Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

  • account_circle Katarina Sindona Tanis
  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • visibility 102
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Katarina Sindona Tanis
Program Studi: Keperawatan

Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres.

Di tengah hirup-pikuk dunia yang sekarang, remaja sering sekali dianggap sebagai “masa emas” masa penuh energi, kreativitas, dan peluang. Namun dibalik senyum lebar dan keceriaan di dunia nyata, banyak remaja yang diam-diam bergulat dengan beban yang tak terlihat seperti: rasa cemas berlebih, kesepian, hingga depresi. Dan ironisnya, ketika mereka berbicara, respon yang paling sering diterima yaitu: “kamu kan masih muda, apa sih masalahmu?”

Masa remaja merupakan periode emas perkembangan otak, khususnya pada prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan perencanaan masa depan. Jika selama periode kritis ini remaja terus-menerus mengalami stres kronis tanpa dukungan yang memadai, struktur dan fungsi otak dapat terganggu. Dampaknya bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan hambatan serius terhadap kemampuan kognitif, penurunan daya ingat, dan peningkatan risiko gangguan mental jangka panjang seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga penyalahgunaan zat. Dengan menjaga kesehatan mental, kita sebenarnya sedang memastikan bahwa otak remaja berkembang secara optimal untuk menghadapi tantangan kehidupan dewasa.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa separuh dari semua kondisi kesehatan mental dimulai sebelum usia 14 tahun, dan tiga perempatnya dimulai sebelum usia 24 tahun. Ini berarti bahwa masa remaja adalah jendela kesempatan terbesar untuk pencegahan dan intervensi dini. Mengabaikan tanda-tanda awal gangguan mental di masa remaja sama dengan membiarkan api kecil menjadi kebakaran besar di masa dewasa. Biaya ekonomi dan sosial akibat gangguan mental yang tidak ditangani jauh lebih besar dibandingkan biaya untuk menyediakan layanan dukungan psikologis yang aksesibel sejak dini. Maka dari itu, investasi pada kesehatan mental remaja adalah langkah preventif yang paling cerdas dan efisien.

Menjaga kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan hanya pada pundak remaja itu sendiri, melainkan memerlukan pendekatan ekosistem yang melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah. Keluarga harus menjadi ruang aman pertama di mana orang tua berhenti menghakimi dan mulai mendengarkan secara aktif, karena validasi perasaan anak jauh lebih menyembuhkan daripada nasihat klise. Sekolah pun tidak boleh hanya berfokus pada nilai akademik: institusi pendidikan harus mengintegrasikan literasi emosi ke dalam kurikulum, menyediakan konselor yang kompeten, dan menciptakan lingkungan bebas perundungan. Di tingkat yang lebih luas, pemerintah dan masyarakat perlu memperluas akses layanan kesehatan mental yang terjangkau serta menghapus stigma melalui kampanye edukasi bahwa meminta bantuan profesional adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.

Remaja adalah aset terbesar bangsa. Mereka adalah calon pemimpin, inovator, dan agen perubahan. Namun, potensi tersebut tidak akan pernah terwujud maksimal jika pondasi mental mereka rapuh. Sudah saatnya kita berhenti memandang kesehatan mental sebagai topik tabu atau sekunder. Menjaga kesehatan mental remaja adalah investasi strategis untuk masa depan yang lebih produktif, damai, dan manusiawi. Mari kita ciptakan dunia di mana setiap remaja merasa didengar, dihargai, dan didukung, bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk benar-benar hidup dan berkembang. Karena remaja yang sehat mentalnya, adalah masa depan yang cerah bagi kita semua.

  • Penulis: Katarina Sindona Tanis
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

  • Katharina Tasik

    Banyak suara anak yg tidak pernah di dengarkan…anak sering merasa tertekan bahkan stres…. keluarga yg seharusnya menjadi tempat aman bagi remaja justru menjadi penyebab utama kesehatan mental terganggu….

    Balas18 Juni 2026 7:51 pm
    • Mataleza

      Admin Mataleza yakin komentar ini adalah suara dari hati yang pernah mengalami situasi ini. Semoga tetap tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati.

      Balas18 Juni 2026 7:54 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 244
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 594
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.Β  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya SendiriΒ 

    BSM Siap Nobar Film Karya SendiriΒ 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 209
    • 0Komentar

    β€œKamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

expand_less