Breaking News
light_mode
Trending Tags

Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
  • visibility 294
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Sekarang, kepalanya sudah pergi.”

Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.

“Sebentar lagi, Sempati akan memulai hidup tanpa kepalanya. Dia tinggal mengikuti semua petunjuk di kertas. Lima sila tertera jinak beriak. Pasti tak ada hambatan.

  1. Buka lilitan resleting yang melilit jakun.
  2. Ceraikan baut dari mur hingga talak delapan.
  3. Telan dan tahan ludah dalam-dalam.
  4. Tekan kedua tombol penghambat laju aliran darah secara bersamaan.
  5. Pegangi kedua kuping, lalu tarik kepala ke atas dengan keras hingga terlepas.โ€

Cara yang tidak masuk akal. Apakah ada resleting pada jakun manusia? Apakah ada baut dan mur yang menetap di sana? Yang pasti, tidak! Lalu apa?

Triskaidekaman, setelah berhasil menulis novel debutnya, ‘Panduan Matematika Terapan,’ mencoba kembali hadir dengan eksperimen-eksperimen mutakhir. Sebuah karya fiksi yang serentak ilmiah, baik novel pertama maupun novel keduanya ini, CBTK. Karya fiksi yang hadir dengan cara yang tak lazim seperti pada karya-karya fiksi lainnya. Mencoba mendobrak zona nyaman karya sastra umumnya. Hadir dengan balutan berbeda, dengan kosa kata baru. Pembaca akan dibuatnya terkejut serentak celetuk, ini novel apa? Ngeri ketika membaca secara keseluruhan.

“Uang tak akan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit dari pada celana. Tubuh kita pun fana. Bagaimana solusinya? Tebang masalahmu, bebaskan kepalamu. Kepala ialah sumber segala mudarat dan ide keparat.” Hal lain yang menarik di sini adalah, “kepala tak boleh ditaruh di sembarang tempat. Alasannya karena itu kepala, bukan sampah.” Dua hal kontradiksi serentak menimbulkan pemahaman baru. Yang dibebaskan adalah persoalan yang bercokol pada kepala. Tempatkan kepala dan isinya pada tempatnya. Sebab, kebebasan menjadi milik orang yang merdeka, yang berani menyelesaikan persoalan yang selalu dipersoalkan oleh kepala-kepala manusia yang lain.

Novel yang terdiri dari lima bagian ini, dimulai dengan ‘Hilang’. Langkah-langkah awal yang ditempuh untuk melepaskan kepala sampai dengan jaminan yang janggal, penuh tanda tanya. Tidak ada asuransi dan menemukan kematian bila waktunya habis, ini sadis dan miris. Sebuah praktik yang dilarang pemerintah. Tetapi di lain pihak, pemerintah juga menghadirkan persoalan pelik di dalam kehidupan manusia. “Undang-undang dan pemerintahan, sama-sama mencibir. Mudah membubuhkan cap kriminal tetapi selalu kesulitan membersihkannya,….”

Bagian pertama berakhir dengan kehilangan akan siapa diri saya sebenarnya. Apakah kepala adalah sumber segala masalah? Apakah kepala adalah muasal segala persoalan?

“Ada rahasia yang serupa es krim: kita tak pernah rela membagikannya, tetapi sekali saja ketahuan, mau tak mau harus berbagi. Ada juga rahasia yang seperti ciuman: hanya enak didekap berdua, dan orang ketiga hanya akan mengacaukan. Saya tak tahu saya ini orang kedua di rahasia es krim, atau orang ketiga di rahasia ciuman.”

Manusia terjebak dalam rahasia yang diciptakannya sendiri. Memenuhi isi kepala dan berdesakkan di dalamnya. Lamat-lamat, dilema memenuhi ruang berpikir, berbagi atau memendamnya sendirian. Menjadi konsumsi pribadi atau layak dibagi dengan yang lain. Apakah ada yang harus dibuang? Apakah saya harus berlari yang jauh? Menangis yang diam?

Manusia akhirnya memilih untuk membuang semuanya. Menjadikannya sebagai kenangan yang serba salah, penuh dengan penyesalan. Hal itu seperti pertanyaan ini, apa artinya uang ketika bersanding dengan penyesalan?

Kenang, Datang dan Pulang adalah bagian akhir dari novel ini. Ada satu dan bisa jadi banyak hal yang hanya bisa dikenang oleh manusia dan manusia tidak bisa menafikan itu. Hal inilah yang membuat semua itu menjadi kenangan. Manusia tak bisa luput dari kenangan. Sekuat-kuatnya manusia berusaha untuk melupakan semua itu, tetapi ada satu yang tak bisa ditolak, kenangan. Disadari atau tidak, kenangan itu akan datang tiba-tiba tanpa diminta. Sebab, sebagai makhluk pejalan, manusia selalu diingatkan dan ditautkan pertemuan yang sudah dengan pertemuan yang akan. Dan di sana, kenangan kembali memenuhi ruang pertemuan untuk dikenang.

Pada bagian ini, Sempati diingatkan kembali pada masa kecilnya. Persoalan-persoalan kebanyakan yang sering terjadi dalam berumah tangga. Ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang melacurkan diri kepada lelaki lain demi pemenuhan kebutuhan anaknya.

“Justru kebutuhan anak itu dicukup-cukupkan ibunya yang melacurkan pukas di etalase demi ditendes lelaki yang beredar di distrik merah-merah.”

Hidup yang kompleks dan kian rumit, memaksakan manusia untuk melakukan apa saja sebagai pemenuhan kebutuhan entah itu mendesak atau tidak, satu yang pasti, bahwa apa yang dibutuhkan selalu tersedia. “Padahal, penderitaan itu bisa singkat saja kalau kita sabar sedikit.”

Seperti Datang, manusia pun harus Pulang. Datang membawa lebam pada ingatan kelam. Pulang pada kenang-kenangan. Guratan ingatan masa silam, sebagai pembaca, saya pun bertanya-tanya, apakah ini sebuah novel? Apakah saya sedang hidup tanpa atau dengan kepala? Pertanyaan yang tak mungkin saya jawab di sini jika hanya saya yang membacanya. Setelahnya, kita akan memojokkan keadaan di sekitar yang begitu serakah, kejam, tidak adil dan penuh keegoisan. Merasa muak dengan keadaan diri sendiri. Merasa jijik dengan pengalaman hidup yang dilakoni. Merasa bosan dengan suasana di sekitar. Tetapi, “semuak-muaknya kamu, masih banyak orang yang mau ada di posisi kamu, Sempati,” pukas Jatayu.

Sampai di sini, Triskaidekaman berhasil menggiring pembaca ke dalam cara berpikir yang kompleks. Memenggal kepala adalah membebaskan diri dari segala keruwetan yang itu-itu saja. Kreativitas ditantang dalam menyikapi persoalan. Tidak hanya pandai tetapi harus bijak dalam penyelesaian. Jika kita dengan gampangnya menuruti tanpa filter, maka yang terjadi di sana adalah penyesalan yang menyusup jadi kenangan.

Oleh karena itu, “jika di dunia manusia memarkirkan kendaraannya, di sini manusia akan memarkirkan kepalanya.” bisik Derai Cemara.

Pogopeo, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 128
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 289
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    Sudut Pandang: Jejak Pengabdian dan Kasih Sayang Felix Japang

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Yunita
    • visibility 138
    • 4Komentar

    Nama: Drs Felix Japang Tempat Tanggal Lahir: Bekek, 30 Mei 1965 Alamat: Desa tadho, kecamatan riung, kabupaten ngada, nusa tenggara timur Meninggal: Bajawa 16 Februari 2012   Mengenal Sosok Felix Japang Felix Japang adalah seorang putra Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, yang lahir Pada tanggal 30 mei 1965. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

expand_less