Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

  • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 99
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ

(Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere)

Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong.

Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Letaknya juga jauh dari pusat keramaian dan jauh dari jalan utama.

Namun justru di tempat yang tenang, sepi, dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan itulah tumbuh sebuah lingkungan yang sangat kondusif bagi pendidikan. Di tengah kesunyian alam yang menenangkan, sekolah ini telah menjadi pelita yang menerangi masa depan banyak anak.

Di tempat inilah perjalanan akademik saya dimulai. Di ruang-ruang kelas sederhana saya pertama kali belajar mengenal huruf A, I, U, E, O, mengeja kata demi kata, mengenal angka satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dari sinilah langkah-langkah kecil seorang anak mulai diarahkan untuk mengenal dunia yang lebih luas melalui pendidikan.

Hari ini, ketika kembali menapakkan kaki di halaman sekolah ini setelah tiga puluh dua tahun berlalu, hati saya dipenuhi rasa haru dan syukur. Banyak kenangan masa kecil seolah hidup kembali. Saya teringat para guru yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan mendampingi kami belajar dan bertumbuh.

Secara pribadi, saya sungguh bersyukur pernah dididik oleh para guru yang penuh dedikasi dan kebijaksanaan: Bapak Guru Alo Rambu, Pak Martinus Dola, Ibu Ros Bebhe, Ibu Mia, Pak Guru Alo Bey, serta para guru lainnya yang kemudian melanjutkan karya pendidikan di tempat ini.

Saya harus jujur mengakui bahws mereka tidak hanya mengajarkan kami membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini tetap melekat dalam ingatan.

Sebagai angkatan pertama, saya masih mengingat dengan jelas kondisi sekolah pada masa itu. Kami belajar di ruang kelas yang sangat sederhana, beralaskan tanah dan beratapkan bambu. Fasilitas yang tersedia sangat terbatas.

Namun keterbatasan itu tidak pernah mengurangi semangat para guru untuk mengajar maupun semangat kami untuk belajar. Justru dari kesederhanaan itulah lahir ketekunan, daya juang, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, saya menyaksikan perubahan yang sungguh luar biasa. Bangunan yang dahulu sederhana dari bambu kini berdiri megah dan membanggakan. Gedung tembok berdiri megah.

Dahulu hanya ada sebuah sekolah dasar, kini telah berkembang hingga memiliki jenjang pendidikan menengah. Perubahan ini mengingatkan saya pada kata-kata filsuf Yunani ternama, Heraklitos: “Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri.”

Apa yang dahulu tampak kecil kini telah bertumbuh menjadi sesuatu yang besar. Apa yang dahulu dibangun dengan segala keterbatasan kini berdiri kokoh sebagai simbol harapan bagi generasi-generasi berikutnya.

Namun sesungguhnya, kemegahan sebuah sekolah tidak terutama terletak pada bangunannya. Nilai sejatinya terletak pada manusia-manusia yang dibentuk di dalamnya. Sebab sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks itulah saya teringat pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”

Di antara para pahlawan itu, para guru memiliki tempat yang istimewa. Mereka mungkin tidak selalu dikenal luas, tetapi melalui tangan dan hati mereka, masa depan bangsa dipersiapkan hari demi hari.

Saya juga teringat kata-kata bijak Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional:
“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Sekolah, keluarga, dan lingkungan harus berjalan bersama untuk membentuk generasi yang unggul.

Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memungkinkan sekolah ini berkembang dan berdiri kokoh hingga hari ini.

Kepada pemerintah, para tokoh masyarakat, para orang tua, para donatur, dan semua pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan, semoga segala jerih payah yang telah diberikan menjadi berkat bagi banyak generasi.

Kepada para siswa-siswi SD dan SMP yang sedang menempuh pendidikan di tempat ini, teruslah belajar dengan tekun dan jangan pernah takut bermimpi.

Jangan pernah berpikir bahwa keterbatasan tempat menentukan masa depan kalian. Banyak orang berhasil justru lahir dari sekolah-sekolah sederhana di pelosok negeri.

Masa depan ditentukan oleh kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
Dan kepada para guru yang saat ini mengabdikan diri di sekolah ini, teruslah menjadi pendidik yang penuh dedikasi, keteladanan, dan komitmen. Tugas seorang guru bukan sekadar mengajar, melainkan menyalakan cahaya pengetahuan dan harapan dalam diri setiap anak.

Akhirnya, saya pulang dari tempat ini dengan hati yang penuh syukur. Tiga puluh dua tahun telah berlalu. Bangunannya telah berubah, wajah sekolahnya telah berubah, dan zaman pun telah berubah.

Namun satu hal yang tidak berubah: rasa hormat kepada para guru dan rasa terima kasih kepada sekolah yang telah menjadi tempat pertama saya belajar mengenal dunia.

Terima kasih, SDK Terong Kedong yang kini telah menjadi SDN Riominsi. Dari tempat yang jauh dari keramaian ini, lahir banyak mimpi, harapan, dan masa depan.

Semoga sekolah ini terus menjadi pelita yang menerangi generasi demi generasi, dan dari Kampung Latung yang tenang ini terus lahir anak-anak yang kelak membawa terang bagi keluarga, masyarakat, Gereja, bangsa, dan dunia.

  • Penulis: Pater Marsel Koka, RCJ
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.Β  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 92
    • 2Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya β€œSang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini:Β https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 379
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba,Β Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 193
    • 2Komentar

    ini puisi apa?Β  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

expand_less