Breaking News
light_mode
Trending Tags

PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

  • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 216
  • comment 4 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 –

07 MEI 2026 –

Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi

Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11

Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan.

Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani.

Kasih dapat menjadi landasan dan mampu membuat kita hidup dalam komunitas. Sehingga ada benarnya bahwa penatua-penatua Jemaat di Yerusalem tidak ‘srek’, merasa terganggu, merasa tidak ‘worth it’ misalnya orang itu harus dipisahkan antara bersunat dan tidak bersunat. Persaudaraan dalam Kristus harus melampaui itu semua.

Allah yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima semua orang tanpa kecuali, tanpa meng-kotak-kotak-kan, yang bersunat ataukah yang tidak bersunat. Kasih menjadikan para penatua berdiskusi dengan saling mendengarkan pendapat satu sama lain secara sabar dengan pikiran yang jernih dan hati yang bening. Sehingga, kasih-lah yang menjadikan komunikasi lancar dan menjadi komunitas yang besar, yah komunitas Kristiani yang menerima orang lain apa adanya, tidak persoalkan bersunat atau tidak bersunat. Maka dalam iman kita percaya bahwa kasih bukan perasaan semata, tetapi tindakan nyata dan konsisten dalam relasi baik dengan sesama.

Dengan demikian tidak heran, dari kasih lahirnya komunitas suami-istri, yang buah kasih mereka menjadi komunitas ayah, ibu, dan anak. Kasih membuat orang dengan tulus berkomunikasi satu sama lain. Ketulusan komunikasi itu yang menumbuhkan benih-benih cinta, yang mengikat satu sama lain dalam kenyamanan relasi sehingga terjadilah keluarga atau komunitas. Sehingga, jangan katakan komunitas keluarga kalau tidak ada komunikasi.

Rumah tangga yang api kasih-nya padam pasti tidak ada kehangatan komunikasi. Istri yang sudah terlanjur kecewa dengan suami yang selalu merasa superior, pasti akan memilih “berelasi dengan dingin” dan berkomunikasi yang minim. Kalau sudah di titik ini maka harapan terbentuknya komunitas seperti kucing tumbuh tanduk, mustahil.

Anak-anak yang terlanjur kecewa dengan orang tua yang lemah dalam mendengarkan mereka tetapi kuat dalam men-judge mereka, pasti akan memilih tutup pintu kamar, mengurung diri di kamar, pasang earphone, main game, dari pada dengarkan kata-kata yang mengkerdilkan mental. Yah, bagian dari menutup hati kepada orang tua. Hilang kasih, hilang komunikasi makanya komunitas menjadi jauh panggang dari api.

Nah, karena itu, milikilah kasih suci itu. Yesus tahu bahwa Allah Bapa mengasihi-Nya, maka Dia pun mengasihi Bapa-Nya. Berlandaskan kasih, Yesus mendengarkan sungguh kehendak Bapa-Nya dan bahkan sampai taat.  Kasih menjadikan orang untuk bertahan dalam mendengarkan, menjadikan orang sabar, sehingga tidak lekas berbicara sampai-sampai menghakimi orang lain. Sehingga Yesus kita sedemikian memahami sesama-Nya dan mau berkomunikasi dengan sesama-Nya sehingga terwujudlah komunitas. Bentuk tertinggi dari tinggal dalam Kasih Tuhan adalah mau menjadi pribadi yang inklusif, yang bisa menerima setiap orang apa adanya bukan ada apanya.

Hari ini kita peringati Hari Asma Sedunia. Mari, jadilah orang Katolik yang menghayati nama Katolik dengan spiritualitas kasih kepada mereka yang menderita Asma. Kalau selama ini kita hidup dengan orang asma dan merasa terganggu dengan penyakit mereka, maka coba dipikirkan lagi, sudahkah kita mempunyai kasih? Ketika kita tidak dapat memahami dan mengerti keadaan orang lain, maka komunikasi sudah mandek, sedang mandek, dan akan mandek. Maka, jangan harapkan ada komunitas pecinta dan pemerhati orang sakit (asma). Sudah pahamkan sejauh ini? (mof)

Rm. Laurensius Feto, Pr / Master Oyen Feto- Imam Keuskupan Agung Ende, Sedang berkuliah di Binus University, Jakarta. Motto panggilan imamat: Berjalan Sambil Berbuat Baik.

  • Penulis: Rm Laurensius Feto, Pr
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (4)

  • Hyasinta Mi

    Komunitas yang sejati bukan hanya tentang kita datang untuk berkumpul-kumpul tetapi bagaimana kita saling mendengakan dengan kasih.Komunikasi yang sehat adalah jembatan yang menghubungkan hati bukan sekedar bertukar informasi,melainkan komunikasi itu akan sejalan dengan kasih agar kita bisa berdialog,menerima perbedaan dan menyelesaikan segala hal yang terjadi baik dilingkungan keluarga,umat basis maupun di lingkungan dimana kita bekerja
    Sesuai dengan renungan hari ini yang bertema Kasih tidak ada komunitas tampa komunikasi .
    Terima kasih sudah membagi renungan hari ini yang mengingatkan saya begitu pentingnya komunikasi akan menjadi tempat yang hanyat ketika setiap anggotanya berkomitmen untuk berkomunikasi secara jujur dansaling saling menghargai satu sama lainnya.Sekali lagi terima kasih dan semoga sukses selalu dalam karya-karya selanjutnya.

    Balas7 Mei 2026 1:37 pm
  • Adi Tandi

    Selamat hari Asma bagi Semua orang Penderita Asma,,,Bersama Yesus semua Penyakit akan di sembuhkannya🙏🙏🙏

    Balas7 Mei 2026 10:01 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 329
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 346
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

expand_less