Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

  • account_circle Alvarez Keupung
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 159
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.

 

TIGA RINDU

Rindu ini tiba – tiba datang
Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam
Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi
Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun
Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun

Rindu ini pun tiba – tiba bersua
Untuk ibu, aku begitu gelisah pada kata miliknya tak bersahutan lagi
Diamnya kali ini begitu lengang melewati hari-hari yang masih berdetak
Tak lagi bersuara seperti yang sudah-sudah
Ibu, biarkan aku sejenak bertanya: alamat mana kita nanti berjumpa ?

Rindu ini pun tiba lagi
Untukmu kakanda, aku hanya ingin memastikan apakah senyum itu masih ada
Entah mengapa sepiku begitu menusuk
Tak ada lagi cerita dan diskusi kita yang begitu mengalir
Kanda, peluk rinduku erat-erat
Agar tak pernah jadi luka abadi yang kutanggung sendiri

Bagimu semua, tiga rindu ini adalah doa yang menggetarkan mata batin Tuhan kita.

Ende, 8 Mei 2026.

ROH

Kalau engkau adalah angin
Berhembuslah saja dengan sepoimu

Kalau engkau adalah api
Menyalahlah saja dengan hangatmu

Kalau engkau adalah merpati
Kepaklah saja dengan sayapmu

Datanglah mengunjungi jiwaku yang bertepi
Tempat merangkul segala darimu.

Ende, 8 Mei 2026.

MENULIS DIRI

Aku tak mau gelisah membeku di ujung sukma
Maka yang semula adalah kata kutulis di sini
Tentang aku : “yang adalah apa yang aku pikirkan”

Mula-mula aku menulis diri di atas helai hati sendiri
Kemudian berjumpa dengan apa yang paling abadi, yang namanya waktu

Aku memburu sepi di ruang-ruang keramaian
Membahasakan tubuhku, membahasakan jiwaku, membahasakan rasaku, membahasakan kehendakku, membahasakan adaku

Sesudah menjelajahi segala dengan kata
Lalu kualamatkan kepada lubuk semesta:
Puisi ini seibarat keromantisan yang paling intim
Lebih mahal dari mentari yang dirindui pada musim hujan.

Ende, 8 Mei 2026.

JEJAK

Tuhan,
Aku bingung di sini
Pada gelapnya hidup ini

Ingin kutuntun diriku
Dengan rupa-rupa langkah, entah berapa hitungan

Jawablah saja Tuhan
Dengan cahaya manakah aku pastikan ada yang sebegitu dekat menemaniku

Mungkinkah Kau, tak berkesudahan menggendong jejakku dalam segala kegembiraanku, pun dalam segala sedihku.

Ende, 8 Mei 2026.

SEPI YANG BERISIK

Angin datang sepagi ini
Merayu dedaunan untuk bercinta sejenak
Mungkin sekadar canda
Agar datangnya tidak sia-sia

Sepi ini pun menjelma berisik
Entahlah mau berkabar kepada siapa
Sedang di balik jendela, aku melihat dedaunan “berdansa” merayakan pesta cinta

Aku pun tak seberuntung mujur
Sepi ini sebegitu berisik.

Ende, 8 Mei 2026.

  • Penulis: Alvarez Keupung
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 128
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Noyaldista Lisan
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Oleh: Noyaldista Lisan Npm : 25201051 Kelas:2025B Program Studi: Keperawatan   Kesehatan reproduksi wanita merupakan salah satu aspek penting yang sering kali belum mendapatkan perhatian yang memadai di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seorang wanita untuk memiliki keturunan, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berhubungan dengan sistem reproduksi. […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 149
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 231
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. β€œIni adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

expand_less