Breaking News
light_mode
Trending Tags

PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

  • account_circle Gregorius Nggadung
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 391
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERJAMUAN MALAM

Tak ada yang kau siapkan lagi

Selain roti tawar yang disiram dan mekar

Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan

Meredam di atas tumpukan buku

Lelap di pangkuan tanganmu

 

Kau tak perlu datang lagi malam ini

Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini

Di bawah meja perjamuan

Kukibarkan kata-kata

Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang

dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit

 

TERIAKAN HUJAN

Crak…crak…crak

Tak seperti musim lalu

Ia menulis petang di atas dedaunan

Kini, ia menggulung payung di bukit itu

Pelan-pelan melipat dingin

 

Crak…crak…crak… lagi

Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam

Kau pun teriak lagi

Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu

 

Crak…crak…crak

Kau pulang membawa kafan petang

 

DIKTAT DI MEJA MAKAN

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Catatan ini menggores mangkuk putih itu

Lalu mengendap di samping ruang tamu

Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup

 

“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”

Tidurmu tak akan lelap

Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan

Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan

 

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan

 

KU KALUNGKAN LAGI

Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu

Telinga lebih sekadar jendela

Membuka dan tutup setelah hujan pulang

Aku ingin mengalungimu lagi

Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu

 

Kau pun datang lagi pagi ini

Membawa sepotong kain

Lalu meltakannya di atas kelopak mataku

Kau pun sedekat ini

Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu

 

JEJAK DOA-DOA

Kau di antara cahaya lilin

Menimang di bawah dedaunan

Seakan doa itu sedang singah

Kau pun menengadah

 

Tak kau hiraukan lagi

Angin berlarian menepis ujung rambutmu

Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu

sambil melipat rintik hujan malam itu

 

 

HARI PERTAMA

Kau menulis surat itu lagi

Tak bisa kau hapus lagi

Tinta hitam itu telah kau tabur

Sesekali tersembunyi di balik firasatmu

 

Mengapa kamu menulis lagi?

Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?

Kau hanya bisa berdebat

Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku

Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.

  • Penulis: Gregorius Nggadung
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 119
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

expand_less