Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA)

Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi?

Keluarga, katanya, adalah sekolah pertama kasih. Nyatanya, sering jadi arena gladi resik trauma. Ekonomi yang ringkih, konflik yang tak selesai, pola asuh yang lebih mirip komando militer. Fondasi etis? Ah, kadang lebih mirip pondasi rumah kayu yang digerogoti rayap. Anak muda pun belajar: dunia tidak selalu adil, dan keadilan kadang hanya kata indah di buku.

Komunitas, konon, adalah panggung solidaritas. Tapi panggung itu sering berubah jadi arena gladiator. siapa kuat, dia berkuasa; siapa lemah, dia jadi tontonan. Anak muda tumbuh di tengah sorak-sorai diskriminasi, sambil berharap ada tepuk tangan untuk keberanian mereka. Bangsa ini suka bicara tentang β€œgotong royong,” tapi praktiknya lebih sering β€œgotong ego.”

Budaya, katanya, adalah identitas. Tapi identitas kadang terasa seperti rantai emas. Indah, tapi tetap mengikat. Tradisi yang mengekang dibungkus dengan kata β€œwarisan leluhur,” padahal lebih mirip warisan masalah. Anak muda berdiri di tengah pusaka dan paku, mencoba menafsir ulang, mana yang bisa jadi jembatan, mana yang harus ditinggalkan di museum.

Relasi sosial? Sartre bilang eksistensi butuh pengakuan. Tapi di sini, pengakuan sering datang dalam bentuk β€œdiam saja, kamu masih muda.” Anak muda jadi bayangan yang berjalan, bukan suara yang didengar. Ironisnya, bangsa ini suka mengklaim β€œpemuda adalah harapan,” tapi harapan itu sering diperlakukan seperti dekorasi acara resmi. Indah di spanduk, tapi jarang nyata di ruang kebijakan.

Kerja, katanya, adalah aktualisasi diri. Nyatanya, lebih sering aktualisasi stres. Dunia kerja sempit, persaingan ketat, gaji pas-pasan. Anak muda bertanya: apakah hidup hanya soal bertahan? Jawabannya: ya, bertahan sambil berharap startup ajaib atau konten viral bisa menyelamatkan. Kreativitas? Teknologi? Kadang lebih terasa seperti lotre daripada peluang.

Negara, dalam filsafat politik, adalah tatanan etis. Tapi di sini, negara lebih sering jadi tatanan administrative. Sibuk dengan birokrasi, lupa dengan rakyat. Program untuk anak muda? Ada, tapi sering lebih mirip brosur daripada solusi. Kritik pun lahir supaya negara harus kembali pada tujuan dasarnya. Tapi entah kenapa, kritik itu sering dianggap keluhan, padahal justru tanda cinta yang paling jujur.

Pada akhirnya, anak muda sedang belajar. Belajar bertanya, belajar gelisah, belajar menertawakan absurditas bangsa ini. Mereka tahu, perubahan tidak datang dengan menunggu. Harus digerakkan, meski kadang dengan energi yang lebih mirip sarkasme daripada optimisme. Karena di balik setiap krisis, ada peluang refleksi dan di balik setiap refleksi, ada kemungkinan transformasi.

Bangsa ini, seperti hidup, selalu dalam proses menjadi. Pertanyaannya: menjadi apa? Anak muda adalah aktor utama, meski sering dipaksa jadi figuran. Dengan refleksi yang tajam dan tindakan yang berani, mereka bisa membuat bangsa ini bukan hanya lebih adil, tapi juga lebih jujur pada dirinya sendiri.

Tabe.

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 102
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 244
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • Pau CubarsΓ­ dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau CubarsΓ­ dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

expand_less