Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan
- account_circle Filemon Pandu Wimastha
- calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
- visibility 67
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tuhan dan Puan Sedang Online
Kucumbui minggu dijantung rindu
Ada sehelai cemburu yang gugur
Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu
yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.
Aku tahu,
Mungkin kau sedang memulung harimu
Dalam kesibukan
Hingga serentetan pesanku kau abaikan.
Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh,
Tanpa bayang-bayang pesanmu
Aku memutuskan untuk mengirim pesan puisi
Di hari minggu
Dan kutemui ternyata Tuhan dan Puan sedang online di sana.
Kopi dan kenangan kita di Masa lalu
Kita sama-sama membuka baju, aku membuka pengerat,
yang menopang dadamu.
Tanganmu, melingkari leherku. Meninggalkan jejak,
kecupan yang rayu.
Kau masih di sini, di antara uap yang menua
bersama napas.
Barangkali cinta, seperti kopi di malam hari: selalu hangat dan ingat.
Tak Semua Harus Tentang Kita
Kita pernah menjadi semacam berita kecil
Di sudut pantai
Di baca oleh angin
Lalu dilupakan Oleh hujan
Aku ingin memelukmu
Namun dunia menuntut perhatian
Dari mereka yang tak punya suara
Maaf, cintaku tidak setuli itu
Aku tak sanggup memuja sepasang mata
Sementara ribuan pasang lain
Di paksa menunduk
Cintamu hangat
Namun lebih hangat lagi
Amarah ibu-ibu di pasar
Yang menawar hidup
Dengan suara parau dan mata merah.
Aku lelah merangkai puisi
Tentang cemburu dan rindu
Sementara keadilan dan kemakmuran hanya berpihak
Bagi mereka yang berkuasa.
Jika aku diam saat kau berbicara
tentang masa depan kita
Bukan karena aku tak cinta
Namun aku hanya sedang berpikir
Bahwa pelukan tak selalu cukup
Untuk menutup bunyi perut yang kosong
Tak semua harus tentang kita
Kadang rindu harus menyingkir sebentar
Memberi jalan untuk mereka yang
Mencintai hidup
Tanpa pernah dicintai dunia
Jika kau masih mau tinggal
Tinggallah, bukan hanya di dadaku
Tapi di sisi mereka yang lemah
Dan mereka yang dilupakan oleh negara.
Cinta dan kebahagiaan
Cinta itu tanda bahwa kau pernah menjadi istimewa dan
bukan tanda bahwa kau pernah bahagia.
Tentang Jalan
Tuhan, jika ini rindu,
Biarlah ia menjadi jalan sunyi
Yang membawaku semakin dekat
Kepada-Mu.
Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.
Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.
Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.
Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.
- Penulis: Filemon Pandu Wimastha
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar