Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

  • account_circle Helena Lose Beraf
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 251
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PENGAKUAN

Gebby,
katakan kita orang berdosaβ€”
bukan untuk mengadili,
melainkan untuk meletakkan batu-batu luka
di altar yang sama.

Namamu gugur di kertas sunyi
seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah;
aku menulis, lalu mengakui kebodohanku,
mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka.

Di matamu, kutemukan langit yang lain,
yang merengkuh semua kesalahan,
menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh
di antara napas kita yang belum sembuh.

Katakan kita orang berdosa
supaya cinta ini tahu bentuknya
bukan suci, tapi bertahan;
bukan sempurna, namun setia pulang.

Gebb,
katakan kita orang berdosa, lalu tertawalah
karena dosa itu hanya nama untuk manusia yang mencoba.

Di antara noktah dan jeda sajakku,
terdengar bisik yang tak kenal malu
bahwa kita juga pernah tersesat,

Kau dan aku, dua bayang yang memegang tangan,
menyusuri lorong-lorong kesalahan,
menyalakan lilin kecil setiap kali gelap melahap.

Katakan kita orang berdosa;
karena seandainya bukan begitu,
siapa lagi yang akan mengajarkan kita cara berbelas kasih?

BAHASA SUNYI

Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya

Kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
“kesunyian sedang menenun puisi”
menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.

Puisi memanggilku kembali
pulang merengkuh sepi
dengan telinga dan mata pena
kuamati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun

Kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku

Kudengar nama-Mu dibisik keheningan
dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati

Puisi memanggilku kembali
membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
seumpama manusia yang berbeda
-tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama

Maka percayalah puisiku
antara kau dan aku
:cinta tak terlahir dari apapun
ia ada sebelum tangis pertama kita
memecah kecemasan manusia

Puisiku
aku pulang,
mendekapmu penuh seluruh

(Telaga Bestari 20 Maret 2025)

KAU YANG BERDENYUT DI JANTUNG PUISIKU

Malam telah menampakkan wajahnya. Sunyi menepi di jantung.
Namun, puisi masih ingin menyentuhmu,..

Mari, berdiamlah di jantungku
yang selalu menyeru namamu lebih sering daripada detaknya.

Puisi masih ingin menyentuhmu.

menyentuhmu

Aku milikmu malam ini, Puisi
lucutilah segala sunyi dari tubuhku
sentuhlah sentuh kesedihan ini hingga lekuk paling rahasia

Kecupkan bahasa di bibir waktu, biarkan malam melepas helai demi helai detik: menelanjangi detak rindu, yang berdenyut di ingatanku.

yang unggun boleh kayu bakar, kekasih. Namun yang menghantarkan hangat itu sekal tubuhmu yang lebih jari dari api; yang lebih jalar dari sunyi dan cemas.

Aku milikmu malam ini, puisi.
lucutilah segala sunyi dari tubuhku

Entah dengan bahasa apa Tuhan mengenalkan cinta,
sesuatu yang tumbuh dari pengasingan manusia,
berpucuk menjuntai hati, berakar tunggang di tubuhku, menjadi degup yang tak mampu diurai waktu

bacalah aku pada pagi embunmu; siang peluhmu; atau malam sepimu
sebagai puisi yang menemukan dirinya; rindu yang bertubuh.
memelukmu dengan seribu satu cara
ia belajar menyelipkan pelukannya dalam bunyi dan katakata
yang tak bisa diterjemahkannya kepada punggung dan bahumu

Helena Lose Beraf– Bidan, Guru, penulis, pecinta Sastra. Di tengah dunia yang terlalu gaduh berbicara, aku memilih tinggal di antara puisi, kesunyian, dan kata-kata yang masih memiliki jiwa.

  • Penulis: Helena Lose Beraf
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 217
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: β€œKita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL β€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL β€œDILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 601
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul β€œDilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai β€œbeban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 180
    • 0Komentar

    β€œKamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 278
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 259
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 271
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, β€œkita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

expand_less