Breaking News
light_mode
Trending Tags

Perbedaan Kelas dan Keterasingan Manusia dalam Cerpen “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer: Pembacaan Sosiologi Sastra Marxis

  • account_circle Zefanya Chrisantya Ningrum
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Zefanya Chrisantya Ningrum, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Dalam kajian sosiologi sastra, karya sastra dipahami bukan sekadar sebagai hasil imajinasi estetis yang berdiri sendiri di ruang hampa, melainkan sebagai dokumen sosial yang berakar pada realitas sejarah dan struktur masyarakat tempat karya tersebut dilahirkan. Sastra berfungsi sebagai media untuk memotret, merefleksikan, sekaligus mengkritik dinamika kehidupan bermasyarakat. Salah satu pendekatan yang tajam dalam membedah hubungan antara teks sastra dan struktur sosial adalah teori sastra Marxis.

Pemikiran Karl Marx dipahami melalui dua fase perkembangan utama, yakni periode Marx Muda yang berfokus pada masalah humanisme, kerja, dan alienasi, serta periode Marx Tua yang berfokus pada materialisme historis, basis-suprastruktur, dan relasi kelas. Salah satu karya sastra Indonesia yang sangat kaya untuk dibedah melalui kedua fase pemikiran Marx ini adalah cerpen “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer.

1. Basis Ekonomi dan Suprastruktur Sosial (Perspektif Marx Tua)

Dalam pemikiran Marx periode matang/tua, kehidupan masyarakat digerakkan oleh basis ekonomi yang mencakup kekuatan produksi, alat-alat produksi, serta hubungan kelas. Basis ekonomi inilah yang pada akhirnya menentukan suprastruktur, yaitu tatanan hukum, politik, agama, pendidikan, kebudayaan, seni, dan sastra. Marx menegaskan bahwa “bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tetapi justru keberadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka”

Dalam cerpen “Inem”, realitas ini tergambar secara sangat konkret melalui kondisi keluarga Inem, seorang anak perempuan berusia delapan tahun. Keluarga Inem berada pada lapisan kelas teratas dari kelompok proletariat (rakyat miskin) yang tidak memiliki alat produksi sendiri dan hidup dalam garis kemiskinan yang gersang. Ketika kondisi basis ekonomi keluarga tersebut terdesak, hal itu secara langsung memengaruhi kesadaran dan tatanan nilai (suprastruktur) dalam keluarga mereka. Orang tua Inem mengambil keputusan untuk menikahkan Inem yang masih kanak-kanak dengan seorang pemuda.

Keputusan menikahkan anak di bawah umur tersebut bukan lahir dari kesadaran moral yang murni, melainkan merupakan akibat langsung dari tekanan ekonomi material. Pernikahan dini diartikan oleh orang tuanya sebagai strategi untuk mengurangi beban nafkah keluarga dan memperoleh sedikit uang sumbangan. Pramoedya memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana ketimpangan basis ekonomi dapat merusak tatanan sosial dan memaksa manusia mengabaikan hak-hak dasar anaknya demi bertahan hidup.

2. Keterasingan Manusia / Alienasi (Perspektif Marx Muda)

Di samping analisis struktur ekonomi, cerpen “Inem” merepresentasikan secara utuh konsep alienasi (keterasingan) yang dipetakan oleh Marx Muda dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844. Dalam sistem sosial yang timpang dan didasari oleh paksaan ekonomi, kerja dan aktivitas hidup manusia tidak lagi berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri yang kreatif, melainkan berubah menjadi beban yang mengasingkan manusia dari hakikat dirinya.

Marx membagi keterasingan ke dalam beberapa bentuk utama, yang seluruhnya dapat ditemukan dalam nasib tokoh Inem:

Terasing dari proses dan aktivitas kerjanya: Marx menekankan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk kreatif yang bekerja secara sadar (species-being). Namun, di bawah paksaan ekonomi, kerja berubah menjadi paksaan semata untuk bertahan hidup. Inem yang masih berusia delapan tahun dipaksa bekerja membantu ekonomi keluarga, mulai dari menjadi pelayan rumah tangga hingga mengurus rumah tangga pernihakannya sendiri. Aktivitas tersebut merenggut masa kanak-kanaknya dan dilakukan bukan atas kehendak bebasnya, melainkan karena keharusan ekonomi.

Terasing dari hakikat kemanusiaannya: Sebagai manusia dan anak-anak, Inem memiliki potensi untuk tumbuh, belajar, dan bermain secara bebas. Namun, tatanan sosial yang timpang mereduksi Inem menjadi sekadar alat ekonomi untuk meringankan beban keluarga. Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sebagai alat (instrument).

Terasing dari sesama manusia: Sistem sosial yang tidak adil merusak relasi antarmanusia. Ketika pernikahan Inem berujung pada kegagalan akibat kekerasan dalam rumah tangga hingga ia akhirnya diceraikan, status baru Inem sebagai “janda cilik” justru mendatangkan stigma dan penolakan dari masyarakat sekitarnya. Lingkungan sosial tidak melihat Inem sebagai korban dari struktur kemiskinan, melainkan menjauhinya. Keterasingan sosial ini memperlihatkan bagaimana tatanan masyarakat yang keras kehilangan rasa empati dan solidaritas Kemanusiaan.

3. Sastra sebagai Pembongkar Ideologi dan Kesadaran Kritis

Melalui kacamata sosiologi sastra Marxis, karya sastra berfungsi bukan sekadar memantulkan penderitaan, melainkan membongkar ideologi yang membuat ketidakadilan sosial tampak seolah-olah sebagai hal yang “normal” atau “wajar”.

Lewat cerpen “Inem”, Pramoedya Ananta Toer melakukan gugatan terhadap kewajaran semu tersebut. Ia memperlihatkan bahwa nasib tragis yang dialami Inem bukanlah takdir alamiah atau kesalahan individu semata, melainkan buah dari struktur hubungan produksi dan kemiskinan sistemik yang membelenggu masyarakat kelas bawah.

Dengan demikian, analisis Marxis terhadap cerpen “Inem” membantu kita memahami bahwa sastra merupakan medan perjuangan untuk membangkitkan kesadaran kritis. Sastra mengajak pembaca untuk melihat realitas secara lebih mendalam, membongkar akar penindasan kelas, serta membuka kemungkinan bagi terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang lebih adil dan humanis.

 

  • Penulis: Zefanya Chrisantya Ningrum
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 366
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 256
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

expand_less