Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

  • account_circle Yulius Riba
  • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yulius Riba

Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik. 

 

Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru menutup ruang dialog itu sendiri.

Ruang diskusi diduduki. Spanduk dibentangkan. Botol air mineral dilemparkan. Narasumber yang hendak meninggalkan lokasi dikejar. Forum yang dibuka untuk menerima kritik, bahkan, meminjam istilah para penginisiasinya, “mengadili” pejabat di hadapan calon intelektual kampus, justru bubar sebelum ada pertarungan argumentasi.

Peristiwa ini sejatinya dapat dibaca melampaui pertanyaan sederhana tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana kita memahami demokrasi, kritik, dan fungsi universitas dalam kehidupan publik.

Kemarahan yang meledak di kampus, bisa jadi adalah puncak dari akumulasi kekecewaan publik yang kian menahun atas kebijakan yang dianggap tidak berpihak, komunikasi politik yang elitis dan kerap manipulatif, serta kesan bahwa kritik hanya diterima sebagai formalitas, bukan sebagai masukan yang sungguh-sungguh dipertimbangkan. Dalam situasi semacam ini, wajar jika tumbuh keyakinan bahwa pemerintah tak bisa lagi “dibisiki”, tetapi harus “diteriaki.”

Tidak sedikit praktik komunikasi kekuasaan yang selama ini turut mengikis kepercayaan publik terhadap efektivitas dialog. Karena itu, tindakan pembungkaman tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman berulang tentang kekecewaan yang tidak memperoleh saluran yang memadai.

Tepat di titik inilah demokrasi diuji. Demokrasi tidak hanya membutuhkan kemarahan sebagai bahan bakar koreksi. Ia terutama membutuhkan nalar. Tanpa itu, kemarahan hanya akan menjelma menjadi pembungkaman dalam wajah yang baru.

Dalam peristiwa di UGM, ketika sekelompok mahasiswa mengambil alih panggung dan memaksa forum berakhir sebelum waktunya, yang terjadi adalah penolakan terhadap hak orang lain untuk berbicara. Tindakan itu, sadar atau tidak, telah melangkahi batas kritis dari dissensus, ketidaksepakatan yang sah dalam demokrasi, menuju pembungkaman, yang merupakan antitesis dari demokrasi itu sendiri.

Filsuf politik Jürgen Habermas mengingatkan kita tentang pentingnya demokrasi deliberatif, sebuah sistem di mana keputusan dan kebijakan mendapatkan legitimasi dari proses pertukaran argumen yang terbuka, setara, dan rasional. Dalam demokrasi deliberatif, suara yang berhak menang adalah yang dibangun di atas argumen yang paling kokoh. Ruang publik harus menjadi gelanggang adu gagasan, bukan adu kekuatan.

Kampus, dengan seluruh tradisi keilmuannya, adalah penjaga utama prinsip ini. Kampus adalah rumah tempat keyakinan diuji, asumsi dipertanyakan, dan klaim-klaim dipaksa untuk bertanggung jawab secara nalar. Di ruang akademik, keberanian intelektual diukur dari kesanggupan untuk memperlihatkan, secara metodis dan berbasis bukti, bahwa lawan bicara itu keliru.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berefleksi: jika tujuan dari protes itu adalah untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak jujur, tidak kompeten, atau menyebarkan data yang menyesatkan, bukankah forum diskusi terbuka adalah panggung yang paling ideal untuk mempermalukan mereka secara intelektual? Pertanyaan tajam, sanggahan berbasis data, dan argumentasi yang runtut sesungguhnya adalah senjata yang jauh lebih merusak kredibilitas pemerintah daripada sekadar teriakan dan lemparan air mineral.

Tentu saja, forum dialog hanya akan ideal apabila dijalankan secara setara dan tidak direduksi menjadi panggung legitimasi sepihak. Namun, justru karena alasan itulah ruang diskusi publik perlu dipertahankan dan direbut secara intelektual melalui argumentasi rasional berbasis data.

Prinsip akademik semacam itu sesungguhnya sejalan dengan logika dasar perkembangan ilmu pengetahuan.

Karl Popper, filsuf ilmu pengetahuan, memberikan pelajaran berharga di sini. Kemajuan pengetahuan, katanya, hanya mungkin terjadi jika setiap klaim dibuka terhadap kemungkinan untuk salah (falsifikasi). Sebuah gagasan bernilai bukan karena ia kebal dari kritik, melainkan karena ia bersedia diuji. Demokrasi bekerja dengan logika yang sama. Kritik hanya bermakna jika objek kritik diberi ruang untuk menjelaskan, mengklarifikasi, atau bahkan membela diri. Tanpa itu, kritik kehilangan fungsi epistemiknya dan berubah menjadi dogma yang hanya bisa diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa diperdebatkan.

Ketika forum dihentikan sebelum argumen selesai dipertukarkan, yang hilang bukanlah kesempatan para pejabat untuk bicara. Yang hilang adalah kesempatan publik untuk menyaksikan sendiri apakah klaim-klaim pemerintah benar-benar runtuh di bawah ujian nalar. Publik dirugikan. Sebab dalam kegaduhan, kebenaran sering kali ikut tenggelam.

Harus diakui, gesekan dalam demokrasi adalah keniscayaan. Demokrasi memang membutuhkan dissensus, yaitu ketidaksepakatan yang terus-menerus sebagai pengingat bagi kita bahwa tidak ada satu pun pihak yang boleh memonopoli kebenaran. Dissensus menjaga demokrasi tetap hidup. Tetapi, ia berbeda secara fundamental dari pembungkaman. Dissensus menolak isi argumen; pembungkaman menolak hak pihak lain untuk menyampaikan argumen. Dissensus memperluas ruang politik, pembungkaman justru menyempitkan demokrasi hingga ke titik nadir.

Dalam peristiwa di UGM, kerugian terbesar sesungguhnya tidak berada di pihak pemerintah yang toh akan tetap bekerja dan menjalankan kebijakannya. Kerugian terbesarnya ada di pihak universitas itu sendiri. Kampus yang selama ini menikmati legitimasi moral sebagai rumah nalar, tempat perbedaan diselesaikan melalui pertarungan gagasan, kini tercoreng citranya. Ketika ruang akademik berubah menjadi arena intimidasi, maka universitas sedang kehilangan alasan paling fundamental untuk eksis sebagai institusi pengawal peradaban.

Demokrasi tidak menuntut kita untuk menyukai setiap orang, apalagi menyetujui semua pendapat. Tetapi, ia menuntut kesediaan untuk mempertahankan ruang dialog, bahkan, dan terutama, bagi mereka yang suaranya tidak ingin kita dengar. Jika kampus kehilangan kepercayaannya pada prinsip sederhana ini, maka yang tengah mengalami krisis adalah universitas itu sendiri, dan bersama itu, fondasi nalar bangsa juga ikut goyah.

Sebab bagi republik yang menggantungkan masa depannya pada kualitas akal budi warganya, kehilangan yang paling menyedihkan adalah menyaksikan rumah nalar perlahan kehilangan keyakinannya pada kekuatan argumen. Di tengah kemarahan, merawat nalar boleh jadi adalah tindakan paling revolusioner yang tersisa.

 

Krian, 26 Juni 2026

  • Penulis: Yulius Riba
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Menyebut Namamu Aku pernah mencoba mencari celah pada bingkai senyummu Namun yang aku dapat hanyalah rajutan kata yang di bungkus rapi pada wajah cantikmu Itulah alasan pasti mengapa aku tetap di sini menatap langit tanpa henti sembari melantunkan doa di sepertiga malam menyebutkan namamu pada puisiku untuk […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 148
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 200
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 699
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

expand_less