Breaking News
light_mode
Trending Tags

π—‘π—’π—©π—˜π—Ÿ 𝗠𝗔𝗛𝗔π—₯ π—šπ—”π——π—œπ—‘π—š π—§π—˜π—Ÿπ—”π—› π—§π—˜π—₯π—•π—œπ—§, π—£π—œπ—’π—‘ π—₯π—”π—§π—¨π—Ÿπ—’π—Ÿπ—Ÿπ—¬ π—¨π—¦π—¨π—‘π—š 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 π—•π—˜π—Ÿπ—œπ—¦ π—Ÿπ—”π— π—”π—›π—’π—Ÿπ—’π—§

  • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir.

Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang bertubi-tubi.

Novel setebal 410 halaman ini tidak hanya berisi kisah romantisme. Tapi juga berisi pengetahuan tentang sistem perkawinan di Lamaholot, khususnya mahar gadis Lamaholot berupa gading. Selain itu, ada juga sejarah kemunculan gading sebagai mahar. Serta, nilai-nilai moral di balik gading sebagai mahar. Ada juga tentang dampak positif dan negatif mahar gading terhadap pasangan suami istri pasca menikah.

Agnetis Da Noa, seorang kolega pendidik, menyebut mahar gading di buku ini bukan sekadar latar. Tapi merupakan masalah utama yang menggerakkan napas cerita. Demikianlah, sebuah isu lokal dikemas dengan begitu apik oleh penulis yang merupakan guru pada SMPN 1 Adonara Timur ini.

Menurut Pion, dalam prakata buku ini, dirinya tidak menulis dari ruang hampa. Benih ceritanya tumbuh sejak 2017. Ia baru merajut naskah ini dari 2023 sampai 2026 ini. Selama tiga tahun berturut-turut ini dirinya menulis pada setiap bulan Ramadhan.

β€œNovel ini adalah sebuah gugatan terhadap rasa kemanusiaan yang perlahan bergeser,” tulis Prof. Simon Sabon Ola dalam prolognya. Guru Besar Undana itu menilai karya ini sukses mengurai kebuntuan cara pandang tentang cinta, adat, dan agama yang kerap dianggap bertolak belakang.

Sementara bagi jurnalis Yurgo Purab, novel ini adalah asupan bergizi yang menarik pembaca dari hiruk-pikuk menuju takzim. Gaya penulisannya pun unik. Kalimatnya pendek-pendek. Bernas. Tidak bertele-tele. Penulis Djafar Doel AH memuji penggunaan metafora yang begitu teliti dan menggugah kesadaran. Pion memang sengaja menyajikan narasi yang lincah agar pembaca bisa meresapi setiap konflik tanpa kehilangan napas.

Di balik kisah cinta tokoh utamanya, Ara dan Muti, terselip pesan transformasi budaya. Ony Tukan dari Simpasio Institute melihat buku ini sebagai ruang diskusi untuk mendaur ulang nilai tradisi agar tetap relevan di zaman modern.
Kini, Mahar Gading telah siap menghuni rak buku Anda. Ia hadir untuk mengingatkan kita semua. Bahwa ketaatan pada adat dan kesalehan agama bisa berjalan beriringan jika ditopang keikhlasan cinta.

β€œNovel ini mengajarkan kepada kita bahwa sehitam apapun masa lalumu, masa depanmu masih terlalu putih,” pungkas penyair Ary Toekan dalam endorsement-nya. Sebuah undangan bagi siapa saja untuk kembali pulang ke akar identitas, lewat sebatang gading yang melegenda.

Bagi Anda yang berminat untuk membaca keseluruhan isi buku ini, silakan memesan melalui bagian promosi. Nomor kontak resminya 0852-3916-3535. Atau, dapat menghubungi langsung penulis melalui Facebook Muhammad Soleh Kadir.

  • Penulis: Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh: FianΒ N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 475
    • 2Komentar

    Dalam karyanya β€œ21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan β€œjika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL β€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL β€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul β€œDilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai β€œbeban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.Β  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap β€œwajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 92
    • 2Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya β€œSang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini:Β https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Kotagoa, 24 Juni 2026 – SDI Olaewa sukses menorehkan sejarah sebagai juara cabang futsal antar Sekolah Dasar pada Kotagoa Diamond Competition 2026. Gelar juara diraih setelah menaklukkan SDK Natanage A dengan skor meyakinkan 4-2 pada laga grand final yang berlangsung di Kotagoa Sport Area, Rabu (24/6/2026). Sejak peluit kick-off dibunyikan wasit utama, pertandingan langsung berlangsung […]

expand_less