Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 541
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka.

Ia lahir pada 10 Juni 1972 di Olakile, dari pasangan (alm) Opa Yohanes Weke dan (almh) Oma Katarina Dheku. Dari kesederhanaan itulah ia tumbuh, belajar, dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, setia, dan penuh tanggung jawab. Hingga akhirnya, pada Sabtu, 28 Februari 2026, ia berpulang ke Pangkuan Ilahi, meninggalkan jejak yang tak kasatmata, tetapi begitu dalam terasa.

Pendidikan terakhirnya adalah SMP, namun hidup memberinya pelajaran yang jauh lebih luas. Ia belajar dari tanah yang diolahnya, dari hewan yang dijaganya, dan dari keluarga yang dicintainya. Sebagai seorang petani, ia menjalani hidup tanpa banyak keluhan. Ia bukan orang yang pandai berbicara panjang lebar, tetapi setiap tindakannya adalah bukti dari ketulusan dan kerja keras.

Sebagai suami dan ayah dari enam orang anak, ia mencintai dalam diam. Ia hadir bukan dengan kata-kata manis, tetapi dengan kesetiaan yang tak pernah goyah. Tanggung jawab baginya bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari dirinya. Setiap kepercayaan yang diberikan kepadanya, ia jaga dan selesaikan dengan sungguh-sungguh. Namun kenangan tentang Bapak Marianus tidak hanya tentang kerja keras dan kesederhanaan. Ia juga hidup dalam momen-momen kecil yang hangat, momen yang kini menjadi harta tak ternilai.

Semasa kecil, ada kenangan yang tak pernah pudar: berjalan bersamanya ke padang untuk menggembalakan kerbau. Di sana, di bawah langit terbuka, ia mengajarkan banyak hal tanpa harus menggurui. Ia mengajak memandikan kerbau di sungai, merasakan dinginnya air yang mengalir, dan bahkan menaiki punggung kerbau, sebuah pengalaman sederhana yang kini terasa begitu berharga. Di padang dan di sungai itulah, hubungan seorang anak dan ayah terjalin dalam diam, dalam kebersamaan yang jujur.

Hari Rabu menjadi hari yang istimewa. Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, ia akan membangunkan anaknya untuk ikut ke pasar. Dengan langkah pasti, ia berjalan sambil menggiring kerbau yang hendak dijual. Dari belakang, seorang anak kecil mengikutinya, mungkin belum sepenuhnya mengerti arti perjuangan, tetapi perlahan belajar tentang hidup dari setiap langkah ayahnya. Itu bukan sekadar perjalanan ke pasar, tetapi perjalanan memahami arti tanggung jawab dan kerja keras.

Ada pula malam-malam yang dihabiskan di sawah. Dalam kesunyian yang jauh dari keramaian kampung, ia memasak kelapa untuk dijadikan minyak. Api kecil menyala, aroma kelapa perlahan memenuhi udara, dan di situlah kehidupan terasa begitu sederhana namun utuh. Bermalam di sawah bukan sekadar aktivitas, tetapi ruang kebersamaan, tempat di mana kehangatan keluarga terasa tanpa perlu banyak kata.

Di luar itu semua, Bapak Marianus adalah sosok yang tak pernah kehilangan kemampuannya untuk membawa tawa. Dalam berbagai acara kampung, ia sering menjadi sumber keceriaan. Candanya sederhana, tetapi selalu berhasil mencairkan suasana. Ia mengajarkan bahwa hidup, seberat apa pun, tetap membutuhkan ruang untuk tertawa.

Ia juga menjadi bagian dari denyut tradisi. Dalam acara tinju adat, ia tampil sebagai penari. Hentakan kaki dan gerakan tangannya yang teratur bukan hanya gerakan biasa, tetapi seolah menghidupkan semangat di arena. Ia menghadirkan energi, memberi kekuatan, dan menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakatnya.

Kesehariannya tak lepas dari alam. Ia masuk hutan, mendaki bukit, turun ke lembah untuk mencari kerbau, sapi, atau kuda yang hilang. Ia tidak mengenal lelah. Selama yang dicarinya belum ditemukan, ia akan terus berjalan. Dari situ, kita melihat siapa dirinya sebenarnya: seorang yang setia, yang tidak mudah menyerah, dan yang menjalani hidup dengan sepenuh hati.

Kini, langkah itu telah berhenti. Pagi-pagi di hari Rabu mungkin terasa lebih sunyi. Padang, sungai, dan sawah tetap ada, tetapi ada ruang kosong yang tak tergantikan. Namun kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam cerita, dalam ingatan, dan dalam nilai-nilai yang ia wariskan.

Kesederhanaannya mengajarkan arti cukup. Ketekunannya mengajarkan arti bertahan. Dan cintanya yang sering kali tidak terucap mengajarkan arti memberi tanpa syarat.

Selamat jalan, Bapak Marianus Rena. Terima kasih atas setiap langkah yang pernah kau tempuh, atas setiap pelajaran yang kau tanamkan tanpa kata, dan atas cinta yang kau tunjukkan melalui hidupmu sendiri.

Semoga damai abadi menyertaimu di Pangkuan Ilahi. Dan semoga kami yang ditinggalkan mampu menjaga, merawat, dan meneruskan jejak sunyi yang telah engkau tinggalkan.

Pogopeo, 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Bruno Rey Pantola

Komentar (6)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 98
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 136
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 442
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month 14 jam yang lalu
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 448
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 160
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

expand_less