Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gender

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—˜๐— ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š-๐—•๐—”๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฃ๐—”๐—ง๐—ฅ๐—œ๐—”๐—ฅ๐—ž๐—œ?

  • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
  • account_circle Helena Beraf
  • visibility 452
  • 0Komentar

Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

expand_less