Perbedaan Kelas dan Keterasingan Manusia dalam Cerpen “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer: Pembacaan Sosiologi Sastra Marxis
- account_circle Zefanya Chrisantya Ningrum
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Zefanya Chrisantya Ningrum, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Dalam kajian sosiologi sastra, karya sastra dipahami bukan sekadar sebagai hasil imajinasi estetis yang berdiri sendiri di ruang hampa, melainkan sebagai dokumen sosial yang berakar pada realitas sejarah dan struktur masyarakat tempat karya tersebut dilahirkan. Sastra berfungsi sebagai media untuk memotret, merefleksikan, sekaligus mengkritik dinamika kehidupan bermasyarakat. Salah satu pendekatan yang tajam dalam membedah hubungan antara teks sastra dan struktur sosial adalah teori sastra Marxis.
Pemikiran Karl Marx dipahami melalui dua fase perkembangan utama, yakni periode Marx Muda yang berfokus pada masalah humanisme, kerja, dan alienasi, serta periode Marx Tua yang berfokus pada materialisme historis, basis-suprastruktur, dan relasi kelas. Salah satu karya sastra Indonesia yang sangat kaya untuk dibedah melalui kedua fase pemikiran Marx ini adalah cerpen “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer.
1. Basis Ekonomi dan Suprastruktur Sosial (Perspektif Marx Tua)
Dalam pemikiran Marx periode matang/tua, kehidupan masyarakat digerakkan oleh basis ekonomi yang mencakup kekuatan produksi, alat-alat produksi, serta hubungan kelas. Basis ekonomi inilah yang pada akhirnya menentukan suprastruktur, yaitu tatanan hukum, politik, agama, pendidikan, kebudayaan, seni, dan sastra. Marx menegaskan bahwa “bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tetapi justru keberadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka”
Dalam cerpen “Inem”, realitas ini tergambar secara sangat konkret melalui kondisi keluarga Inem, seorang anak perempuan berusia delapan tahun. Keluarga Inem berada pada lapisan kelas teratas dari kelompok proletariat (rakyat miskin) yang tidak memiliki alat produksi sendiri dan hidup dalam garis kemiskinan yang gersang. Ketika kondisi basis ekonomi keluarga tersebut terdesak, hal itu secara langsung memengaruhi kesadaran dan tatanan nilai (suprastruktur) dalam keluarga mereka. Orang tua Inem mengambil keputusan untuk menikahkan Inem yang masih kanak-kanak dengan seorang pemuda.
Keputusan menikahkan anak di bawah umur tersebut bukan lahir dari kesadaran moral yang murni, melainkan merupakan akibat langsung dari tekanan ekonomi material. Pernikahan dini diartikan oleh orang tuanya sebagai strategi untuk mengurangi beban nafkah keluarga dan memperoleh sedikit uang sumbangan. Pramoedya memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana ketimpangan basis ekonomi dapat merusak tatanan sosial dan memaksa manusia mengabaikan hak-hak dasar anaknya demi bertahan hidup.
2. Keterasingan Manusia / Alienasi (Perspektif Marx Muda)
Di samping analisis struktur ekonomi, cerpen “Inem” merepresentasikan secara utuh konsep alienasi (keterasingan) yang dipetakan oleh Marx Muda dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844. Dalam sistem sosial yang timpang dan didasari oleh paksaan ekonomi, kerja dan aktivitas hidup manusia tidak lagi berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri yang kreatif, melainkan berubah menjadi beban yang mengasingkan manusia dari hakikat dirinya.
Marx membagi keterasingan ke dalam beberapa bentuk utama, yang seluruhnya dapat ditemukan dalam nasib tokoh Inem:
Terasing dari proses dan aktivitas kerjanya: Marx menekankan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk kreatif yang bekerja secara sadar (species-being). Namun, di bawah paksaan ekonomi, kerja berubah menjadi paksaan semata untuk bertahan hidup. Inem yang masih berusia delapan tahun dipaksa bekerja membantu ekonomi keluarga, mulai dari menjadi pelayan rumah tangga hingga mengurus rumah tangga pernihakannya sendiri. Aktivitas tersebut merenggut masa kanak-kanaknya dan dilakukan bukan atas kehendak bebasnya, melainkan karena keharusan ekonomi.
Terasing dari hakikat kemanusiaannya: Sebagai manusia dan anak-anak, Inem memiliki potensi untuk tumbuh, belajar, dan bermain secara bebas. Namun, tatanan sosial yang timpang mereduksi Inem menjadi sekadar alat ekonomi untuk meringankan beban keluarga. Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sebagai alat (instrument).
Terasing dari sesama manusia: Sistem sosial yang tidak adil merusak relasi antarmanusia. Ketika pernikahan Inem berujung pada kegagalan akibat kekerasan dalam rumah tangga hingga ia akhirnya diceraikan, status baru Inem sebagai “janda cilik” justru mendatangkan stigma dan penolakan dari masyarakat sekitarnya. Lingkungan sosial tidak melihat Inem sebagai korban dari struktur kemiskinan, melainkan menjauhinya. Keterasingan sosial ini memperlihatkan bagaimana tatanan masyarakat yang keras kehilangan rasa empati dan solidaritas Kemanusiaan.
3. Sastra sebagai Pembongkar Ideologi dan Kesadaran Kritis
Melalui kacamata sosiologi sastra Marxis, karya sastra berfungsi bukan sekadar memantulkan penderitaan, melainkan membongkar ideologi yang membuat ketidakadilan sosial tampak seolah-olah sebagai hal yang “normal” atau “wajar”.
Lewat cerpen “Inem”, Pramoedya Ananta Toer melakukan gugatan terhadap kewajaran semu tersebut. Ia memperlihatkan bahwa nasib tragis yang dialami Inem bukanlah takdir alamiah atau kesalahan individu semata, melainkan buah dari struktur hubungan produksi dan kemiskinan sistemik yang membelenggu masyarakat kelas bawah.
Dengan demikian, analisis Marxis terhadap cerpen “Inem” membantu kita memahami bahwa sastra merupakan medan perjuangan untuk membangkitkan kesadaran kritis. Sastra mengajak pembaca untuk melihat realitas secara lebih mendalam, membongkar akar penindasan kelas, serta membuka kemungkinan bagi terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang lebih adil dan humanis.
- Penulis: Zefanya Chrisantya Ningrum
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar