Breaking News
light_mode
Trending Tags

DI BALIK GELAS KEMASAN MANIS GEN Z, ANCAMAN DIABETES DI TENGAH KECANDUAN MINUMAN MURAH 

  • account_circle Viktoria Eyen
  • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
  • visibility 57
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Viktoria Eyen

Npm:25201043

Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan

Indonesia hari ini menghadapi masalah kencing manis atau diabetes sangat mengkhawatirkan , apakah anda pernah melihat antrian di gerai minuman kekinian manapun di kota-kota besar pada siang hari. Hampir pasti yang mengantri didominasi anak muda, pelajar, mahasiswa dan pekerja muda yang rela menunggu belasan menit demi segelas susu, kopi gula aren,atau minuman buah dengan topping manis di dasarnya. Bagi Generasi Z, membeli minuman kekinian bukan sekadar soal haus. Tetapi gaya hidup yang sudah menjadi kebiasaan . Namun di balik rasa manis yang menyenangkan itu, ada ancaman serius yang diam-diam mengintai. Kandungan gula dalam satu gelas minuman kemasan sering kali sudah melampaui batas konsumsi harian yang dianjurkan. Bahkan, banyak anak muda tidak menyadari bahwa mereka bisa menghabiskan dua hingga tiga gelas dalam sehari tanpa merasa bersalah

“Satu gelas minum manis kemasan bisa mengandung lebih dari enam sendok teh gula jauh melampaui batas yang disarankan untuk dikonsumsi dalam satu hari.”

Kebiasaan ini bukan tanpa akibat. Konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang menjadi salah satu pemicu utama diabetes tipe dua. Yang mengkhawatirkan, penyakit ini tidak lagi hanya menyerang orang tua atau lansia. Data kesehatan menunjukkan bahwa kasus diabetes pada usia muda terus meningkat setiap tahunnya, dan tren ini sejalan dengan makin tingginya konsumsi minuman manis di kalangan generasi muda.

Masalahnya, diabetes tipe dua tidak datang tiba-tiba dengan gejala yang jelas. Penyakit ini datang perlahan, hampir tanpa peringatan. Seseorang bisa mengidapnya selama bertahun-tahun tanpa tahu, sementara tubuhnya perlahan mengalami kerusakan pada ginjal, mata, saraf, dan pembuluh darah. Ketika gejala mulai terasa, kerusakan sering kali sudah cukup parah. Banyak yang berpendapat bahwa ini semata-mata soal pilihan pribadi. Kalau sudah tahu bahaya, ya tinggal kurangi. Tapi pandangan sesederhana itu mengabaikan kenyataan yang lebih rumit. Iklan minuman manis dirancang dengan cermat untuk membangun kebiasaan, menciptakan rasa nyaman, dan mengaitkan produk dengan momen-momen menyenangkan dalam hidup anak muda. Gula sendiri secara ilmiah terbukti memicu dorongan untuk terus mengonsumsinya, membuat kebiasaan ini sulit dihentikan begitu saja.

Di sisi lain, harga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, minuman manis kemasan sering kali menjadi pilihan paling masuk akal. Lebih murah dari minuman sehat, lebih praktis dari air putih biasa, dan lebih mengenyangkan secara rasa dari minuman lainnya. Ini bukan sekadar soal kurang sadar, melainkan soal keterbatasan akses terhadap pilihan yang lebih baik. Maka, tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Pemerintah perlu hadir lebih tegas, baik melalui aturan kandungan gula yang lebih ketat pada produk kemasan, pemberian label peringatan yang jelas dan mudah dipahami, maupun kebijakan harga yang mendorong masyarakat untuk beralih ke minuman yang lebih sehat. Produsen juga harus didorong untuk menciptakan produk yang lebih bertanggung jawab, bukan semata mengejar keuntungan.

Gen Z sering dijuluki sebagai generasi yang paling melek informasi. Mereka tumbuh dengan akses tak terbatas ke berbagai pengetahuan. Tapi informasi saja tidak cukup jika lingkungan, harga, dan kebiasaan terus mendorong ke arah yang berlawanan. Saatnya kita semua, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga industri, bekerja bersama memastikan bahwa pilihan yang sehat juga menjadi pilihan yang mudah dan terjangkau. Karena kesehatan generasi muda hari ini fondasi bangsa di masa depan.

  • Penulis: Viktoria Eyen
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 55
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 221
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 287
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 226
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

expand_less