Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

  • account_circle Harsandi Pratama Putra
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • visibility 203
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kepada Rindu Bernama Kenangan

Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk

Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan

Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat

Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku

Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian.

2026

Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan

Aku ingin reda
Dari luka yang memburu tajam
Dari hati yang beranjak resah
Dari peluk yang ingin menemui pulang
Dari kepala yang bising penuh peperangan

Untuk segala rindu dan kepala yang selalu merawat pulang pada kenangan yang kini gentayangan
Untuk rasa sakit dan debar pada dada setiap sunyinya
Aku ingin reda dari sebuah perihal yang nyatanya memang tidak bisa kumiliki
Yaitu mencintaimu lebih jauh sampai tua

2026

Di Sebuah Kota dan Rupa-Rupa

Malam semakin hitam
Kota ini masih beradu bising
Tanpa lelap, ia seperti tatapan seorang pemuda yang menghabiskan bergelas-gelas kopi di kedai pinggir jalan
Diiringi beragam cerita perihal negara serta para penguasanya yang sedikit gila dan kurang tertawa, mereka masih segar dan penuh haha hihi.

Malam ini tak pernah benar-benar mati dari sebuah keramaian, peristiwa-peristiwa yang mengandung keributan dan beragam rupa-rupa penuh warna.

Punggung orang-orang menyentuh busa kasur tetapi mereka masih berdebat perihal rintihan siapa paling merdu, sedang lampu-lampu penginapan itu tak pernah habisnya menyaksikan langkah kaki yang bergegas menuju puncak nafsu mereka.

Kota ini
adalah mata Tuhan yang tak pernah tertidur.

2026

Sebuah Perihal Diri

Kepala adalah jalanan penuh teriakan klakson, warna-warni baliho caleg dan orasi-orasi para demonstran diatas mobil cotl bak.
Ia riuh, bising dan mengandung keributan.

Diantara tatapan kesepian yang begitu tajam, doa-doa merayap pada tembok-tembok yang tertunduk hening, selalu di peluk ingatan dan tak mati-mati.

Di segala hari dengan rasa sakit pada suatu kemungkinan, ia rubuh lalu kembali menghirup udara setelah tenggelam dari lubang penuh tanda tanya. Sepasang kaki masih meniti jalan setapaknya sendiri. Menemui petualangan lalu bersalaman dengan keheningan di tengah kerumunan wajah-wajah asing.

2026

Harsandi Pratama Putra lahir di Pulo Bembe, Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan. Telah melahirkan tujuh buku kumpulan puisi serta beberapa antologi bersama dengan penulis lainnya. Pernah mendapat anugerah literasi dari kampus UIN Alauddin Makassar. Saat ini lebih sering pergi ke pantai, gunung, dan tidur di kamar.

  • Penulis: Harsandi Pratama Putra
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 144
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 170
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 231
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

expand_less