Breaking News
light_mode
Trending Tags

DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

  • account_circle Maria Makdalena
  • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
  • visibility 303
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Doa

Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu.

Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit.

Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah doa paling pilu yang mampu menyayat hati Sang Bunda?

Doaku usai, namun dia dan mereka mulai berdatangan. Sembari membawa intensi berkepemilikan, Bunda mulai menadah. Tangis, tawa, marah, kecewa, benci dan haru melebur bersama tanah dan air yang mengalir.

Bunda, ditengah harap yang kulafas ini akankah menjadi doa paling lestari seindah mawar yang kuberi? Ataukah seperih duri yang tertanam di daging? Berharap kelak seluruh niat turut mekar seperti mawar yang tertanam di bawah tangga.

Harapku telah usai kulafaskan dan mereka tetap diam dalam keheningan waktu, inginku ucapkan salam pisah. Sampai bertemu kembali di harap mendatang, aku pulang.

Gua lembah karmel, April 2026

 

Air

Mereka bilang air itu murni, mampu menghidupkan segala yang kritis menuju ambang kematian.

Setenang jiwa yang damai, sesejuk itu air yang mengalir.

Air yang disangka tenang, terkadang mampu menenggelamkan bahkan menghanyutkan ribuan jiwa yang tersesat dari rumah pangkuan ibu.

Sesuci itu air yang dikandung bumi. Penuh sakral dan maut yang datang silih berganti.

Lembah karmel, April 2026

Tanah

Di sepanjang penapakan, banyak harap tertanam di sana. Terik matahari mulai membara, bongkahan tanah mulai terlihat. Kekeringan terus melanda.

Tanah yang kau bilang tempat kelahiran kini berganti nama menjadi tanah kematian. Segala perkara yang diangkara oleh mereka melebur bersama tanah yang kau pijak.

Perjalanan panjang tiada ujung, satu persatu dari mereka mulai lelah. Tertatih lalu tersungkur, harap yang redup tak lagi terdengar. Hanya nafas terakhir menjadi tanda pisah sebelum berakhir membumi bersama tanah.

Lembah karmel, April 2026

 

Sendal jepit

Anak kecil itu terus berlari menyusuri kali kecil. Ibu berlarian kesana kemari mengejar anak itu, ada yang tertinggal. Sendal jepit hadiah dari sang bapak sebagai salam pisah diakhir kiamatnya.

Sendal jepit itu sudah buruk rupa namun ibu terus menenteng tanpa menyarung. Seberharga itukah dia? Ataukah karna sendalnya mahal? Tulusnya hati menganggap kesakralannya ada, ada juga dengan segala keluh kesah meraung raung pasrah. Entah semiskin apa waktu itu, namun ini bukan sendal biasa, ini hadiah salam pisah. Kembali ibu berjalan tanpa alas kaki, sendalnya dengan setia digenggam erat.

Anak kecil mulai tertangkap namum sendal tak pernah dilepas. Katanya pelepas rindu untuk dia yang kau ambil kembali.

Lembah karmel, April 2026

 

Sabtu

Akhir pekan sudah tiba, mereka mulai bergegas untuk libur bersama. Ada yang jauh dan ada yang dekat.

Ada yang diam dirumah dan memilih untuk diam dalam keheningan. Ada yang suka euforia tanpa batas.

Semua yang terlihat bebas ada di hari itu

Lembah karmel, April 2026

 

Maria Makdalena, dengan nama pena Aksaramar, lahir di Malaysia, pada tahun 2000. Sehari-hari sebagai seorang Wiraswasta yang suka Menulis, travelling, nyanyi ( artis kamar mandi ). Alumni dari jurusan psikologi Unipa Maumere. Selain bekerja di yayasan yang bergerak di pemberdayaan wanita dan anak, dia juga aktif berwirausaha di bidang kuliner, ternak dan tani. Untuk mengenal lebih dekat dengan penulis, silakan di follow akun medsos di FB Mar Mkdlna, Instagram Mar Mkdlna dan Tiktok Aksaramar.

  • Penulis: Maria Makdalena
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 237
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 (Pater), selamat pagi.” Mama […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 862
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Pondok Baca Mataleza Olakile: Kami Mulai dari Mimpi photo_camera 5

    Pondok Baca Mataleza Olakile: Kami Mulai dari Mimpi

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 45
    • 2Komentar

    “Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi.” Fian N Ada mimpi yang datang ketika kita terlelap. Ada pula mimpi yang justru tumbuh ketika kita terjaga, duduk diam di sudut kamar, membaca buku, atau bercakap-cakap tentang sesuatu yang mungkin dianggap terlalu sederhana oleh orang lain. Mimpi semacam ini tidak selalu menawarkan jalan yang mudah. Kadang-kadang, […]

  • Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    Nalodo:Ingatan yang Tak Mau Terkubur

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Agustinus Naisoko
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Esai Memori Kolektif Tragedi Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Palu, 28 September 2018 Oleh: Agustinus Naisoko, Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Senja di Teluk Sore itu, 28 September 2018, Palu tampak seperti sore-sore lain yang biasa dilewati orang Palu. Matahari condong ke barat, cahayanya jatuh keemasan di permukaan Teluk, dan angin laut membawa bau asin yang […]

  • Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 198
    • 3Komentar

    Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya. Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan? Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang […]

  • SUARA DARI MEJA PERUNDINGAN: AGUS SALIM, KETIKA KATA-KATA MENJADI SENJATA PERJUANGAN

    SUARA DARI MEJA PERUNDINGAN: AGUS SALIM, KETIKA KATA-KATA MENJADI SENJATA PERJUANGAN

    • calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
    • account_circle Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Oleh: Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya Ia tidak membawa senjata ke medan perang. Senjata adalah bahasa, pengetahuan, dan kemampuan untuk membaca situasi. Dari sekolah Belanda di Hindia hingga meja perundingan Internasional, Haji Agus Salim menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan Indonesia juga dapat dilakukan melalui sebuah kata-kata.  Pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, perjuangan untuk mempertahankan negara bukan […]

expand_less