Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • account_circle Helena Beraf
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 523
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.

Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.

Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.

Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โ€œbekalโ€. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.

Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.

Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย  “๐™‹๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.

Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย  Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.

Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต-๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜” ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ “๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โ€œperempuan baik-baikโ€.

Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.

Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย  Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.

Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย  Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.

Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ ๐™ช๐™ฃ๐™˜๐™ž ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™œ๐™–๐™ฅ ๐™จ๐™š๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ž ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™– ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™—๐™ช๐™™๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ. ๐™†๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.

๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™™๐™– ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™ข๐™ค๐™™๐™š๐™ง๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž ๐™œ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™—๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™ข๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™˜๐™ค๐™ ๐™ค๐™ก ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ข ๐™ข๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™–; ๐™—๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ.

Jakarta, 5 April

  • Penulis: Helena Beraf
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 228
    • 2Komentar

    ini puisi apa?ย  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 101
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA โ€œDI BAWAH TELAPAK KAKIโ€

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA โ€œDI BAWAH TELAPAK KAKIโ€

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 386
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 174
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

expand_less