Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

  • account_circle John Orlando, S.Fil
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 140
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA)

Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi?

Keluarga, katanya, adalah sekolah pertama kasih. Nyatanya, sering jadi arena gladi resik trauma. Ekonomi yang ringkih, konflik yang tak selesai, pola asuh yang lebih mirip komando militer. Fondasi etis? Ah, kadang lebih mirip pondasi rumah kayu yang digerogoti rayap. Anak muda pun belajar: dunia tidak selalu adil, dan keadilan kadang hanya kata indah di buku.

Komunitas, konon, adalah panggung solidaritas. Tapi panggung itu sering berubah jadi arena gladiator. siapa kuat, dia berkuasa; siapa lemah, dia jadi tontonan. Anak muda tumbuh di tengah sorak-sorai diskriminasi, sambil berharap ada tepuk tangan untuk keberanian mereka. Bangsa ini suka bicara tentang “gotong royong,” tapi praktiknya lebih sering “gotong ego.”

Budaya, katanya, adalah identitas. Tapi identitas kadang terasa seperti rantai emas. Indah, tapi tetap mengikat. Tradisi yang mengekang dibungkus dengan kata “warisan leluhur,” padahal lebih mirip warisan masalah. Anak muda berdiri di tengah pusaka dan paku, mencoba menafsir ulang, mana yang bisa jadi jembatan, mana yang harus ditinggalkan di museum.

Relasi sosial? Sartre bilang eksistensi butuh pengakuan. Tapi di sini, pengakuan sering datang dalam bentuk “diam saja, kamu masih muda.” Anak muda jadi bayangan yang berjalan, bukan suara yang didengar. Ironisnya, bangsa ini suka mengklaim “pemuda adalah harapan,” tapi harapan itu sering diperlakukan seperti dekorasi acara resmi. Indah di spanduk, tapi jarang nyata di ruang kebijakan.

Kerja, katanya, adalah aktualisasi diri. Nyatanya, lebih sering aktualisasi stres. Dunia kerja sempit, persaingan ketat, gaji pas-pasan. Anak muda bertanya: apakah hidup hanya soal bertahan? Jawabannya: ya, bertahan sambil berharap startup ajaib atau konten viral bisa menyelamatkan. Kreativitas? Teknologi? Kadang lebih terasa seperti lotre daripada peluang.

Negara, dalam filsafat politik, adalah tatanan etis. Tapi di sini, negara lebih sering jadi tatanan administrative. Sibuk dengan birokrasi, lupa dengan rakyat. Program untuk anak muda? Ada, tapi sering lebih mirip brosur daripada solusi. Kritik pun lahir supaya negara harus kembali pada tujuan dasarnya. Tapi entah kenapa, kritik itu sering dianggap keluhan, padahal justru tanda cinta yang paling jujur.

Pada akhirnya, anak muda sedang belajar. Belajar bertanya, belajar gelisah, belajar menertawakan absurditas bangsa ini. Mereka tahu, perubahan tidak datang dengan menunggu. Harus digerakkan, meski kadang dengan energi yang lebih mirip sarkasme daripada optimisme. Karena di balik setiap krisis, ada peluang refleksi dan di balik setiap refleksi, ada kemungkinan transformasi.

Bangsa ini, seperti hidup, selalu dalam proses menjadi. Pertanyaannya: menjadi apa? Anak muda adalah aktor utama, meski sering dipaksa jadi figuran. Dengan refleksi yang tajam dan tindakan yang berani, mereka bisa membuat bangsa ini bukan hanya lebih adil, tapi juga lebih jujur pada dirinya sendiri.

Tabe.

  • Penulis: John Orlando, S.Fil
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 137
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 63
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 170
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

expand_less