Breaking News
light_mode
Trending Tags

Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

  • account_circle Beny K. Harman
  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 340
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Benny K. Harman

Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir.

Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan yang telanjang. Film Pesta Babi dilarang bukan karena ia menyebarkan kebohongan, melainkan justru karena ia menceritakan kebenaran dengan terlalu jujur.

Sinema ini bertindak sebagai pemegang cermin di hadapan wajah kekuasaan, dan penguasa—yang menyadari betapa buruk rupa mereka akibat keserakahan—memilih untuk memecahkan cermin tersebut daripada memperbaiki diri.

Gugatan paling mendasar dari film ini menelanjangi jargon “pembangunan” yang selama ini diagungkan bagai berhala. Hari ini, kita menyaksikan lahirnya watak neo-kolonialisme yang dipraktikkan oleh bangsa sendiri terhadap bangsanya sendiri.

Logikanya persis seperti VOC ratusan tahun lalu: ruang hidup masyarakat lokal dan masyarakat adat dianggap sebagai “tanah tak bertuan” yang boleh dijarah demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi makro.

Masyarakat adat, yang telah merawat hutan dan tanah secara berkelanjutan jauh sebelum Republik ini berdiri, hari ini dibranding secara pejoratif sebagai “penghambat investasi” atau “kelompok keras kepala yang anti-kemajuan.” Ini adalah kejahatan epistemik. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) atau konsesi korporasi, negara hadir bukan sebagai pelindung warga, melainkan sebagai juru sita yang mengusir rakyat dari tanah leluhurnya.

Ketika pembangunan mengabaikan keselamatan lingkungan dan memutus hak generasi masa depan demi keuntungan investor, itu bukan pembangunan. Itu adalah penjarahan sistematis yang dilegitimasi oleh hukum positif yang disusun oligarki melalui wakil-wakil yang mereka biayai.

Mengapa kritik dalam film ini dianggap begitu mengancam stabilitas? Karena ia membongkar jalinan kelindan yang paling tabu dalam politik modern kita: fenomena state capture (pembajakan negara) oleh para oligarki.

Kita harus jujur melihat realitas hari ini: oligarki tidak lagi sekadar menyuap pejabat dari luar ring kekuasaan. Mereka telah masuk dan menduduki jabatan itu sendiri, atau menyetir para pengambil kebijakan seperti boneka tali. Negara telah bergeser fungsi dari sebuah lembaga yang mandiri (independent arbiter) menjadi “centeng” atau perisai pelindung bagi kepentingan kapitalis hitam.

Ketika oligarki merampas sumber daya ekonomi negara, melakukan kejahatan lingkungan, atau menggusur paksa warga, negara memilih menutup mata—bahkan bertindak sebagai fasilitator melalui regulasi karpet merah yang sengaja dibuat untuk memutihkan dosa-dosa korporasi.

Monopoli pengelolaan sumber daya alam dilindungi oleh moncong senjata aparat keamanan yang dibiayai oleh pajak rakyat sendiri. Tragis bukan? Pajak dan uang rakyat digunakan untuk membiayai penindasan terhadap rakyat. Pelarangan film ini adalah bentuk refleks defensif untuk menutupi perselingkuhan jahat tersebut agar tidak memicu kemarahan massal.

Akar dari seluruh pembusukan ini adalah sistem demokrasi elektoral kita yang telah kehilangan jiwanya. Demokrasi kita hari ini adalah demokrasi transaksional yang berbiaya sangat mahal. Jabatan publik diperebutkan bukan lewat adu gagasan, melainkan lewat tebalnya isi tas logistik. Oligarki menentukan lebih dulu pemimpin yang mereka kehendaki lalu rakyat dibayar untuk mendukungnya.

Karena ongkos politik yang ugal-ugalan, para calon pemimpin terpaksa menggadaikan integritas mereka kepada para cukong dan investor politik sejak masa kampanye. Akibatnya, pasca-pemilu, kebijakan negara tidak lagi dirumuskan di ruang-ruang publik untuk kemaslahatan rakyat, melainkan di ruang-ruang gelap dalam bentuk bagi-bagi konsesi, izin tambang, dan pelonggaran aturan amdal sebagai bentuk “pengembalian investasi” politik.

Suara rakyat hanya berharga selama lima menit di bilik suara untuk melegitimasi kekuasaan, setelah itu rakyat didepak ke pinggiran, menonton tanah mereka dikeruk dan air mereka diracuni.

Negara, lewat instrumen kekuasaannya, sama sekali tidak perlu dan tidak berhak melarang film Pesta Babi ini. Pelarangan hanya menunjukkan kepanikan moral yang kekanak-kanakan. Biarkanlah masyarakat sendiri yang menilai, menakar, dan mengunyah pesan-pesan yang tersirat maupun tersurat di dalam film tersebut. Rakyat kita sudah dewasa; mereka sudah cerdas, mereka mampu membaca karya seni dan mengontekstualisasikannya dengan realitas sosial-ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari di wilayah mereka masing-masing.

Mungkin saja isi film ini ada yang tidak benar atau keliru. Jika isi film dianggap keliru, bantah dengan argumen dan data, bukan dengan represi dan penyitaan proyektor.

Sebaliknya, apresiasi setinggi-tingginya justru harus diberikan kepada produser dan seluruh kru kreatif di balik film pendek ini. Di tengah hilangnya keberanian sipil dan mandulnya institusi politik formal seperti DPR dan Lembaga Peradilan dalam mengawasi jalannya kekuasaan pemerintahan, film ini hadir menawarkan kritik kekuasaan yang sangat cerdas melalui medium kebudayaan.

Ini adalah bentuk kritik kebudayaan yang bernas, tangkas, dan seiring dengan panggilan zaman (zeitgeist). Ketika mimbar-mimbar akademik dan ruang sidang parlemen mulai terasa sunyi dari pembelaan terhadap rakyat kecil, ketika lembaga peradilan mempertontonkan kesewenang-wenangan – abuse of power – maka sinema seperti Pesta Babi inilah yang mengambil alih estafet kepedulian tersebut.

Melarang film ini sama saja dengan mencoba memadamkan obor kesadaran bangsa. Biarkan layar tetap terkembang, dan biarkan rakyat yang menentukan jalannya sejarah.

 

  • Penulis: Beny K. Harman
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata. Saya membaca […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 289
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 164
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 98
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 280
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

expand_less