Breaking News
light_mode
Trending Tags

PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

  • account_circle Gregorius Nggadung
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 557
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERJAMUAN MALAM

Tak ada yang kau siapkan lagi

Selain roti tawar yang disiram dan mekar

Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan

Meredam di atas tumpukan buku

Lelap di pangkuan tanganmu

 

Kau tak perlu datang lagi malam ini

Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini

Di bawah meja perjamuan

Kukibarkan kata-kata

Sehingga tak ada tulang-tulang yang terbuang

dan tak kau temukan lagi mangkuk nasi yang terhimpit

 

TERIAKAN HUJAN

Crak…crak…crak

Tak seperti musim lalu

Ia menulis petang di atas dedaunan

Kini, ia menggulung payung di bukit itu

Pelan-pelan melipat dingin

 

Crak…crak…crak… lagi

Kau melipat tawa itu ke dalam kelam malam

Kau pun teriak lagi

Tak kau hiraukan tawa anak-anak itu

 

Crak…crak…crak

Kau pulang membawa kafan petang

 

DIKTAT DI MEJA MAKAN

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Catatan ini menggores mangkuk putih itu

Lalu mengendap di samping ruang tamu

Sambil menikmati nyanyian pelita yang mulai redup

 

“Janganlah kau bersiul setelah malam tiba”

Tidurmu tak akan lelap

Kau dihasuti dan ditakut-takuti dalam kegelapan

Tidurlah sambil merenung diktat di meja makan

 

“Jangan pernah kau mengambil lebih dari tiga kali”

“Bicaralah secukupnya”

Diktat di meja makan adalah doa sebelum dan setelah makan

 

KU KALUNGKAN LAGI

Tak seperti kata-kata yang kau hunuskan itu

Telinga lebih sekadar jendela

Membuka dan tutup setelah hujan pulang

Aku ingin mengalungimu lagi

Setelah bulan mekar di atas bukit gelap itu

 

Kau pun datang lagi pagi ini

Membawa sepotong kain

Lalu meltakannya di atas kelopak mataku

Kau pun sedekat ini

Ku kalungkan bibirku di dalam hatimu

 

JEJAK DOA-DOA

Kau di antara cahaya lilin

Menimang di bawah dedaunan

Seakan doa itu sedang singah

Kau pun menengadah

 

Tak kau hiraukan lagi

Angin berlarian menepis ujung rambutmu

Sesekali menyentuh sepasang lilin di depan matamu

sambil melipat rintik hujan malam itu

 

 

HARI PERTAMA

Kau menulis surat itu lagi

Tak bisa kau hapus lagi

Tinta hitam itu telah kau tabur

Sesekali tersembunyi di balik firasatmu

 

Mengapa kamu menulis lagi?

Bukankah kau tak akan pernah menjadi penulis?

Kau hanya bisa berdebat

Sampai-sampai suaramu melekat di telingaku

Dan gugup bibirmu selalu bersandar di mataku.

  • Penulis: Gregorius Nggadung
  • Editor: Fian N

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

  • Ruang Rasa: Banggalah Pada Dirimu Sendiri

    Ruang Rasa: Banggalah Pada Dirimu Sendiri

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Banggalah pada dirimu sendiri bukan karena hidupmu sempurna. Bukan karena semua yang kamu inginkan akhirnya menjadi milikmu. Dan bukan pula karena kamu selalu kuat. Banggalah karena, setelah sekian banyak hal yang hampir membuatmu menyerah, kamu masih memilih untuk melanjutkan hidup. Ada banyak hal dalam perjalananmu yang tidak pernah diketahui orang lain. Tentang malam-malam ketika pikiranmu […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya.    Oleh: Maria Desan Viktoria Aso   Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

  • Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Felisitas Tri Wulandari
    • visibility 152
    • 6Komentar

    Oleh: Felisitas Tri Wulandari (Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma) Pukul enam pagi, ketika sebagian orang di kampung kami belum bangun sepenuhnya dari tidur, seorang lelaki paruh baya sudah memanggul karung jagung menuju tempat penggilingan. Keringat membasahi punggungnya jauh sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia akan terus begitu sampai matahari benar benar tenggelam di ufuk barat, dua […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

expand_less