Breaking News
light_mode
Trending Tags

Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
  • visibility 259
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Sekarang, kepalanya sudah pergi.”

Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh.

“Sebentar lagi, Sempati akan memulai hidup tanpa kepalanya. Dia tinggal mengikuti semua petunjuk di kertas. Lima sila tertera jinak beriak. Pasti tak ada hambatan.

  1. Buka lilitan resleting yang melilit jakun.
  2. Ceraikan baut dari mur hingga talak delapan.
  3. Telan dan tahan ludah dalam-dalam.
  4. Tekan kedua tombol penghambat laju aliran darah secara bersamaan.
  5. Pegangi kedua kuping, lalu tarik kepala ke atas dengan keras hingga terlepas.”

Cara yang tidak masuk akal. Apakah ada resleting pada jakun manusia? Apakah ada baut dan mur yang menetap di sana? Yang pasti, tidak! Lalu apa?

Triskaidekaman, setelah berhasil menulis novel debutnya, ‘Panduan Matematika Terapan,’ mencoba kembali hadir dengan eksperimen-eksperimen mutakhir. Sebuah karya fiksi yang serentak ilmiah, baik novel pertama maupun novel keduanya ini, CBTK. Karya fiksi yang hadir dengan cara yang tak lazim seperti pada karya-karya fiksi lainnya. Mencoba mendobrak zona nyaman karya sastra umumnya. Hadir dengan balutan berbeda, dengan kosa kata baru. Pembaca akan dibuatnya terkejut serentak celetuk, ini novel apa? Ngeri ketika membaca secara keseluruhan.

“Uang tak akan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit dari pada celana. Tubuh kita pun fana. Bagaimana solusinya? Tebang masalahmu, bebaskan kepalamu. Kepala ialah sumber segala mudarat dan ide keparat.” Hal lain yang menarik di sini adalah, “kepala tak boleh ditaruh di sembarang tempat. Alasannya karena itu kepala, bukan sampah.” Dua hal kontradiksi serentak menimbulkan pemahaman baru. Yang dibebaskan adalah persoalan yang bercokol pada kepala. Tempatkan kepala dan isinya pada tempatnya. Sebab, kebebasan menjadi milik orang yang merdeka, yang berani menyelesaikan persoalan yang selalu dipersoalkan oleh kepala-kepala manusia yang lain.

Novel yang terdiri dari lima bagian ini, dimulai dengan ‘Hilang’. Langkah-langkah awal yang ditempuh untuk melepaskan kepala sampai dengan jaminan yang janggal, penuh tanda tanya. Tidak ada asuransi dan menemukan kematian bila waktunya habis, ini sadis dan miris. Sebuah praktik yang dilarang pemerintah. Tetapi di lain pihak, pemerintah juga menghadirkan persoalan pelik di dalam kehidupan manusia. “Undang-undang dan pemerintahan, sama-sama mencibir. Mudah membubuhkan cap kriminal tetapi selalu kesulitan membersihkannya,….”

Bagian pertama berakhir dengan kehilangan akan siapa diri saya sebenarnya. Apakah kepala adalah sumber segala masalah? Apakah kepala adalah muasal segala persoalan?

“Ada rahasia yang serupa es krim: kita tak pernah rela membagikannya, tetapi sekali saja ketahuan, mau tak mau harus berbagi. Ada juga rahasia yang seperti ciuman: hanya enak didekap berdua, dan orang ketiga hanya akan mengacaukan. Saya tak tahu saya ini orang kedua di rahasia es krim, atau orang ketiga di rahasia ciuman.”

Manusia terjebak dalam rahasia yang diciptakannya sendiri. Memenuhi isi kepala dan berdesakkan di dalamnya. Lamat-lamat, dilema memenuhi ruang berpikir, berbagi atau memendamnya sendirian. Menjadi konsumsi pribadi atau layak dibagi dengan yang lain. Apakah ada yang harus dibuang? Apakah saya harus berlari yang jauh? Menangis yang diam?

Manusia akhirnya memilih untuk membuang semuanya. Menjadikannya sebagai kenangan yang serba salah, penuh dengan penyesalan. Hal itu seperti pertanyaan ini, apa artinya uang ketika bersanding dengan penyesalan?

Kenang, Datang dan Pulang adalah bagian akhir dari novel ini. Ada satu dan bisa jadi banyak hal yang hanya bisa dikenang oleh manusia dan manusia tidak bisa menafikan itu. Hal inilah yang membuat semua itu menjadi kenangan. Manusia tak bisa luput dari kenangan. Sekuat-kuatnya manusia berusaha untuk melupakan semua itu, tetapi ada satu yang tak bisa ditolak, kenangan. Disadari atau tidak, kenangan itu akan datang tiba-tiba tanpa diminta. Sebab, sebagai makhluk pejalan, manusia selalu diingatkan dan ditautkan pertemuan yang sudah dengan pertemuan yang akan. Dan di sana, kenangan kembali memenuhi ruang pertemuan untuk dikenang.

Pada bagian ini, Sempati diingatkan kembali pada masa kecilnya. Persoalan-persoalan kebanyakan yang sering terjadi dalam berumah tangga. Ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang melacurkan diri kepada lelaki lain demi pemenuhan kebutuhan anaknya.

“Justru kebutuhan anak itu dicukup-cukupkan ibunya yang melacurkan pukas di etalase demi ditendes lelaki yang beredar di distrik merah-merah.”

Hidup yang kompleks dan kian rumit, memaksakan manusia untuk melakukan apa saja sebagai pemenuhan kebutuhan entah itu mendesak atau tidak, satu yang pasti, bahwa apa yang dibutuhkan selalu tersedia. “Padahal, penderitaan itu bisa singkat saja kalau kita sabar sedikit.”

Seperti Datang, manusia pun harus Pulang. Datang membawa lebam pada ingatan kelam. Pulang pada kenang-kenangan. Guratan ingatan masa silam, sebagai pembaca, saya pun bertanya-tanya, apakah ini sebuah novel? Apakah saya sedang hidup tanpa atau dengan kepala? Pertanyaan yang tak mungkin saya jawab di sini jika hanya saya yang membacanya. Setelahnya, kita akan memojokkan keadaan di sekitar yang begitu serakah, kejam, tidak adil dan penuh keegoisan. Merasa muak dengan keadaan diri sendiri. Merasa jijik dengan pengalaman hidup yang dilakoni. Merasa bosan dengan suasana di sekitar. Tetapi, “semuak-muaknya kamu, masih banyak orang yang mau ada di posisi kamu, Sempati,” pukas Jatayu.

Sampai di sini, Triskaidekaman berhasil menggiring pembaca ke dalam cara berpikir yang kompleks. Memenggal kepala adalah membebaskan diri dari segala keruwetan yang itu-itu saja. Kreativitas ditantang dalam menyikapi persoalan. Tidak hanya pandai tetapi harus bijak dalam penyelesaian. Jika kita dengan gampangnya menuruti tanpa filter, maka yang terjadi di sana adalah penyesalan yang menyusup jadi kenangan.

Oleh karena itu, “jika di dunia manusia memarkirkan kendaraannya, di sini manusia akan memarkirkan kepalanya.” bisik Derai Cemara.

Pogopeo, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 286
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 243
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 186
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

expand_less