Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?
- account_circle Fian N
- calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Fian N
“Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.”
Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman yang meninggalkan luka dan pelajaran yang mendalam.
Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa lamanya sebuah hubungan adalah tanda keseriusan. Semakin lama bersama, semakin besar pula harapan bahwa dua orang itu akan berakhir dalam ikatan yang pasti. Kita menganggap waktu sebagai bukti cinta. Kita percaya bahwa tahun-tahun yang telah dilewati bersama akan cukup kuat untuk menjaga dua hati tetap berada di jalur yang sama.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keyakinan yang kita bangun.
Ada mereka yang telah bertahun-tahun saling mengenal. Tumbuh bersama, melewati masa-masa sulit, saling mengenal keluarga, merancang masa depan, bahkan telah membayangkan seperti apa kehidupan yang akan dijalani kelak. Akan tetapi, ketika tiba pada persimpangan tertentu, mereka justru memilih jalan yang berbeda.
Di sisi lain, ada pula mereka yang dipertemukan dalam waktu yang tidak terlalu lama, tetapi mampu saling memahami, bertumbuh bersama, dan bertahan menghadapi berbagai musim kehidupan.
Lalu, benarkah waktu menentukan segalanya?
Ternyata tidak.
Lama bukan jaminan. Cepat pun bukan kepastian.
Lalu, apa yang membuat dua orang mampu bertahan dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh ketidakpastian?
Mungkin jawabannya tidak pernah sederhana. Namun, ada beberapa hal yang menjadi fondasi yang tak boleh diabaikan: kesetiaan untuk tetap memilih orang yang sama setiap hari, keterbukaan untuk menyampaikan apa yang dirasakan tanpa menyembunyikan luka maupun kekecewaan, serta kepercayaan yang dijaga dengan sungguh-sungguh.
Kesetiaan bukan sekadar tidak berpaling. Ia adalah keberanian untuk tetap hadir ketika hubungan tidak lagi dipenuhi euforia. Keterbukaan bukan hanya tentang menceritakan hal-hal yang menyenangkan, melainkan juga keberanian untuk berkata, “Aku sedang kecewa,” atau, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Sementara kepercayaan bukanlah sesuatu yang diminta, melainkan sesuatu yang dibangun perlahan melalui kejujuran dan konsistensi.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang tidak pernah bertengkar. Justru, hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi ruang bagi dua pribadi untuk tetap menjadi manusia: melakukan kesalahan, belajar memahami, meminta maaf, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.
Sebab cinta tidak hanya tentang rasa yang menggebu pada awal perjumpaan. Cinta juga tentang keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari: tetap mendengarkan ketika lelah, tetap menghargai ketika marah, tetap menjaga ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Belum lama ini, saya mendengar kisah dari seorang teman. Ia menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat ia percaya. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Mereka saling mendukung, saling menguatkan, bahkan telah membicarakan masa depan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa kedekatan tidak selalu berarti kedalaman. Ada percakapan-percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada kejujuran yang ditunda karena takut melukai. Ada kegelisahan yang dipendam demi menjaga agar hubungan tampak baik-baik saja.
Sampai akhirnya, hubungan itu diuji oleh kenyataan yang tidak pernah mereka persiapkan.
Dari kisah itu, saya belajar bahwa mempertahankan hubungan bukan sekadar soal seberapa lama kita bersama, melainkan seberapa sungguh kita hadir di dalamnya.
Sebab ada orang-orang yang bertahun-tahun hidup berdampingan, tetapi tidak pernah benar-benar saling mengenal. Mereka tahu kebiasaan satu sama lain, tetapi tidak memahami ketakutan, luka, dan impian yang tersembunyi di baliknya. Sebaliknya, ada yang baru berjalan sebentar, tetapi dengan tulus berusaha memahami dunia pasangannya dan belajar mencintainya dengan lebih dewasa.
Bagi siapa pun yang saat ini sedang mempertanyakan hubungan yang dijalani, apakah harus bertahan atau melepaskan, apakah waktu yang telah diberikan akan sia-sia atau tidak, mungkin kita perlu mengingat satu hal: cinta bukan perlombaan tentang siapa yang paling lama bertahan. Cinta adalah ruang untuk bertumbuh.
Jika di dalamnya masih ada rasa hormat, kejujuran, kepercayaan, serta kemauan untuk saling memperbaiki diri, maka hubungan itu layak diperjuangkan. Namun, jika yang tersisa hanyalah ketakutan untuk kehilangan karena merasa telah terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersama, mungkin sudah saatnya bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: Apakah aku bertahan karena cinta, atau hanya karena takut memulai kembali?
Pada akhirnya, waktu hanyalah saksi. Ia tidak pernah menentukan akhir dari sebuah cerita. Kitalah yang menentukan arah hubungan itu melalui pilihan-pilihan yang dibuat setiap hari.
Karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang lebih awal atau siapa yang tinggal paling lama. Melainkan tentang siapa yang, di tengah perubahan, luka, dan berbagai ujian kehidupan, tetap memilih untuk menjaga.
Sebab ketika cinta tidak lagi sekadar perasaan, di sanalah ia berubah menjadi keputusan. Dan keputusan itulah yang, hari demi hari, menjadikan dua orang tetap berjalan bersama menuju keabadian.
Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026
Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi teman belajar bagi adik-adik di SMPSK Kotagoa Boawae. Menulis beberapa buku puisi dan buku pengembangan diri.
- Penulis: Fian N
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar