Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 115
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang saya unggah di Mataleza.com. Komentar itu datang dari seorang perempuan yang bercerita tentang hidupnya. Kisahnya sederhana, tetapi menyimpan banyak kesedihan yang mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lainnya.

Ia harus merelakan beberapa kesempatan baik dalam hidupnya demi kepentingan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk berkembang, belajar, atau mengejar cita-cita perlahan ia lepaskan bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksanya untuk mengalah.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hanya memiliki dua pilihan: menerima atau pergi. Menerima berarti tetap tinggal dan memendam segala rasa kecewa. Pergi berarti meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Namun, pilihan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin tetap berada di rumah. Ia ingin menemani kedua orang tuanya yang mulai menua. Ia ingin hadir saat mereka membutuhkan bantuan. Ia ingin menjadi anak yang selalu ada untuk keluarganya. Tetapi keinginan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Pada akhirnya, keputusan harus segera diambil sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Dan seperti banyak orang lainnya, ia harus memilih jalan yang paling mungkin meskipun bukan jalan yang paling ia inginkan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hingga hari ini masih ada banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang membedakan kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam beberapa budaya, anak laki-laki masih sering dianggap sebagai penerus utama keluarga, sementara anak perempuan dipandang sebagai pelengkap yang suatu saat akan pergi meninggalkan rumah.

Cara pandang seperti ini telah berlangsung sangat lama dan sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengorbankan mimpi, pendidikan, bahkan masa depan mereka demi memenuhi harapan yang dibangun oleh lingkungan sekitar.

Budaya patriarki yang kuat memang tidak terjadi di semua tempat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak perempuan yang mengalami perlakuan tidak adil dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan dalam keluarga mereka sendiri.

Meski demikian, dari kisah perempuan ini saya belajar satu hal penting: kekuatan tidak selalu terlihat dari keberanian melawan. Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga kasih sayang kepada keluarganya meskipun ia sering terluka.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa kecewa. Menjadi kuat adalah kemampuan untuk terus melangkah ketika hidup tidak memberikan perlakuan yang sama kepada kita.

Dan bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi keadaan serupa, percayalah bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Nilai dirimu lahir dari keberanian untuk tetap berdiri, tetap bermimpi, dan tetap percaya bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N, selain suka menulis juga suka membaca. Sering mendapatkan banyak curahan hati dari teman-teman di media sosial (GB, IG dan WA. Beberapa tulisan lahir dari cerita-cerita tersebut. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae. Selain itu, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Gregorius Nggadung
    • visibility 557
    • 2Komentar

    PERJAMUAN MALAM Tak ada yang kau siapkan lagi Selain roti tawar yang disiram dan mekar Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan Meredam di atas tumpukan buku Lelap di pangkuan tanganmu   Kau tak perlu datang lagi malam ini Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini Di bawah meja perjamuan Kukibarkan kata-kata Sehingga tak ada tulang-tulang […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

expand_less