Breaking News
light_mode
Trending Tags

AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 240
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik)

Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas saya. Jujur harus saya sampaikan di sini bahwa saya adalah bagian dari, The Quote Machine: Aku Ingat Kutipan, Tapi Bukan Buku Itu Sendiri. Artinya mereka (pembaca) mengutip kalimat-kalimat terkenal tanpa benar-benar memahami maknanya dalam konteks. Kata-kata itu menjadi hiasan belaka, bukan pemahaman. (Dari Book Shaming Hingga Kutipan Kosong: Mengenali Red Flag Pembaca Buku). Saya menemukan ini di laman Facebook Kak Mamah Suherman.

Mari kita lanjut dengan Ambivert karya Arshy Mentari. Kita perlu berkenalan secara singkat dengan penulis yang satu ini. Perkenalan itu saya kutip secara utuh biodatanya pada bagian tentang penulis yang ada dalam buku ini. Arshy M., Perempuan berdarah Jawa yang lahir di penghujung tahun 1995. Selepas menyelesaikan Pendidikan S-1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memutuskan menetap di Kota Pelajar ini dan bekerja pada salah satu Perusahaan pialang. Ambivert menjadi karya pertama gadis kelahiran Cilacap ini yang berhasil diterbitkan secara komersial. Karya yang lahir dari ketertarikan pada membaca, bercerita, dan menerka-nerka perasaan orang-orang di sekitarnya. Secara ringkas, itulah tentang penulis. Selanjutnya, mari kita berkelana dengan isi bukunya melalui, lagi dan lagi ulasan ringkas dari saya.

Blurb dari buku ini jelas-jelas mengangkat isu tentang Perempuan yang tergambar melalui si tokoh Aku. Tentang Perempuan pada umumnya, yang sering kita jumpai dalam kehidupan sekitar. Tentang persahabatannya, percintaan, penolakan, pengkhianatan, serta dilema-dilema yang dihadapi.

Dan hal itu yang memantik saya untuk membeli buku ini. Jujur, sebagai seorang pembaca yang memang jauh dari toko buku, tinggal di salah satu kampung di pelosok NTT, menyebut toko buku, itu sangat-sangat asing. Syukur karena ada toko buku online. Dengan demikian memudahkan saya untuk bisa menemukan buku kesukaan dengan terlebih dahulu memastikan bahwa buku tersebut original. Pada waktu itu, tidak hanya Ambivert yang dibeli, ada beberapa buku dari penerbit yang sama.

Di dalam Ambivert, penulis membaginya menjadi tiga bagian. Ia dan Mereka yang Berbisik, Mengenai Kita, dan Menjadi diri Sendiri. Ini adalah monolog yang menarik. Si Aku bermain-main dengan beragam property yang begitu menakjubkan. Berangkat dari rumah, menjadi anak tengah, pendiam dan selalu menyendiri. Dan ada pernyataan yang menarik di sini yakni, tidak menempuh pendidikan bukan berarti berhenti tentang pemikiran (hal, 9). Saya duduk di depan panggung pementasan monolog ini, saya membayangkan itu. Di dalam pergolakan hidup yang dialami si aku, tentu ada fase di mana ia pernah mengalami krisis saat terpikirkan untuk mengejar karier, membicarakan pernikahan yang berujung pertengkaran, merencanakan insvestasi. Hal ini nyata dalam ungkapan, umur bertambah, tetapi dewasa tak kunjung bertambah. Setiap usia berlalu, selalu ada masalah baru, penyesalan baru. Berulang begitu entah sampai kapan (hal, 9). Ini adalah kenyataan dunia dewasa ini. Banyak sekali krisis-krisis dalam diri yang sering dialami, kebanyakan adalah perempuan.

Saya memberikan tepuk tangan paling kencang, sebentar terdiam, dipukul oleh pernyataan yang menohok. Si aku benar-benar sadar akan realitas yang sedang diakrabinya. Ia berusaha untuk ke luar dari zona tersebut tetapi dijebak oleh kenyataan, membiarkan diri bersedih terlalu lama dengan satu masalah sederhana, patah hati misal, adalah kesulitan luar biasa (hal, 13).

Pernyataan di atas adalah hal yang sering ditemukan di tengah masyarakat kita, khususnya bagi para remaja yang sedang dalam proses menuju dewasa. Mengalami persoalan yang hampir dialami oleh semua umat manusia. Soal patah hati, adalah soal yang biasa tetapi sulit untuk dihilangkan.

Ada bagian lain yang menarik dari buku ini yakni, keterbukaan memang bukan milik semua manusia. Adakalanya seseorang dengan sifat tertutupnya sangat sulit menjawab berbagai pertanyaan yang datang padanya, detail, lengkap bahkan rahasia (hal, 31). Seperti judul buku ini, ketika merujuk pada KBBI Online versi 1.0.0(100) Ambiver(t) adalah orang yang memiliki karakteristik ekstrover dan introver. Ada hal yang memang sulit sekali ditemukan dengan mudah ketika berhadapan dengan orang yang berkarakter seperti ini. Arshy melalui si aku sedang bermain-main dengan dua karakter ini di atas panggung monolog.

Dan sepakat bahwa, dunia ini memang tempatnya mencari. Maka jika sudah merasa menemukan, mungkin itu persinggahan. Bukan pelabuhan. Jangan berhenti karena lupa diri (hal, 107). Manusia sering dengan cepat merasa puas dengan segala pencapaiannya. Semua yang sedang dialaminya, sebentar juga akan lekas, tinggal bekas dalam rupa kenangan.

Sampai pada titik ini, saya menjadi sadar dalam menghadapi kenyataan. Banyak hal-hal tak terduga dialami oleh anak-anak remaja yang kemudian menjadi dewasa dan menua. Saya mungkin tidak mengalami sepenuhnya seperti kisah si aku dalam Ambivert. Jujur, hidup di kampung dan jauh dari persoalan-persoalan perkotaan, khususnya yang dialami para remaja menuju dewasa dan menua, tentunya sangat asyik. Tetapi, pengalaman seperti itu tentunya menarik dan menjadi pelajaran dalam hidup ini. Boleh dikatakan, ada yang kurang selama menikmati kesementaraan ini. Dan tentang cinta, betapa pun kita mencintai seseorang, pada waktunya akan menemukan kekurangan, kesulitan, dan tantangan (hal, 108).   

Adalah hal yang lumrah, yang terjadi pada dewasa ini. Soal jatuh dan patah, menemukan dan setelahnya mengalami kehilangan, tentunya menyakitkan. Ada tantangan yang menguatkan. Ada banyak kejutan yang dialami dan selalu memberi arti.

Pada akhirnya, risalah sederhana dari saya bisa menjadi ruang silang pendapat tentang banyak hal yang dialami oleh Perempuan. Ruang-ruang ekspresif dibatasi dengan dalil lemah dan tidak bisa melakukan hal-hal berat yang dilakukan oleh kaum pria. Ada kelas pemisah yang jelas di sini, perempuan dan lelaki. Karena sistem kelas yang dibangun, ketimpangan pun sering terjadi. Jelas ada korban di sana.

Lalu, kita harus buat apa? Berikan ruang ekpresi sebebas mungkin dalam menyuarakan kegelisahan seperti yang dilakukan Arshy melalui Ambivert. Ya, meskipun ini hanyalah sebuah kisah fiksi, tetapi ada sesuatu yang sudah dipersiapkan dengan matang seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia rekaan. Segala peristiwa di dalam dunia nyata boleh terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas sebab-akibatnya— agar masuk akal.”

Semoga melalu tulisan sederhana ini, semakin banyak orang yang akhirnya membeli buku ini dan membacanya, melihat realitas di sekitar dan menjadi peka terhadap kenyataan yang menyakitkan salah satu pihak.

Berani terlibat dalam tindakan pencegahan jika terjadi kekrasan, apa pun jenisnya jika itu jelas-jelas merugikan. Jangan takut bersuara meskipun sering dibungkam.

Ya, saya minta maaf jika risalah sederhana dan ringkas ini tidak bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang buku Ambivert ini. Sekali lagi, saya minta maaf. Selamat membaca.

Pondok Baca Mataleza, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 329
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

expand_less