedang ramai. Di atas panggung yang berdiri sangat dekat dengan laut, Seventeen, salah satu band papan atas Indonesia, tampil di acara yang diadakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Penonton menikmati lagu demi lagu. Sekitar pukul 21.30 WIB, saat band baru membawakan lagu kedua, air pasang menyapu panggung. Tidak ada sirene dan tidak ada peringatan. Di tengah laut, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan memicu gelombang yang menghantam pantai di sekitarnya.
Dalam hitungan menit, tempat hiburan itu berubah menjadi tempat duka. Delapan tahun kemudian, banyak orang masih mengingat malam itu. Namun apa sebenarnya yang kita ingat? Bagi banyak orang, jawabannya hanya satu nama, yaitu Seventeen. Tulisan ini mencoba melihat lebih jauh dari itu.yang ingin dibahas bukan hanya apa yang terjadi, tetapi mengapa kita mengingatnya dengan cara seperti ini dan siapa yang tertinggal dari ingatan tersebut. Argumen saya sederhana. Ingatan publik tentang bencana tidak ditentukan oleh besarnya korban, melainkan oleh siapa yang punya panggung untuk dikenang.
Ingatan yang Dibentuk
Para ahli yang meneliti ingatan bersama sudah lama mengingatkan bahwa ingatan tidak muncul begitu saja. Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs, yang memperkenalkan istilah memori kolektif, menjelaskan bahwa kita mengingat sebagai bagian dari kelompok. Apa yang dianggap penting, siapa yang disebut, dan bagaimana cerita disusun semuanya dipengaruhi lingkungan sosial. Karena itu, bertanya “apa yang terjadi” saja tidak cukup. Kita juga perlu bertanya bagaimana peristiwa itu diingat dan siapa yang menentukan apa yang boleh diingat. Dengan cara pandang ini, tragedi di Tanjung Lesung menjadi menarik. Peristiwanya hanya satu, tetapi cara mengingatnya ada beberapa.
Panggung yang Menjadi Cerita
Tragedi Seventeen mudah diceritakan. Tempatnya jelas, ada lagu yang sedang dinyanyikan, dan tokohnya sudah dikenal publik. Tidak heran jika pemberitaan langsung menyorotnya.
Pembingkaian itu terlihat sejak hari pertama. Pada 23 Desember 2018, sehari setelah kejadian, BBC News Indonesia menerbitkan laporan yang judulnya menonjolkan band ini. Disebutkan bahwa sang basis, M Awal Purbani, dan road manager, Oki Wijaya, meninggal dunia, sementara sebagian pemain dan kru belum ditemukan. Kronologinya bersumber dari pernyataan resmi manajemen band. Di media sosial, tagar #seventeen menjadi salah satu yang banyak dipakai, berdampingan dengan tagar yang menyebut wilayahnya seperti #prayforanyer dan #selatsunda. Pernyataan sang vokalis, Ifan ditonton lebih dari 750 ribu kali.
Pernyataan manajemen itu memperlihatkan betapa dekatnya peristiwa tersebut dengan mereka. Mereka menulis bahwa air pasang “menyeret seluruh orang yang ada di lokasi”, dan ketika arus surut, sebagian anggota “tidak menemukan tempat berpegangan”. Dalam pernyataan yang sama, mereka meminta agar orang orang tidak menyebarkan foto di lokasi. Namun video panggung yang diterjang ombak sudah lebih dulu viral, dan satu cuitan yang memuatnya dibagikan lebih dari 4.000 kali. Ingatan tentang tragedi ini ternyata tidak sepenuhnya dikendalikan oleh orang yang mengalaminya. Begitu masuk ke media sosial, ia menjadi milik publik.
Bencana alam itu luas dan sulit dibayangkan. Ada gunung berapi, longsor di dasar laut, dan gelombang yang datang tanpa tanda. Kisah satu band jauh lebih mudah dirasakan. Kita tidak perlu paham ilmu kegunungapian untuk merasa kehilangan ketika sebuah lagu terhenti ditengah jalan. Cerita tentang orang yang kita kenal menjadi pintu masuk, dan pintu itu hampir selalu dibuka oleh nama yang sudah akrab di telinga.
Siapa yang Mengingat dan Bagaimana Ingatan itu Diwariskan
Dari arsip yang bisa dibaca, ingatan ini dirawat oleh tiga pihak. Pertama, keluarga dan rekan sesama musisi yang menyimpannya sebagai kehilangan pribadi. Kedua, publik dan penggemar yang ikut berduka dan menyebarkan kabar lewat media sosial. Ketiga, media sosial yang menyimpannya dalam arsip berita, sehingga mudah ditemukan oleh siapa pun yang mengetik nama band itu di mesin pencarian.
Ingatan ini diwariskan lewat jalur yang sama, yaitu berita, unggahan, dan kesaksian orang yang selamat. Ketiganya bergantung pada perhatian orang banyak. Selama orang masih peduli pada band itu, ceritanya akan terus hidup. Perhatian itu seperti api kecil yang harus terus ditiup, dan kita cenderung hanya meniupnya untuk cerita yang terasa dekat.
Yang tidak Terdengar
Lalu bagaimana dengan orang lain yang berada di pantai yang sama malam itu?
Rilis awal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 23 Desember 2018 memperlihatkan wajah lain dari peristiwa ini. Korban dicatat menurut wilayah. Kabupatan Pandeglang menjadi daerah yang paling parah, dengan puluhan korban meninggal dan ratusan luka luka di pantai seperti Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang, dan Carita. Banyak wisatawan sedang berlibur di kawasan itu. Ratusan rumah, sembilan hotel, dan sepuluh kapal rusak berat. Lampung Selatan dan Serang juga terdampak.
Itu baru data sementara. Menurut catatan yang dihimpun kemudian, tsunami ini menewaskan 426 orang dan melukai sekitar 14 ribu lainnya. Peristiwa ini juga disebut sebagai tsunami vulkanik paling mematikan di Indonesia sejak letusan Krakatau pada 1883. Artinya, dari ratusan orang yang meninggal, hanya sebagian kecil yang namanya dikenal publik.
Saya perlu jujur soal batas tulisan ini. Dengan sumber yang saya pegang, Saya hanya bisa menunjukkan bahwa kisah para korban lain jarang muncul di ruang publik. Saya tidak bisa menyebut nama atau cerita mereka satu persatu. Tetapi justru di situlah masalahnya. Ketika kita mencari kisah mereka dan hanya menemukan angka, kita sedang melihat ketimpangan ingatan itu dengan mata sendiri. Ini tidak berarti duka bagi Seventeen tidak penting. Kehilangan itu nyata, dan keluarga mereka berhak dikenang. Persoalannya ada pada ketimpangan. Ruang ingatan publik terbatas. Ketika satu kisah mengisi hampir seluruh ruang itu, kisah lain tersingkir tanpa ada yang sengaja menyingkirkannya.
Dua Cara Mencatat, Dua Macam Ingatan
Membandingkan laporan media dengan rilis BNPB memperlihatkan dua cara mencatat peristiwa yang sama. Negara lewat BNPB mencatat korban sebagai angka per kabupaten. Tujuannya jelas, yaitu menangani keadaan darurat, mengirim bantuan, dan memantau kerusakan. Media mencatat korban sebagai nama dan wajah, dengan tujuan lain yaitu menyentuh pembaca dan menyampaikan kisah.
Keduanya sah, dan keduanya punya kekurangan. Angka tidak menyentuh perasaan, tetapi ia mencangkup semua orang. Nama menyentuh perasaan, tetapi ia hanya menjangkau yang sudah terkenal. Jika kita hanya memegang angka, korban kehilangan wajahnya. Jika kita hanya memegang nama, sebagian besar korban kehilangan tempatnya dalam cerita.
Tempat yang Menyimpan Ingatan
Ada satu hal lagi yang membuat peristiwa ini layak dipikirkan sebagai ingatan tempat. Sejarawan Prancis Pierre Nora menyebut tempat yang menyimpan ingatan bersama, seperti monumen, museum, atau lokasi tragedi, sebagai lieux de memoire. Pantai Tanjung lesung kini membawa dua lapis ingatan sekaligus, yaitu sebagai tempat wisata dan sebagai tempat tragedi. Panggung yang dulu sekedar tempat bermusik kini menjadi penanda.
Pulau yang menjadi sumber gelombang itu pun punya sejarah panjang. Anak Krakatau tumbuh di bekas kaldera Krakatau, yang meletus dahsyat pada 1883. Dulu dunia mengingat Krakatau lewat laporan para ilmuwan. Kini kita mengingat anak Krakatau lewat cuitan dan berita tentang sebuah band. Caranya berubah, tetapi pertanyaannya tetap sama. Kisah siapa yang diceritakan, dan kisah siapa yang tinggal sebagai angka?
Mengapa ini Penting
Cara kita mengingat bencana mempengaruhi cara kita menghadapi bencana berikutnya. Kalau yang tertinggal di kepala hanya kita satu panggung, kita mudah lupa bahwa kerentanan pesisir selat Sunda dialami banyak orang yang tidak pernah naik panggung. Kita juga mudah lupa bahwa tidak adanya peringatan dini malam itu bukan hanya masalah satu band, melainkan masalah semua orang yang berada di pantai. Mengingat dengan adil berarti bertanya siapa lagi yang ada di sana malam itu.
Sejarah tidak hanya menyimpan apa yang terjadi, tetapi juga apa yang kita pilih untuk diingat. Panggung di Tanjung lesung pantas dikenang dengan dua cara sekaligus. Ia adalah tempat sebuah band kehilangan anggotanya, dan ia juga pintu untuk mengingat semua orang yang malam itu ada di pantai tetapi tidak sempat masuk berita. Mengenang yang terkenal itu wajar. yang berbahaya adalah ketika kita berhenti di sana.
- Penulis: Felisitas Tri Wulandari
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar