AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar
- account_circle Fian N
- calendar_month Senin, 20 Apr 2026
- visibility 166
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik)
Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas saya. Jujur harus saya sampaikan di sini bahwa saya adalah bagian dari, The Quote Machine: Aku Ingat Kutipan, Tapi Bukan Buku Itu Sendiri. Artinya mereka (pembaca) mengutip kalimat-kalimat terkenal tanpa benar-benar memahami maknanya dalam konteks. Kata-kata itu menjadi hiasan belaka, bukan pemahaman. (Dari Book Shaming Hingga Kutipan Kosong: Mengenali Red Flag Pembaca Buku). Saya menemukan ini di laman Facebook Kak Mamah Suherman.
Mari kita lanjut dengan Ambivert karya Arshy Mentari. Kita perlu berkenalan secara singkat dengan penulis yang satu ini. Perkenalan itu saya kutip secara utuh biodatanya pada bagian tentang penulis yang ada dalam buku ini. Arshy M., Perempuan berdarah Jawa yang lahir di penghujung tahun 1995. Selepas menyelesaikan Pendidikan S-1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memutuskan menetap di Kota Pelajar ini dan bekerja pada salah satu Perusahaan pialang. Ambivert menjadi karya pertama gadis kelahiran Cilacap ini yang berhasil diterbitkan secara komersial. Karya yang lahir dari ketertarikan pada membaca, bercerita, dan menerka-nerka perasaan orang-orang di sekitarnya. Secara ringkas, itulah tentang penulis. Selanjutnya, mari kita berkelana dengan isi bukunya melalui, lagi dan lagi ulasan ringkas dari saya.
Blurb dari buku ini jelas-jelas mengangkat isu tentang Perempuan yang tergambar melalui si tokoh Aku. Tentang Perempuan pada umumnya, yang sering kita jumpai dalam kehidupan sekitar. Tentang persahabatannya, percintaan, penolakan, pengkhianatan, serta dilema-dilema yang dihadapi.
Dan hal itu yang memantik saya untuk membeli buku ini. Jujur, sebagai seorang pembaca yang memang jauh dari toko buku, tinggal di salah satu kampung di pelosok NTT, menyebut toko buku, itu sangat-sangat asing. Syukur karena ada toko buku online. Dengan demikian memudahkan saya untuk bisa menemukan buku kesukaan dengan terlebih dahulu memastikan bahwa buku tersebut original. Pada waktu itu, tidak hanya Ambivert yang dibeli, ada beberapa buku dari penerbit yang sama.
Di dalam Ambivert, penulis membaginya menjadi tiga bagian. Ia dan Mereka yang Berbisik, Mengenai Kita, dan Menjadi diri Sendiri. Ini adalah monolog yang menarik. Si Aku bermain-main dengan beragam property yang begitu menakjubkan. Berangkat dari rumah, menjadi anak tengah, pendiam dan selalu menyendiri. Dan ada pernyataan yang menarik di sini yakni, tidak menempuh pendidikan bukan berarti berhenti tentang pemikiran (hal, 9). Saya duduk di depan panggung pementasan monolog ini, saya membayangkan itu. Di dalam pergolakan hidup yang dialami si aku, tentu ada fase di mana ia pernah mengalami krisis saat terpikirkan untuk mengejar karier, membicarakan pernikahan yang berujung pertengkaran, merencanakan insvestasi. Hal ini nyata dalam ungkapan, umur bertambah, tetapi dewasa tak kunjung bertambah. Setiap usia berlalu, selalu ada masalah baru, penyesalan baru. Berulang begitu entah sampai kapan (hal, 9). Ini adalah kenyataan dunia dewasa ini. Banyak sekali krisis-krisis dalam diri yang sering dialami, kebanyakan adalah perempuan.
Saya memberikan tepuk tangan paling kencang, sebentar terdiam, dipukul oleh pernyataan yang menohok. Si aku benar-benar sadar akan realitas yang sedang diakrabinya. Ia berusaha untuk ke luar dari zona tersebut tetapi dijebak oleh kenyataan, membiarkan diri bersedih terlalu lama dengan satu masalah sederhana, patah hati misal, adalah kesulitan luar biasa (hal, 13).
Pernyataan di atas adalah hal yang sering ditemukan di tengah masyarakat kita, khususnya bagi para remaja yang sedang dalam proses menuju dewasa. Mengalami persoalan yang hampir dialami oleh semua umat manusia. Soal patah hati, adalah soal yang biasa tetapi sulit untuk dihilangkan.
Ada bagian lain yang menarik dari buku ini yakni, keterbukaan memang bukan milik semua manusia. Adakalanya seseorang dengan sifat tertutupnya sangat sulit menjawab berbagai pertanyaan yang datang padanya, detail, lengkap bahkan rahasia (hal, 31). Seperti judul buku ini, ketika merujuk pada KBBI Online versi 1.0.0(100) Ambiver(t) adalah orang yang memiliki karakteristik ekstrover dan introver. Ada hal yang memang sulit sekali ditemukan dengan mudah ketika berhadapan dengan orang yang berkarakter seperti ini. Arshy melalui si aku sedang bermain-main dengan dua karakter ini di atas panggung monolog.
Dan sepakat bahwa, dunia ini memang tempatnya mencari. Maka jika sudah merasa menemukan, mungkin itu persinggahan. Bukan pelabuhan. Jangan berhenti karena lupa diri (hal, 107). Manusia sering dengan cepat merasa puas dengan segala pencapaiannya. Semua yang sedang dialaminya, sebentar juga akan lekas, tinggal bekas dalam rupa kenangan.
Sampai pada titik ini, saya menjadi sadar dalam menghadapi kenyataan. Banyak hal-hal tak terduga dialami oleh anak-anak remaja yang kemudian menjadi dewasa dan menua. Saya mungkin tidak mengalami sepenuhnya seperti kisah si aku dalam Ambivert. Jujur, hidup di kampung dan jauh dari persoalan-persoalan perkotaan, khususnya yang dialami para remaja menuju dewasa dan menua, tentunya sangat asyik. Tetapi, pengalaman seperti itu tentunya menarik dan menjadi pelajaran dalam hidup ini. Boleh dikatakan, ada yang kurang selama menikmati kesementaraan ini. Dan tentang cinta, betapa pun kita mencintai seseorang, pada waktunya akan menemukan kekurangan, kesulitan, dan tantangan (hal, 108).
Adalah hal yang lumrah, yang terjadi pada dewasa ini. Soal jatuh dan patah, menemukan dan setelahnya mengalami kehilangan, tentunya menyakitkan. Ada tantangan yang menguatkan. Ada banyak kejutan yang dialami dan selalu memberi arti.
Pada akhirnya, risalah sederhana dari saya bisa menjadi ruang silang pendapat tentang banyak hal yang dialami oleh Perempuan. Ruang-ruang ekspresif dibatasi dengan dalil lemah dan tidak bisa melakukan hal-hal berat yang dilakukan oleh kaum pria. Ada kelas pemisah yang jelas di sini, perempuan dan lelaki. Karena sistem kelas yang dibangun, ketimpangan pun sering terjadi. Jelas ada korban di sana.
Lalu, kita harus buat apa? Berikan ruang ekpresi sebebas mungkin dalam menyuarakan kegelisahan seperti yang dilakukan Arshy melalui Ambivert. Ya, meskipun ini hanyalah sebuah kisah fiksi, tetapi ada sesuatu yang sudah dipersiapkan dengan matang seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia rekaan. Segala peristiwa di dalam dunia nyata boleh terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas sebab-akibatnya— agar masuk akal.”
Semoga melalu tulisan sederhana ini, semakin banyak orang yang akhirnya membeli buku ini dan membacanya, melihat realitas di sekitar dan menjadi peka terhadap kenyataan yang menyakitkan salah satu pihak.
Berani terlibat dalam tindakan pencegahan jika terjadi kekrasan, apa pun jenisnya jika itu jelas-jelas merugikan. Jangan takut bersuara meskipun sering dibungkam.
Ya, saya minta maaf jika risalah sederhana dan ringkas ini tidak bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang buku Ambivert ini. Sekali lagi, saya minta maaf. Selamat membaca.
Pondok Baca Mataleza, 2026
- Penulis: Fian N
- Editor: Gregorius Nggadung

Saat ini belum ada komentar