Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
  • visibility 184
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tuhan dan Puan Sedang Online

Kucumbui minggu dijantung rindu

Ada sehelai cemburu yang gugur

Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu

yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.

 

Aku tahu,

Mungkin kau sedang memulung harimu

Dalam kesibukan

Hingga serentetan pesanku kau abaikan.

Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh,

Tanpa bayang-bayang pesanmu

Aku memutuskan untuk mengirim pesan puisi

Di hari minggu

Dan kutemui ternyata Tuhan dan Puan sedang online di sana.

 

Kopi dan kenangan kita di Masa lalu

Kita sama-sama membuka baju, aku membuka pengerat,

yang menopang dadamu.

Tanganmu, melingkari leherku. Meninggalkan jejak,

kecupan yang rayu.

Kau masih di sini, di antara uap yang menua

bersama napas.

Barangkali cinta, seperti kopi di malam hari: selalu hangat dan ingat.

 

Tak Semua Harus Tentang Kita

Kita pernah menjadi semacam  berita kecil

Di sudut pantai

Di baca oleh  angin

Lalu dilupakan Oleh hujan

 

Aku ingin memelukmu

Namun dunia menuntut perhatian

Dari mereka yang tak punya suara

Maaf, cintaku tidak setuli itu

Aku tak sanggup memuja sepasang mata

Sementara ribuan pasang lain

Di paksa menunduk

 

Cintamu hangat

Namun lebih hangat lagi

Amarah ibu-ibu di pasar

Yang menawar hidup

Dengan suara parau  dan mata merah.

 

Aku lelah merangkai puisi

Tentang cemburu dan rindu

Sementara keadilan dan kemakmuran hanya berpihak

Bagi mereka yang berkuasa.

 

Jika aku diam saat kau berbicara

tentang masa depan kita

Bukan karena aku tak cinta

Namun aku hanya sedang berpikir

Bahwa pelukan tak selalu cukup

Untuk menutup bunyi perut yang kosong

 

Tak semua harus tentang kita

Kadang rindu harus menyingkir sebentar

Memberi jalan untuk mereka yang

Mencintai hidup

Tanpa pernah dicintai dunia

Jika kau masih mau tinggal

Tinggallah, bukan hanya di dadaku

Tapi di sisi mereka yang lemah

Dan mereka yang dilupakan oleh negara.

 

Cinta dan kebahagiaan

Cinta itu tanda bahwa kau pernah  menjadi istimewa dan

bukan tanda bahwa kau pernah bahagia.

 

Tentang Jalan

Tuhan, jika ini rindu,

Biarlah ia menjadi jalan sunyi

Yang membawaku semakin dekat

Kepada-Mu.

 

Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.

Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.

Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.

Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.

 

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 162
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Ada dua hal yang sulit saya lakukan belakangan ini: bangun pagi dan percaya bahwa alarm benar-benar punya niat baik kepada manusia. Udara sedang dingin-dinginnya. Selimut terasa seperti kontrak seumur hidup yang tidak boleh diputus sepihak. Namun, sejak babak 32 besar Piala Dunia dimulai, semua prinsip hidup itu mendadak gugur. Saya rela bangun pukul tiga dini […]

  • Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini. “Kapan nikah?” Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain. Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang […]

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 803
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

expand_less