Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • visibility 118
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini.

“Kapan nikah?”

Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain.

Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang paling rajin bertanya justru sedang sibuk memperbaiki rumah tangganya sendiri. Atapnya bocor, temboknya retak, tetapi masih sempat menunjuk rumah tetangga yang belum dibangun.

Saya memang belum menikah.
Kalimat itu bukan pengakuan yang memalukan. Ia hanya penanda bahwa saya belum sampai di sana. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang pernikahan.

Sebab hidup ini tidak selalu mengajarkan lewat pengalaman pribadi. Kadang-kadang ia mengajar lewat jendela rumah orang lain.
Dari sepasang mata ini saya melihat rumah-rumah yang berdiri megah dari luar, tetapi di dalamnya penghuni berjalan seperti dua planet yang kehilangan orbit. Mereka tinggal di alamat yang sama, tetapi sudah lama berhenti pulang satu sama lain.
Dari telinga ini saya mendengar begitu banyak cerita.

Ada suami yang setiap pulang membawa lelah, tetapi lupa membawa kasih sayang.
Ada istri yang menerima nafkah, tetapi kehilangan nafkah batin.

Ada pasangan yang begitu sibuk mencari perhatian di luar rumah sampai lupa bahwa orang yang paling haus diperhatikan justru sedang menunggu di ruang tamu.
Ada yang tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya sudah berbeda alamat.
Dan ada yang setiap hari mengunggah foto keluarga penuh senyum, seolah-olah algoritma media sosial bisa menyembunyikan suara tangisan yang dipelankan di balik pintu kamar.
Kita hidup di zaman ketika pesta pernikahan semakin mewah, tetapi percakapan setelah menikah semakin miskin.

Pelaminan dibuat semegah mungkin, sementara kemampuan meminta maaf justru dibangun seadanya. Undangan dicetak dengan tinta emas, tetapi komitmen ditulis dengan pensil yang mudah dihapus.

Mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini tidak takut pada pesta pernikahan. Mereka takut pada hari setelah pesta selesai.

Takut ketika gaun pengantin sudah disimpan.

Takut ketika bunga-bunga mulai layu.
Takut ketika tamu pulang.
Karena saat itulah cinta berhenti menjadi dekorasi dan mulai berubah menjadi pekerjaan.

Dan pekerjaan yang bernama rumah tangga tidak pernah mengenal hari libur. Ironisnya, masyarakat sering menganggap jomlo sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Seolah-olah status lajang adalah penyakit yang membutuhkan resep tercepat: menikah.

Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa menikah bukan obat untuk kesepian.
Dua orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri hanya akan membangun kesepian dalam ukuran yang lebih besar.

Rumah. Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak pesta pernikahan.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak manusia yang selesai berdamai dengan egonya sebelum meminta orang lain hidup bersamanya.

Karena pernikahan bukan sekadar mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Ia mempertemukan dua masa kecil, dua luka, dua cara marah, dua cara meminta maaf, dua keluarga, dua kebiasaan, dua ketakutan, dan berharap semuanya bisa hidup di bawah satu atap tanpa saling membakar.

Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memilih gedung resepsi?
Itulah mengapa menikah tidak cukup bermodal rasa berbunga-bunga.
Ia membutuhkan ilmu agar tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Ia membutuhkan kedewasaan agar ego tidak selalu ingin menang. Dan di atas semuanya, ia membutuhkan rasa takut kepada Tuhan.

Sebab ketika rasa cinta sedang lelah, ketika sabar mulai menipis, ketika godaan datang mengenakan wajah yang lebih menarik, sering kali yang masih mampu menjaga seseorang tetap pulang bukan lagi perasaan, melainkan kesadaran bahwa ada Tuhan yang menyaksikan setiap pilihan.
Tentu saja, tidak semua rumah tangga berakhir menjadi puing.

Masih banyak pasangan yang membuktikan bahwa cinta bisa bertahan tanpa harus viral.

Mereka tidak sering memamerkan kebahagiaan.

Mereka hanya sibuk menjaganya.
Mungkin memang begitu sifat kebahagiaan.
Ia tidak berisik.
Yang berisik justru keretakan.

Karena itu, jangan mengejek seseorang yang belum berani menikah.

Bisa jadi ia sedang belajar menjadi rumah yang teduh, bukan sekadar orang yang ingin punya alamat.

Sebab membangun rumah jauh lebih mudah daripada membuat seseorang merasa pulang.

Dan pada akhirnya, yang menghancurkan banyak rumah bukanlah badai.
Sering kali, rumah-rumah itu runtuh karena penghuninya lebih sibuk mencari tempat berteduh di luar daripada belajar saling menjadi atap bagi satu sama lain.

Maka lain kali, sebelum bertanya kepada seseorang, “Kapan nikah?”, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri:
“Kalau benar pernikahan adalah sesuatu yang begitu mulia, mengapa begitu banyak orang yang sudah berada di dalamnya justru diam-diam ingin melarikan diri?”
Barangkali, pertanyaan itulah yang lebih mendesak dijawab daripada sekadar memastikan siapa yang paling cepat naik pelaminan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    Sudut Pandang: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh: Yudi Latif Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 835
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

expand_less