Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

  • account_circle Alvarez Keupung
  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
  • visibility 149
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.

PAKET CINTA DARI LAUTAN

Sewaktu aku mandi di lautan
Sungguh, aku merasakan getaran cintanya
Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya

Laut memang pergi dan datang menghempas tepian
Gelora suaranya bertebaran ke langit
Namun tak pernah ganti rupa menjadi hambar

Suara lautan adalah detak nuraninya
Dia memilih bergelora daripada diam penuh pengkhianatan
Semakin bergelora, semakin setia rasa asin garam diberikannya

Mari, bertemu lautan sejenak saja
Benamkan tubuhmu ke dalamnya dan kau akan belajar apa itu setia
Seperti lautan setia memberi rasa tanpa ingkar.

Ende, 11 Mei 2026

WHATSAPP

Setelah kau centang hatiku dua garis

Selekas saja kubaca dengan runut, barangkali ada yang kau

titipkan dengan rindu sedari mula

Sepintas saja kau pun menjelma dalam kata lewat ufuk sunyi
Namun aku ingin kau menulis yang paling kekal di kedalaman kita,

tanpa signal dan android

Duhai bidadari mata sukmaku
Tentang kita, kutitipkan dua kata yang paling sakral: cinta dan kesetiaan

Agar kita tak pernah boleh saling merindu dengan membabi buta

Sebab, cinta dan kesetiaan selalu punya alasan yang sama: bertahan tak berkesudahan
Kelak di suatu tanggal yang belum datang, kau akan mengerti:
Jiwa yang saling mencinta dengan setia secara sungguh, memang pantas merayakannya tanpa epilog.

Ende, 11 Mei 2026

PERCAKAPAN DENGAN ANGIN

Usai menghembus malam
Beberapa menit berselang, tiba-tiba angin membawa tanya:
“Lu kenal Merry ko?”

Dengan sengaja Ose menjawab: tidak, untuk menutupi gagu lidahnya tak bisa berbahasa Inggris

Pada akhir kata, Ose menimbang wasiat yang nyaris tanpa judul:
Mencintai Merry sungguh berat!

Lebih dari akhir, Ose menulis pada tubuh angin:
“Katakan kepada Merry, aku akan datang kepadanya dengan cinta yang mengalahkan segalanya”

Amor omnia vincit adalah ibu dari segala puisi cinta

Dan lagi Ose menulis pada tubuh angin yang kian menghembus:

Untukmu Sinta, ibunda Merry, ” manusia hidup bukan hanya semata – mata dari bluetooth device has connected successfully saja, kan ? ”

Ende, 11 Mei 2026.

BERITA KEPADA ANGIN
( Balasan Untuk Ose )

Aku mendecak membaca puisimu yang nakal
Laksana serpihan mimpi yang kau takik jauh di lorong harapanmu

Namun terkadang-kadang cintamu yang menggebu mesti bersyarat
Hidup ini kian berat, Ose !

Adalah semacam parade yang terus berlari
Kau harus membuka tingkap semesta yang mahaluas, agar connected-lah jiwamu

Ose, zaman ini kian melangit
Puisi cintamu tak sebatas kau lantangkan, “Lu kenal ko sonde ?”
Sekiranya harus, maka mengejalah tentangmu:
I’m personally smart, keren kan ?

Karena aku suka laki-laki yang bisa bahasa Inggris.

Ende, 11 Mei 2026.

DI HADAPAN SEBATANG LILIN

Dengan segala lepuh
Aku merunduk pada pagi yang datang, terbangun dari gigil subuhnya
Entah berapa kali jago berkokok memberi kabar di hulu kupingku

Tirai jendela kusibak sungguh-sungguh
Ah, rembulan nyaris beranjak
Selepas mata menepi pada malam yang memanjakan

Sambil berjejak lunglai dengan sisa kantuk yang masih terhuyung
Di bawah langit-langit kamar tidurku, kurampung segala harap yang mengalir lewat kelopak mataku
Sebatang lilin kunyalakan di atas meja kecil

Reranting doa pun mulai berderit
Lautan kata memang secuil singkat
Sekali “Bapa Kami”, sekali “Salam Maria” sudah cukup merangkul isi sukma dan Tuhan pun tahu

Ketika aku mulai merapal doa
Ternyata jiwaku lebih mesra bersama Tuhan, sebentar saja lebih cukup indah
Daripada jutaan kata dan menit bersama layar ponsel

Di hadapan sebatang lilin
Sebelum amin berjatuhan di ujung doa
Selarik kata bersungguh pada lidah : “Tuhan, dengan segala serah aku datang kepada-Mu”

Ende, 11 Mei 2026.

 

  • Penulis: Alvarez Keupung
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Inspirasi: Kis 2:1-11 /// Yoh 20:19-23 Kita buka renungan di Hari Raya ini dengan pantun: Maksud hati mengunjungi Om Strom, apa daya bertemu Veronika. ROH KUDUS menjadikan kita Strong. Di tengah situasi sedih dan terluka. Ketika Roh Kudus turun atas para Rasul, saat itu Gereja lahir. Gereja yang penuh dengan daya Roh Kudus, membuat Gereja […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 204
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 231
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Ada dua hal yang sulit saya lakukan belakangan ini: bangun pagi dan percaya bahwa alarm benar-benar punya niat baik kepada manusia. Udara sedang dingin-dinginnya. Selimut terasa seperti kontrak seumur hidup yang tidak boleh diputus sepihak. Namun, sejak babak 32 besar Piala Dunia dimulai, semua prinsip hidup itu mendadak gugur. Saya rela bangun pukul tiga dini […]

expand_less