Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

  • account_circle Yulius Riba
  • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
  • visibility 146
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yulius Riba

Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik. 

 

Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru menutup ruang dialog itu sendiri.

Ruang diskusi diduduki. Spanduk dibentangkan. Botol air mineral dilemparkan. Narasumber yang hendak meninggalkan lokasi dikejar. Forum yang dibuka untuk menerima kritik, bahkan, meminjam istilah para penginisiasinya, “mengadili” pejabat di hadapan calon intelektual kampus, justru bubar sebelum ada pertarungan argumentasi.

Peristiwa ini sejatinya dapat dibaca melampaui pertanyaan sederhana tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana kita memahami demokrasi, kritik, dan fungsi universitas dalam kehidupan publik.

Kemarahan yang meledak di kampus, bisa jadi adalah puncak dari akumulasi kekecewaan publik yang kian menahun atas kebijakan yang dianggap tidak berpihak, komunikasi politik yang elitis dan kerap manipulatif, serta kesan bahwa kritik hanya diterima sebagai formalitas, bukan sebagai masukan yang sungguh-sungguh dipertimbangkan. Dalam situasi semacam ini, wajar jika tumbuh keyakinan bahwa pemerintah tak bisa lagi “dibisiki”, tetapi harus “diteriaki.”

Tidak sedikit praktik komunikasi kekuasaan yang selama ini turut mengikis kepercayaan publik terhadap efektivitas dialog. Karena itu, tindakan pembungkaman tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman berulang tentang kekecewaan yang tidak memperoleh saluran yang memadai.

Tepat di titik inilah demokrasi diuji. Demokrasi tidak hanya membutuhkan kemarahan sebagai bahan bakar koreksi. Ia terutama membutuhkan nalar. Tanpa itu, kemarahan hanya akan menjelma menjadi pembungkaman dalam wajah yang baru.

Dalam peristiwa di UGM, ketika sekelompok mahasiswa mengambil alih panggung dan memaksa forum berakhir sebelum waktunya, yang terjadi adalah penolakan terhadap hak orang lain untuk berbicara. Tindakan itu, sadar atau tidak, telah melangkahi batas kritis dari dissensus, ketidaksepakatan yang sah dalam demokrasi, menuju pembungkaman, yang merupakan antitesis dari demokrasi itu sendiri.

Filsuf politik Jürgen Habermas mengingatkan kita tentang pentingnya demokrasi deliberatif, sebuah sistem di mana keputusan dan kebijakan mendapatkan legitimasi dari proses pertukaran argumen yang terbuka, setara, dan rasional. Dalam demokrasi deliberatif, suara yang berhak menang adalah yang dibangun di atas argumen yang paling kokoh. Ruang publik harus menjadi gelanggang adu gagasan, bukan adu kekuatan.

Kampus, dengan seluruh tradisi keilmuannya, adalah penjaga utama prinsip ini. Kampus adalah rumah tempat keyakinan diuji, asumsi dipertanyakan, dan klaim-klaim dipaksa untuk bertanggung jawab secara nalar. Di ruang akademik, keberanian intelektual diukur dari kesanggupan untuk memperlihatkan, secara metodis dan berbasis bukti, bahwa lawan bicara itu keliru.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berefleksi: jika tujuan dari protes itu adalah untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak jujur, tidak kompeten, atau menyebarkan data yang menyesatkan, bukankah forum diskusi terbuka adalah panggung yang paling ideal untuk mempermalukan mereka secara intelektual? Pertanyaan tajam, sanggahan berbasis data, dan argumentasi yang runtut sesungguhnya adalah senjata yang jauh lebih merusak kredibilitas pemerintah daripada sekadar teriakan dan lemparan air mineral.

Tentu saja, forum dialog hanya akan ideal apabila dijalankan secara setara dan tidak direduksi menjadi panggung legitimasi sepihak. Namun, justru karena alasan itulah ruang diskusi publik perlu dipertahankan dan direbut secara intelektual melalui argumentasi rasional berbasis data.

Prinsip akademik semacam itu sesungguhnya sejalan dengan logika dasar perkembangan ilmu pengetahuan.

Karl Popper, filsuf ilmu pengetahuan, memberikan pelajaran berharga di sini. Kemajuan pengetahuan, katanya, hanya mungkin terjadi jika setiap klaim dibuka terhadap kemungkinan untuk salah (falsifikasi). Sebuah gagasan bernilai bukan karena ia kebal dari kritik, melainkan karena ia bersedia diuji. Demokrasi bekerja dengan logika yang sama. Kritik hanya bermakna jika objek kritik diberi ruang untuk menjelaskan, mengklarifikasi, atau bahkan membela diri. Tanpa itu, kritik kehilangan fungsi epistemiknya dan berubah menjadi dogma yang hanya bisa diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa diperdebatkan.

Ketika forum dihentikan sebelum argumen selesai dipertukarkan, yang hilang bukanlah kesempatan para pejabat untuk bicara. Yang hilang adalah kesempatan publik untuk menyaksikan sendiri apakah klaim-klaim pemerintah benar-benar runtuh di bawah ujian nalar. Publik dirugikan. Sebab dalam kegaduhan, kebenaran sering kali ikut tenggelam.

Harus diakui, gesekan dalam demokrasi adalah keniscayaan. Demokrasi memang membutuhkan dissensus, yaitu ketidaksepakatan yang terus-menerus sebagai pengingat bagi kita bahwa tidak ada satu pun pihak yang boleh memonopoli kebenaran. Dissensus menjaga demokrasi tetap hidup. Tetapi, ia berbeda secara fundamental dari pembungkaman. Dissensus menolak isi argumen; pembungkaman menolak hak pihak lain untuk menyampaikan argumen. Dissensus memperluas ruang politik, pembungkaman justru menyempitkan demokrasi hingga ke titik nadir.

Dalam peristiwa di UGM, kerugian terbesar sesungguhnya tidak berada di pihak pemerintah yang toh akan tetap bekerja dan menjalankan kebijakannya. Kerugian terbesarnya ada di pihak universitas itu sendiri. Kampus yang selama ini menikmati legitimasi moral sebagai rumah nalar, tempat perbedaan diselesaikan melalui pertarungan gagasan, kini tercoreng citranya. Ketika ruang akademik berubah menjadi arena intimidasi, maka universitas sedang kehilangan alasan paling fundamental untuk eksis sebagai institusi pengawal peradaban.

Demokrasi tidak menuntut kita untuk menyukai setiap orang, apalagi menyetujui semua pendapat. Tetapi, ia menuntut kesediaan untuk mempertahankan ruang dialog, bahkan, dan terutama, bagi mereka yang suaranya tidak ingin kita dengar. Jika kampus kehilangan kepercayaannya pada prinsip sederhana ini, maka yang tengah mengalami krisis adalah universitas itu sendiri, dan bersama itu, fondasi nalar bangsa juga ikut goyah.

Sebab bagi republik yang menggantungkan masa depannya pada kualitas akal budi warganya, kehilangan yang paling menyedihkan adalah menyaksikan rumah nalar perlahan kehilangan keyakinannya pada kekuatan argumen. Di tengah kemarahan, merawat nalar boleh jadi adalah tindakan paling revolusioner yang tersisa.

 

Krian, 26 Juni 2026

  • Penulis: Yulius Riba
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 128
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

expand_less