Breaking News
light_mode
Trending Tags

Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • visibility 169
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada dua hal yang sulit saya lakukan belakangan ini: bangun pagi dan percaya bahwa alarm benar-benar punya niat baik kepada manusia. Udara sedang dingin-dinginnya. Selimut terasa seperti kontrak seumur hidup yang tidak boleh diputus sepihak. Namun, sejak babak 32 besar Piala Dunia dimulai, semua prinsip hidup itu mendadak gugur.

Saya rela bangun pukul tiga dini hari. Bukan karena sedang menjadi pribadi religius yang rajin bangun sebelum fajar, melainkan karena ada dua tim yang membuat kantuk kehilangan martabatnya: Spanyol dan Argentina.

Pagi tadi giliran Argentina menghadapi Inggris. Banyak orang mengira pertandingan ini adalah duel sebelas lawan sebelas. Padahal, kenyataannya lebih sederhana sekaligus lebih lucu. Ini adalah pertandingan Lionel Messi melawan hampir seluruh pemain Inggris.

Sejak peluit pertama dibunyikan, Messi diperlakukan bukan sebagai seorang pemain sepak bola, melainkan sebagai pusat gravitasi. Ke mana ia bergerak, empat sampai lima pemain Inggris ikut bergeser. Kalau Messi berjalan ke kanan, mereka ikut ke kanan. Kalau ia turun menjemput bola, mereka ikut turun. Rasanya tinggal menunggu saja kapan salah satu pemain Inggris ikut duduk kalau Messi memutuskan beristirahat sejenak.

Saya membayangkan Tuchel mungkin berkata sebelum pertandingan, “Jangan biarkan Messi bernapas.”

Masalahnya, ketika terlalu sibuk menghitung napas Messi, Inggris lupa menghitung pemain Argentina yang lain.

Babak pertama berjalan keras. Intensitas pertandingan langsung tinggi. Pelanggaran demi pelanggaran membuat wasit bekerja lebih keras daripada komentator yang harus mencari kata-kata baru selain “pelanggaran taktis”. Tidak ada gol tercipta. Kedua tim masih saling mengukur, saling mengintip celah, sambil berharap lawan lebih dulu melakukan kesalahan.

Memasuki babak kedua, Inggris akhirnya memecah kebuntuan. Sebuah serangan cepat berhasil diselesaikan Gordon menjadi gol pada menit ke-55. Stadion bergemuruh. Para pendukung Inggris mulai membayangkan tiket menuju final.

Lalu datanglah keputusan yang, menurut saya, terlalu cepat lahir dari rasa takut. Tidak lama setelah hydration break, Gordon ditarik keluar dan diganti pemain bertahan. Skor memang masih 1-0, tetapi Inggris seolah memutuskan bahwa pertandingan sudah selesai.

Padahal, ada satu aturan tidak tertulis dalam sepak bola: jangan pernah menganggap pertandingan selesai selama Messi masih berada di lapangan.

Scaloni membaca situasi dengan tenang. Ia tidak panik. Justru karena Messi sudah menjadi titik kumpul seluruh pemain Inggris, ruang kosong bermunculan di tempat lain. Argentina tinggal membutuhkan kaki-kaki segar untuk memasuki ruang yang mulai ditinggalkan itu.

Pergantian pemain pun dilakukan. Tenaga baru masuk. Ritme permainan berubah. Serangan Argentina menjadi lebih hidup. Bola tidak lagi harus selalu berakhir di kaki Messi. Justru karena semua mata terus tertuju kepadanya, pemain lain memperoleh kemewahan yang jarang dimiliki di pertandingan besar: ruang.

Gol penyama akhirnya lahir melalui Enzo Fernández. Setelah beberapa kali mencoba menembak dari luar kotak penalti, percobaan berikutnya akhirnya bersarang di gawang Inggris. Umpan Messi dari sisi kanan kembali menunjukkan bahwa visi bermain kadang lebih mematikan daripada kecepatan berlari.

Skor berubah menjadi 1-1. Di pinggir lapangan, Scaloni tetap tenang seperti orang yang sudah tahu akhir cerita. Sebaliknya, Tuchel mulai kehilangan ketenangan. Ia buru-buru memasukkan pemain yang lebih menyerang, mencoba merebut kembali momentum yang perlahan berpindah kubu.

Namun, momentum dalam sepak bola sering kali punya selera humor. Belum lama Inggris menata ulang permainan, Lautaro Martínez justru mencetak gol kedua Argentina. Lagi-lagi Messi menjadi arsitek yang tidak terlalu tertarik mencetak gol sendiri. Ia cukup menggeser bola ke ruang yang benar, lalu membiarkan rekan setim menyelesaikan pekerjaan.

Messi memang tidak selalu harus menjadi pencetak gol agar menjadi pemain terbaik di lapangan. Kadang ia cukup membuat seluruh pertahanan lawan kehilangan orientasi. Dan pagi itu, Inggris tampak seperti sekelompok orang yang terlalu sibuk mengejar bayangan hingga lupa menjaga pintu rumahnya sendiri.

Peluit panjang akhirnya berbunyi. Argentina menang 2-1 dan melaju ke final untuk menemani Spanyol.

Pertandingan ini sekali lagi mengajarkan bahwa Messi bukan sekadar pemain yang harus dijaga. Ia adalah gangguan sistem. Kehadirannya memaksa lawan mengubah struktur, mengorbankan posisi, bahkan mengubah cara berpikir sepanjang pertandingan.

Ironisnya, semakin banyak pemain Inggris berkumpul mengelilingi Messi, semakin besar ruang yang mereka tinggalkan untuk pemain Argentina lainnya.

Dan mungkin, di situlah letak kejeniusan terbesar Lionel Messi. Ia tidak selalu menjadi pusat permainan karena terus memegang bola.

Kadang ia menjadi pusat permainan hanya karena semua orang terlalu sibuk menjaganya.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 193
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Meremehkan PSN Ngada di Babak 8 Besar adalah Kesalahan Sejarah

    Meremehkan PSN Ngada di Babak 8 Besar adalah Kesalahan Sejarah

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Keberhasilan PSN Ngada menahan imbang Persibangga Purbalingga dengan skor 1:1, sekaligus memastikan tiket lolos ke babak 8 besar, merupakan penegasan tentang identitas asli Laskar Jaramasi. Mereka adalah tim dengan mentalitas baja yang menolak menyerah sebelum peluit panjang berbunyi. Hasil ini sekaligus menggagalkan upaya Persibangga untuk mengambil alih posisi puncak klasemen dari genggaman PSN Ngada. Mencetak […]

  • DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Viktoria Eyen
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Oleh: Viktoria Eyen Npm:25201043 Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan Indonesia hari ini menghadapi masalah kencing manis atau diabetes sangat mengkhawatirkan , apakah anda pernah melihat antrian di gerai minuman kekinian manapun di kota-kota besar pada siang hari. Hampir pasti yang mengantri didominasi anak muda, pelajar, mahasiswa dan pekerja muda yang rela menunggu belasan menit demi […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 381
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

expand_less