Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • visibility 154
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini.

“Kapan nikah?”

Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain.

Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang paling rajin bertanya justru sedang sibuk memperbaiki rumah tangganya sendiri. Atapnya bocor, temboknya retak, tetapi masih sempat menunjuk rumah tetangga yang belum dibangun.

Saya memang belum menikah.
Kalimat itu bukan pengakuan yang memalukan. Ia hanya penanda bahwa saya belum sampai di sana. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang pernikahan.

Sebab hidup ini tidak selalu mengajarkan lewat pengalaman pribadi. Kadang-kadang ia mengajar lewat jendela rumah orang lain.
Dari sepasang mata ini saya melihat rumah-rumah yang berdiri megah dari luar, tetapi di dalamnya penghuni berjalan seperti dua planet yang kehilangan orbit. Mereka tinggal di alamat yang sama, tetapi sudah lama berhenti pulang satu sama lain.
Dari telinga ini saya mendengar begitu banyak cerita.

Ada suami yang setiap pulang membawa lelah, tetapi lupa membawa kasih sayang.
Ada istri yang menerima nafkah, tetapi kehilangan nafkah batin.

Ada pasangan yang begitu sibuk mencari perhatian di luar rumah sampai lupa bahwa orang yang paling haus diperhatikan justru sedang menunggu di ruang tamu.
Ada yang tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya sudah berbeda alamat.
Dan ada yang setiap hari mengunggah foto keluarga penuh senyum, seolah-olah algoritma media sosial bisa menyembunyikan suara tangisan yang dipelankan di balik pintu kamar.
Kita hidup di zaman ketika pesta pernikahan semakin mewah, tetapi percakapan setelah menikah semakin miskin.

Pelaminan dibuat semegah mungkin, sementara kemampuan meminta maaf justru dibangun seadanya. Undangan dicetak dengan tinta emas, tetapi komitmen ditulis dengan pensil yang mudah dihapus.

Mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini tidak takut pada pesta pernikahan. Mereka takut pada hari setelah pesta selesai.

Takut ketika gaun pengantin sudah disimpan.

Takut ketika bunga-bunga mulai layu.
Takut ketika tamu pulang.
Karena saat itulah cinta berhenti menjadi dekorasi dan mulai berubah menjadi pekerjaan.

Dan pekerjaan yang bernama rumah tangga tidak pernah mengenal hari libur. Ironisnya, masyarakat sering menganggap jomlo sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Seolah-olah status lajang adalah penyakit yang membutuhkan resep tercepat: menikah.

Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa menikah bukan obat untuk kesepian.
Dua orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri hanya akan membangun kesepian dalam ukuran yang lebih besar.

Rumah. Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak pesta pernikahan.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak manusia yang selesai berdamai dengan egonya sebelum meminta orang lain hidup bersamanya.

Karena pernikahan bukan sekadar mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Ia mempertemukan dua masa kecil, dua luka, dua cara marah, dua cara meminta maaf, dua keluarga, dua kebiasaan, dua ketakutan, dan berharap semuanya bisa hidup di bawah satu atap tanpa saling membakar.

Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memilih gedung resepsi?
Itulah mengapa menikah tidak cukup bermodal rasa berbunga-bunga.
Ia membutuhkan ilmu agar tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Ia membutuhkan kedewasaan agar ego tidak selalu ingin menang. Dan di atas semuanya, ia membutuhkan rasa takut kepada Tuhan.

Sebab ketika rasa cinta sedang lelah, ketika sabar mulai menipis, ketika godaan datang mengenakan wajah yang lebih menarik, sering kali yang masih mampu menjaga seseorang tetap pulang bukan lagi perasaan, melainkan kesadaran bahwa ada Tuhan yang menyaksikan setiap pilihan.
Tentu saja, tidak semua rumah tangga berakhir menjadi puing.

Masih banyak pasangan yang membuktikan bahwa cinta bisa bertahan tanpa harus viral.

Mereka tidak sering memamerkan kebahagiaan.

Mereka hanya sibuk menjaganya.
Mungkin memang begitu sifat kebahagiaan.
Ia tidak berisik.
Yang berisik justru keretakan.

Karena itu, jangan mengejek seseorang yang belum berani menikah.

Bisa jadi ia sedang belajar menjadi rumah yang teduh, bukan sekadar orang yang ingin punya alamat.

Sebab membangun rumah jauh lebih mudah daripada membuat seseorang merasa pulang.

Dan pada akhirnya, yang menghancurkan banyak rumah bukanlah badai.
Sering kali, rumah-rumah itu runtuh karena penghuninya lebih sibuk mencari tempat berteduh di luar daripada belajar saling menjadi atap bagi satu sama lain.

Maka lain kali, sebelum bertanya kepada seseorang, “Kapan nikah?”, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih pantas kita ajukan kepada diri sendiri:
“Kalau benar pernikahan adalah sesuatu yang begitu mulia, mengapa begitu banyak orang yang sudah berada di dalamnya justru diam-diam ingin melarikan diri?”
Barangkali, pertanyaan itulah yang lebih mendesak dijawab daripada sekadar memastikan siapa yang paling cepat naik pelaminan.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

Fian N selain suka menulis juga suka membaca. Sejak 2018-sekarang sudah menerbitkan beberapa buku puisi dan pengembangan diri. Tahun 2020-sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 204
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 329
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    Sudut Pandang: Pasti Salah Hitung, Masa’ Koperasi Merah Putih Untungnya Cuma Rp78 Ribu

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar   Lupakan kekalahan Mesir atas Argentina 3-2. Untung menghibur diri, baca cerita Koperasi Merah Putih yang digadang-gadang bisa mensejahterakan rakyat, ternyata untungnya cuma Rp78 ribu. Ah, yang benar, Bang. Salah hitung kali tu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Koperasinya ada di Melawai Blok M, Jakarta Selatan. Lokasinya […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

expand_less