Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 44
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang saya unggah di Mataleza.com. Komentar itu datang dari seorang perempuan yang bercerita tentang hidupnya. Kisahnya sederhana, tetapi menyimpan banyak kesedihan yang mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lainnya.

Ia harus merelakan beberapa kesempatan baik dalam hidupnya demi kepentingan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk berkembang, belajar, atau mengejar cita-cita perlahan ia lepaskan bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksanya untuk mengalah.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hanya memiliki dua pilihan: menerima atau pergi. Menerima berarti tetap tinggal dan memendam segala rasa kecewa. Pergi berarti meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Namun, pilihan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin tetap berada di rumah. Ia ingin menemani kedua orang tuanya yang mulai menua. Ia ingin hadir saat mereka membutuhkan bantuan. Ia ingin menjadi anak yang selalu ada untuk keluarganya. Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, keputusan harus segera diambil sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Dan seperti banyak orang lainnya, ia harus memilih jalan yang paling mungkin meskipun bukan jalan yang paling ia inginkan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hingga hari ini masih ada banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang membedakan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam beberapa budaya, anak laki-laki masih sering dianggap sebagai penerus utama keluarga, sementara anak perempuan dipandang sebagai pelengkap yang suatu saat akan pergi meninggalkan rumah.

Cara pandang seperti ini telah berlangsung sangat lama dan sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengorbankan mimpi, pendidikan, bahkan masa depan mereka demi memenuhi harapan yang dibangun oleh lingkungan sekitar.

Budaya patriarki yang kuat memang tidak terjadi di semua tempat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak perempuan yang mengalami perlakuan tidak adil dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan dalam keluarga mereka sendiri.

Meski demikian, dari kisah perempuan ini saya belajar satu hal penting: kekuatan tidak selalu terlihat dari keberanian melawan. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga kasih sayang kepada keluarganya meskipun ia sering terluka.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa kecewa. Menjadi kuat adalah kemampuan untuk terus melangkah ketika hidup tidak memberikan perlakuan yang sama kepada kita.

Dan bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi keadaan serupa, percayalah bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Nilai dirimu lahir dari keberanian untuk tetap berdiri, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, selain suka menulis juga suka membaca. Sering mendapatkan banyak curahan hati dari teman-teman di media sosial (GB, IG dan WA. Beberapa tulisan lahir dari cerita-cerita tersebut. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae. Selain itu, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.137
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 120
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    Malam Apresiasi Kotagoa Diamond Competition: Merayakan Prestasi, Bakat, dan Semangat Kebersamaan Menuju Intan SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 194
    • 1Komentar

    SMPSK Kotagoa Boawae – 18 Mei 2026 diguyur hujan tanpa henti. Pada kesempatan yang sama akan dilangsungkan lomba Solo Vokal dan Paduan Suara serta membaca hasil kejuaraan lomba yang sudah dilaksanakan pada minggu-minggu sebelumnya. Para peserta pun berdatangan di tengah hujan yang rintik-rintik manja. Ada pun orang tua juga ikut menyaksikan malam penuh rasa penasaran […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

expand_less