PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG
- account_circle Gregorius Nggadung
- calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
- visibility 288
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PERJAMUAN MALAM
Tak ada yang kau siapkan lagi
Selain roti tawar yang disiram dan mekar
Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan
Meredam di atas tumpukan buku
Lelap di pangkuan tanganmu
Kau tak perlu datang lagi malam ini
Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini
Di bawah meja perjamuan
Kukibarkan kata-kata
Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang
dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit
TERIAKAN HUJAN
Crak…crak…crak
Tak seperti musim lalu
Ia menulis petang di atas dedaunan
Kini, ia menggulung payung di bukit itu
Pelan-pelan melipat dingin
Crak…crak…crak… lagi
Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam
Kau pun teriak lagi
Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu
Crak…crak…crak
Kau pulang membawa kafan petang
DIKTAT DI MEJA MAKAN
“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”
“Bicaralah secukupnya”
Catatan ini menggores mangkuk putih itu
Lalu mengendap di samping ruang tamu
Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup
“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”
Tidurmu tak akan lelap
Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan
Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan
“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”
“Bicaralah secukupnya”
Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan
KU KALUNGKAN LAGI
Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu
Telinga lebih sekadar jendela
Membuka dan tutup setelah hujan pulang
Aku ingin mengalungimu lagi
Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu
Kau pun datang lagi pagi ini
Membawa sepotong kain
Lalu meltakannya di atas kelopak mataku
Kau pun sedekat ini
Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu
JEJAK DOA-DOA
Kau di antara cahaya lilin
Menimang di bawah dedaunan
Seakan doa itu sedang singah
Kau pun menengadah
Tak kau hiraukan lagi
Angin berlarian menepis ujung rambutmu
Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu
sambil melipat rintik hujan malam itu
HARI PERTAMA
Kau menulis surat itu lagi
Tak bisa kau hapus lagi
Tinta hitam itu telah kau tabur
Sesekali tersembunyi di balik firasatmu
Mengapa kamu menulis lagi?
Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?
Kau hanya bisa berdebat
Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku
Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.
- Penulis: Gregorius Nggadung
- Editor: Fian N

Luar biasa puisi-puisinya bung Onsi👏👏
10 April 2026 1:28 pmMakasih, kaka
22 April 2026 12:18 pm