Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • account_circle Helena Beraf
  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • visibility 608
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya.

Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali menjelaskan panjang lebar tentang masa menstruasi yang menandakan secara biologis perempuan sudah bisa mengandung dan melahirkan. Mama juga menasihati perihal pergaulan remaja, kecenderungan pacaran yang tidak sehat, hubungan perempuan dan laki-laki hingga efek menikah di usia muda. Mama begitu getol mengedukasi saya perihal risiko hamil usia muda; mulai dari alat reproduksi yang belum matang, hingga kesiapan psikis dan ekonomi.

Setelah bertumbuh dewasa, jauh merantau, saya menemukan pengalaman dalam perjumpaan dengan pelbagai individu terkait pengalaman-pengalaman mereka. Di sana saya seperti melihat “diri kecil” saya yang dulu pernah menjadi remaja belia yang selalu dinasihati dan dibimbing. Saya percaya bahwa pada sebuah kejadian atau pengalaman yang dialami oleh seorang dimasa sekarang maupun dimasa depan, selalu tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Dimana nilai-nilai hidup diinfuskan.

Ketika berkarya sebagai seorang bidan, saya kerapkali menemukan beberapa kejadian kehamilan remaja. Bahkan pernah saya mendampingi seorang pasien yang hamil di usia yang masih sangat belia yakni 13 tahun. Beruntung ia selamat. Saya pun bergumul dalam hati, bagaiamana ia harus menghidupi bayinya diusia yang masih sangat belia dan tentu belum cukup โ€œbekalโ€. Mungkin seharusnya ia masih menikmati masa-masa remajanya sebagai seorang pelajar. Namun apa daya, situasi telah memaksa dia menjadi seorang ibu diusia belia.

Merantau dan tinggal di Jakarta membuat saya melihat dunia tidak se-ideal dan semuluk seperti nasihat ibu. Di Jakarta ataupun di kota-kota besar lainnya kasus aborsi, pelecahan seksual, kehamilan remaja seolah sudah menjadi fenomena yang lumrah. Dan lagi-lagi mayoritas korbannya ialah perempuan dan anak.

Pada suatu kesempatan saya turun ke masyarakat mendampingi dan mendata kasus kematian ibu dan bayi serta kehamilan remaja. Sungguh miris melihat nasib perempuan yang adalah ibu, sekaligus istri dan anak. Saya teringat kata mama saya:ย  “๐™‹๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž”. Menjaga diri yang dimaksudkan mama ternyata memiliki makna yang luas. Dan saya kira nasihat serupa umumnya diwejangkan kepada anak perempuan oleh orang tua mereka.

Saya setuju. Saya merefleksikan bahwa menjaga diri itu tidak sekadar menjaga tubuh secara biologis, tetapi juga perempuan perlu menjaga dan merawat pikirannya agar tetap kritis. Ia bisa belajar, tumbuh dan berhak meraih cita-citanya. Perempuan harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hubungan tidak sehat yang bisa membahayakan masa depannya. Fenomena kekerasan cenderung terjadi ketika adanya relasi kuasa antara pelaku dan korban.ย  Begitu juga yang dialami perempuan; karena adanya relasi kuasa patriarki yang sebenarnya masih bercokol dalam masyarakat kita, bahkan sejak dalam pikiran.

Kembali lagi dengan anggapan masyarkat bahwa perempuan harus bisa menjaga dirinya, (jaga tubuh terutama) agar tidak membuat malu keluarga dan lain-lain. Banyak sekali nasihat semacam itu yang lumrah. Bagi saya ini ironi. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต-๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜” ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ด๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ “๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. Menyinggung hal ini ada keresahan yang hendak saya utarakan perihal konsep penghormatan. Mengapa laki-laki cenderung dihormati ketika ia berhasil meraih kesuksesan misalnya dalam bidang pendidikan maupun finansial? Sedangkan perempuan dihormati ketika dia berhasil menjaga tubuh biologisnya (kelamin)? Ketika perempuan berhasil melakukan ini, maka ia akan dinilai sebagai โ€œperempuan baik-baikโ€.

Kembali ke kasus-kasus yang saya temukan semasa mendampingi perempuan “malang” di atas. Dimana mereka mengalami kehamilan dengan kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) akibat kurang asupan gizi, beban psikologi, kemiskinan, status sosial, pergunjingan di masyarakat, tidak ada pendampingan orang tua, kurangnya penerimaan, keterbatasan pengetahuan dan lain sebagainya. Ini salah siapa? Apakah karena mereka; perempuan-perempuan malang ini lalai menjaga diri, lalai menjaga kehormatan, lalai dalam bergaul. Banyak sekali kasus kehamilan remaja (di luar nikah) yang menjadi bahan gosip dalam masyarakat, yang mana mirisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. Mereka menjudge, mempersalahkan, mempergunjingkannya. Kemudian mereka menasihati anak perempuannya agar tidak bernasib sama.

Hemat saya, nasihat- nasihat ini belum lengkap dan bahkan sia-sia jika tidak diberikan juga kepada anak laki-laki. Bukankah tubuh laki-laki juga berharga dan perlu dijaga? Saya memandang laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Diciptakan sebagai Citra Allah yang unik. Jika perempuan punya alat reproduksi, laki-laki pun sama.ย  Jika perempuan dilarang memakai pakaian seksi dan minim, laki-laki pun perlu diberi pengetahuan bahwa tubuhnya berharga, tubuhnya perlu dijaga. Ia juga perlu dibekali pengetahuan untuk bagaimana menggunakan alat reproduksinya dengan benar dan bertanggung jawab, serta mematuhi norma dalam berelasi dengan lawan jenis.

Laki-laki perlu juga diberi edukasi perihal risiko menikah muda; kesiapan psikis dan ekonomi. Laki-laki perlu juga diajarkan bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih. Sehingga kasus aborsi, penelantaran perempuan dan anak serta kekerasan terhadap perempuan tidak banyak terjadi. Konsep tentang gender equality semestinya diajarkan kepada perempuan dan laki-laki sekaligus.ย  Lalu pertanyaannya ialah, dimanakah mereka belajar tentang keseteraan gender? Jawabannya adalah keluarga. Keluarga adalah entitas terkecil dalam masyarakat; tempat segala nilai dan normal ditanamkan.

Dengan memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara sama dan adil keluarga mengambil bagian dalam mengupayakan keseteraan gender. ๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฉ๐™ช, ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ ๐™ช๐™ฃ๐™˜๐™ž ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™œ๐™– ๐™œ๐™–๐™ฅ ๐™จ๐™š๐™๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™™๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ง๐™š๐™ก๐™–๐™จ๐™ž ๐™ ๐™ช๐™–๐™จ๐™– ๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™—๐™ช๐™™๐™–๐™ฎ๐™– ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ. ๐™†๐™š๐™–๐™™๐™ž๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™–๐™™๐™– ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ. Pikiran yang benar melahirkan tindakan yang benar. Tindakan yang benar tentu mampu “menyelamatkan”.

๐™†๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™™๐™– ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™ข๐™ค๐™™๐™š๐™ง๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž ๐™œ๐™–๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™–๐™ฃ ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ง, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™—๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™—๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™–๐™ง๐™ ๐™ž ๐™ข๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™˜๐™ค๐™ ๐™ค๐™ก ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™จ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™š๐™ข ๐™ข๐™–๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™–; ๐™—๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ฅ๐™ž๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ.

Jakarta, 5 April

  • Penulis: Helena Beraf
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 495
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6 ย ย ย  Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 1.085
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 287
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 287
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

expand_less