Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
  • visibility 316
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aprianus Jebarus,Β Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

Menyebut Namamu
Aku pernah mencoba
mencari celah pada bingkai
senyummu
Namun yang aku dapat hanyalah
rajutan kata yang di bungkus rapi
pada wajah cantikmu
Itulah alasan pasti
mengapa aku tetap di sini
menatap langit tanpa henti
sembari melantunkan doa
di sepertiga malam
menyebutkan namamu
pada puisiku untuk Tuhan.
2026

Lukisan Tak Bernama
Di antara jutaan orang
yang ada di dunia ini
Kau dititipkan Tuhan
untuk datang menjemputku
pulang pada pangkuan
cinta dan kasih,
bersemi, tumbuh
bak fajar menyapa pagi,
menjemput hari.

Ketahuilah
Sebelum kau datang
Aku t’lah lebih dulu ada
bersama bayang yang
kau tinggalkan;
Menemani rasa yang abadi,
terjebak dalam halaman
roman bukan kenyamanan.

Sudahlah
Kau diam saja
Aku tak ingin pulang
Aku hanya ingin damai
bersama nama yang abadi
dalam lukisan tak bernama
pada dinding kamar kecil ini.
2026

Bukan Kita
Pada malam kutitipkan
sajak roman untukmu
Tentang aku yang tak
bisa melupakanmu
dari ingatanku

Pada Malam
Kusulam warna hitam
bercampur cantikmu
yang masih saja
membekas pada
cerita yang tak
dapat kuhapuskan
dari lembaran kisah
aku dan kamu
Bukan kita.
2026

Aku
Aku terlahir untuk menyambut
setiap mimpi yang aku tanam
sebelum aku mengenal dunia
Bukan untuk menghibur sedih
yang dimiliki ribuan mata
di ruangan penuh.

Aku
Hanyalah sepasang rasa
yang tercipta untuk
menciptakan cerita
pada ruang yang aku
ukir dengan tulus
tanpa ragu, hanya;
Cinta
Kasih
Mimpi
dan
keyakinan
dalam diri.
2026

Mencari Cinta Sejati
Sepotong surat masih tersimpan
rapi dengan balutan kenangan
pada cerita tentang kamu
yang dulu
Serpihan ingatan beterbangan
menelusuri samudera yang pernah
kamu lewati
berharap kan menemukan setitik
embun yang akan menghantarkan
langkah kaki yang masih tertatih ini
menuju pada senyum yang di sebut
rumah ternyaman untuk bercerita
tentang cinta.
2026

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.Β    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang photo_camera 2

    Sudut Pandang: Barape Sawa Dan Kehidupan Petani Bengkayang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Benedictus De Rode
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Pagi di Bengkayang selalu memiliki suasana tersendiri. Udara masih terasa sejuk, jalanan belum terlalu ramai, dan aktivitas masyarakat mulai terlihat satu per satu. Di tengah suasana tersebut, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang menarik perhatian saya adalah kehidupan masyarakat yang masih bergantung padasawah. Bagi saya, sawah […]

  • BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    BRUDER LEKO CSsR: KETIKA RAHMAT TUHAN KETEMU JALAN PULANG’

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Pater Willy Pala
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Willy Pala Pagi ini, 9 Juli, alarm clock saya berbunyi. Saya bangun seperti biasa. Sebelum masuk sakristi untuk siap misa pagi, saya membuka WhatsApp. Ada satu pesan dari Pater Kimy sejak tadi malam, sekitar pukul sebelas lebih. Pesannya sangat singkat. “Malam nduyo, Br. Leko meninggal.” Saya kaget dan terdiam beberapa saat. Rupanya tadi […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

expand_less