Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rosadi Jamani

Ketua Satu Pena Kalbar

 

Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya strategis. Orang lalu-lalang seperti semut ketumpahan gula. Harusnya duit mengalir deras. Kenyataannya, di luar ekspektasi. Setelah enam bulan berjuang jungkir balik, keuntungan koperasi itu cuma Rp78 ribu. Iya, benar. Delapan tujuh? Bukan. Tujuh puluh delapan ribu rupiah. Nominal kalau dipakai nongkrong di Blok M, mungkin baru cukup beli kopi, parkir, lalu pulang sambil menahan lapar.

Ketuanya, Paiman, sampai bingung tujuh keliling. Cari anggota susahnya minta ampun. Padahal koperasi berdiri di kawasan komersial. Orang lewat ribuan setiap hari. Tapi yang masuk lebih banyak nanya, “Mas, numpang cas HP boleh?”

Lalu datanglah rombongan Agrinas ke NTT dengan aura seperti penasihat ekonomi dari galaksi lain. Dengan wajah penuh keyakinan, mereka mengeluarkan jurus pamungkas.

“Kalau ada 400 kepala keluarga belanja Rp1 juta per bulan, omset koperasi langsung Rp400 juta.” Semua mengangguk. “Setahun berarti Rp4,8 miliar.”

Luar biasa! Rumus ini begitu sakti sampai kalkulator Casio mendadak minta pensiun dini. Kalau teori semudah itu, kemiskinan tinggal disuruh minggir. Warren Buffett mungkin langsung daftar jadi anggota koperasi desa. Elon Musk pun bisa saja batal ke Mars dan memilih buka cabang di NTT.

Sementara angka miliaran beterbangan di udara, para pegawai koperasi tetap bekerja gotong royong tanpa gaji. Mereka mengandalkan semangat nasionalisme, doa ibu, dan mungkin kopi sachet hasil patungan. Yang menerima gaji? Manajernya. Dibayar Agrinas. Beginilah gotong royong edisi premium. Yang satu gotong. Yang lain menikmati royong.

Kalau untung, semua senang. Kalau rugi? Ya rugi rame-rame. Demokratis sekali.

Belum selesai. Menteri Desa, Yandri kemudian tampil bak motivator seminar pukul delapan pagi. “80% keuntungan kembali kepada rakyat. Dua puluh persen untuk PADes.”

Netizen langsung menatap layar dengan ekspresi seperti habis melihat ikan lele terbang. “Lho… untungnya saja belum nongol.”

Ini seperti membagi bonus juara dunia sebelum lolos penyisihan grup. Atau menghitung cucu sebelum menikah. Optimisme level dewa memang tidak membutuhkan bantuan logika.

Bagian paling epik justru datang dari pelatihan calon manajer koperasi. Entah siapa penulis skenarionya, mereka sempat digembleng ala tentara. Baris-berbaris. Push-up. Lari. Disiplin. Siaga. Seolah-olah besok pagi mereka akan menyerbu benteng musuh. Padahal mereka hanya menjaga koperasi.

Bayangkan suasananya.

“Mie instan tinggal lima dus!”

“Siap! Merayap!”

“Harga bawang naik!”

“Push-up lima puluh!”

“Minyak goreng datang!”

“Hormat… grak!”

Ironisnya, pelatihan itu sampai memakan korban. Setelah itu konsepnya langsung diubah menjadi Pembekalan Bela Negara yang lebih humanis. Durasi cukup dua minggu. Mungkin dianggap sudah cukup untuk menghadapi musuh paling berbahaya di koperasi, pelanggan yang bilang, “Utang dulu ya.”

Program ini memang penuh kejutan. Modal pas-pasan. Pegawai sukarela. Manajer rasa komando. Target omset miliaran. Menteri optimistis. Semua dibungkus dengan mantra paling sakti di republik ini, gotong royong.

Kalau untung, gotong royong. Kalau rugi, gotong royong. Kalau belum jalan, gotong royong. Kalau masih seret, gotong royong sambil senyum.

Di negara lain koperasi dihitung pakai neraca keuangan. Di sini kadang dihitung pakai semangat, pidato, dan rumus optimisme. Siapa tahu besok laba benar-benar datang. Kalau belum juga, tenang saja. Tinggal buat target lebih besar. Syukur-syukur tahun depan bukan lagi Rp4,8 miliar. Langsung tembus triliunan. Toh bermimpi masih gratis, sementara keuntungan Rp78 ribu sudah berhasil membuktikan, kenyataan kadang punya selera humor yang jauh lebih ganas daripada stand-up comedy.

“Itu koperasi di tengah kota. Gimana yang di atas gunung, di kuburan, di tengah sawah, dekat hutan, apakah untung lebih besar, Bang?”

“Ente jangan meragukan gitu. Manajernya sudah digembleng ala militer, pasti buntung, eh salah, pasti untung besar, wak.” Ups.

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JY

  • Penulis: Rosadi Jamani
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 186
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 69
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

expand_less