Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

  • account_circle Helena Lose Beraf
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 357
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PENGAKUAN

Gebby,
katakan kita orang berdosa—
bukan untuk mengadili,
melainkan untuk meletakkan batu-batu luka
di altar yang sama.

Namamu gugur di kertas sunyi
seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah;
aku menulis, lalu mengakui kebodohanku,
mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka.

Di matamu, kutemukan langit yang lain,
yang merengkuh semua kesalahan,
menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh
di antara napas kita yang belum sembuh.

Katakan kita orang berdosa
supaya cinta ini tahu bentuknya
bukan suci, tapi bertahan;
bukan sempurna, namun setia pulang.

Gebb,
katakan kita orang berdosa, lalu tertawalah
karena dosa itu hanya nama untuk manusia yang mencoba.

Di antara noktah dan jeda sajakku,
terdengar bisik yang tak kenal malu
bahwa kita juga pernah tersesat,

Kau dan aku, dua bayang yang memegang tangan,
menyusuri lorong-lorong kesalahan,
menyalakan lilin kecil setiap kali gelap melahap.

Katakan kita orang berdosa;
karena seandainya bukan begitu,
siapa lagi yang akan mengajarkan kita cara berbelas kasih?

BAHASA SUNYI

Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya

Kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
“kesunyian sedang menenun puisi”
menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.

Puisi memanggilku kembali
pulang merengkuh sepi
dengan telinga dan mata pena
kuamati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun

Kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku

Kudengar nama-Mu dibisik keheningan
dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati

Puisi memanggilku kembali
membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
seumpama manusia yang berbeda
-tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama

Maka percayalah puisiku
antara kau dan aku
:cinta tak terlahir dari apapun
ia ada sebelum tangis pertama kita
memecah kecemasan manusia

Puisiku
aku pulang,
mendekapmu penuh seluruh

(Telaga Bestari 20 Maret 2025)

KAU YANG BERDENYUT DI JANTUNG PUISIKU

Malam telah menampakkan wajahnya. Sunyi menepi di jantung.
Namun, puisi masih ingin menyentuhmu,..

Mari, berdiamlah di jantungku
yang selalu menyeru namamu lebih sering daripada detaknya.

Puisi masih ingin menyentuhmu.

menyentuhmu

Aku milikmu malam ini, Puisi
lucutilah segala sunyi dari tubuhku
sentuhlah sentuh kesedihan ini hingga lekuk paling rahasia

Kecupkan bahasa di bibir waktu, biarkan malam melepas helai demi helai detik: menelanjangi detak rindu, yang berdenyut di ingatanku.

yang unggun boleh kayu bakar, kekasih. Namun yang menghantarkan hangat itu sekal tubuhmu yang lebih jari dari api; yang lebih jalar dari sunyi dan cemas.

Aku milikmu malam ini, puisi.
lucutilah segala sunyi dari tubuhku

Entah dengan bahasa apa Tuhan mengenalkan cinta,
sesuatu yang tumbuh dari pengasingan manusia,
berpucuk menjuntai hati, berakar tunggang di tubuhku, menjadi degup yang tak mampu diurai waktu

bacalah aku pada pagi embunmu; siang peluhmu; atau malam sepimu
sebagai puisi yang menemukan dirinya; rindu yang bertubuh.
memelukmu dengan seribu satu cara
ia belajar menyelipkan pelukannya dalam bunyi dan katakata
yang tak bisa diterjemahkannya kepada punggung dan bahumu

Helena Lose Beraf– Bidan, Guru, penulis, pecinta Sastra. Di tengah dunia yang terlalu gaduh berbicara, aku memilih tinggal di antara puisi, kesunyian, dan kata-kata yang masih memiliki jiwa.

  • Penulis: Helena Lose Beraf
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 280
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Julianti Monalisa
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Oleh : Julianti Monalisa Bertumbuh dari Sebuah Perpisahan Ibu saya lahir pada 17 April 1979 di Pekalongan, Jawa Tengah. Delapan tahun pertama hidupnya ia habiskan di sana, di tengah keluarga dan terutama nenek yang sangat dekat dengannya. Kedekatan itu bukan sekadar cerita yang saya dengar setelah dewasa. Bagi ibu, nenek adalah tempat ia merasa nyaman. […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 876
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.489
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

expand_less