Breaking News
light_mode
Trending Tags

Siapa yang Datang Melayat? Pelajaran dari Cerpen Zulidahlan tentang Tetangga yang Menjauh

  • account_circle Milka Raema LN
  • calendar_month 21 jam yang lalu
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Maka Sempurnalah Penderitaan Saya di Muka Bumi, seorang anak kehilangan ibunya, tetapi duka terbesarnya bukan kematian itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa tidak ada seorang pun datang. “Tidak ada yang datang. Tidak ada yang melayat. Tidak ada yang peduli bahwa seseorang telah mati,” begitu kalimat yang menggambarkan sunyinya rumah tokoh aku. Pertanyaannya, mengapa sebuah kampung bisa begitu dingin terhadap kematian? Jawabannya tidak cukup dicari pada watak tokohnya. Ia harus dicari pada lingkungan yang mengelilinginya.

Di sinilah gagasan milieu dari kritikus Prancis Hippolyte Taine berguna. Taine berpendapat bahwa karya sastra tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibentuk oleh keadaan sosial, budaya, dan alam tempat pengarang dan tokoh-tokohnya hidup. Dengan gagasan ini, penderitaan tokoh aku tidak lagi terbaca sebagai nasib pribadi, melainkan sebagai produk dari cara sebuah masyarakat memperlakukan sesamanya.

Lingkungan pertama dalam cerpen ini adalah kampung yang tertutup dan penuh prasangka. Sejak ayah tokoh aku ditangkap, tetangga menjauh. Penangkapan itu disusul oleh kakak perempuannya, Marmi, abangnya, Parlan, dan pamannya, Tarto, yang hingga kini tak ada kabarnya. Tokoh aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia dihukum karena dianggap sebagai anak dari seseorang yang dicap bersalah. Cerpen ini bisa dibaca sebagai potret masyarakat pascatragedi 1965, ketika kecurigaan politik merembes ke dalam hubungan sehari-hari. Banyak keluarga yang dianggap berafiliasi dengan pihak tertentu dikucilkan, bahkan ketika mereka tidak tahu-menahu soal politik.

Yang mengerikan dari lingkungan semacam ini adalah cara ia bekerja. Tidak ada kekerasan yang tampak. Tidak ada yang berteriak atau mengusir. Yang ada hanya pintu yang tidak diketuk, sapaan yang berhenti, dan pelayat yang tidak datang. Pengucilan dilakukan bersama-sama dengan diam, sehingga tidak ada satu orang pun yang merasa bertanggung jawab. Masyarakat yang dikuasai rasa takut kepada negara dan aparat kehilangan kemampuan paling dasarnya, yaitu berempati pada kematian.

Lingkungan kedua yang digambarkan cerpen ini adalah lingkungan religius. Tokoh aku mendengar suara anak-anak mengaji pada seorang guru muda, sementara guru-guru tua, yang kebanyakan bapak kyai atau haji, disebut telah “jadi korban kebodohan manusia”. Di pedesaan Jawa, kyai dan haji bukan sekadar guru agama. Mereka juga penjaga moral dan rujukan hidup bersama. Hilangnya mereka berarti hilangnya penyangga nilai. Kalimat itu dapat dibaca sebagai kritik bahwa tekanan politik tidak hanya memisahkan orang dari tetangganya, tetapi juga mengosongkan masyarakat dari kearifan yang selama ini menjaga kemanusiaannya.

Kondisi ini menjelaskan mengapa kampung dalam cerpen tampak begitu kehilangan arah moral. Tanpa figur yang mengingatkan bahwa merawat jenazah adalah kewajiban bersama, ketakutan menang atas kemanusiaan.

Hal menarik berikutnya, lingkungan dalam cerpen ini tidak hanya melukai tetapi juga menyembuhkan. Di tengah kesepian, tokoh aku berseru, “Tuhan, kalau memang benar Kau ada, beri aku jalan.” Seruan itu menandai tumbuhnya kesadaran spiritual yang perlahan menggeser dendamnya. Ditambah pesan terakhir sang ibu untuk memaafkan, serta kebaikan kecil seorang pemuda kurus di rumah Pak Lurah, lingkungan sosial yang semula menutup pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pada akhirnya tetangga datang melayat.

Perubahan ini menunjukkan sesuatu yang penting dalam pandangan Taine. Lingkungan membentuk manusia, tetapi lingkungan juga dibentuk oleh manusia. Satu sikap yang memilih memaafkan, bukan membalas, cukup untuk membuka retakan pada dinding prasangka. Tokoh aku tidak melawan dengan amarah. Ia memilih bertahan, mengurus jenazah ibunya sendiri, dan menunggu. Cerpen ini mengajukan harapan yang sederhana: rekonsiliasi dimulai dari satu orang yang menolak membalas kebencian dengan kebencian.

Dari cerpen ini, saya bercermin. Stigma yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mudah ditemukan di sekitar kita, dalam bentuk lain tetapi dengan mekanisme serupa. Kita mencap seseorang karena keluarganya, latar belakangnya, atau pilihan politiknya, lalu perlahan menjauhinya tanpa pernah merasa melakukan kejahatan. Cerpen Zulidahlan mengingatkan bahwa diam bersama bisa menjadi bentuk kekerasan, dan bahwa penderitaan seseorang sering kali bukan semata nasibnya, melainkan buatan lingkungan yang membiarkannya.

Karena itu, membaca sastra lewat lensa milieu bukan sekadar latihan teori. Ia melatih kita bertanya siapa yang membentuk penderitaan, dan apa peran kita di dalamnya. Barangkali ukuran sebuah masyarakat bukan seberapa ramai ia merayakan, melainkan seberapa banyak orang yang datang ketika seseorang yang paling dijauhi kehilangan ibunya.

Biodata Singkat

Milka Raema LN, mahasiswa Universitas Sanata Dharma, program studi Sastra Indonesia. Saat ini saya duduk di semester 7. Di sela-sela perkuliahan, saya sedang belajar mengaplikasikan teori Hippolyte Taine dalam karya sastra—termasuk esai ini yang secara khusus ditulis untuk menuntaskan Ujian Tengah Semester. Dapat disapa melalui Instagram @milkarln dan email milkaraemalisda@gmail.com.

  • Penulis: Milka Raema LN
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    SMPSK Kotagoa Boawae Class Meeting: Ketika Setiap Anak Mendapat Kesempatan untuk Bersinar

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 107
    • 0Komentar

    SMPSK Kotagoa Sport Area tidak hanya dipadati sorak-sorai para pendukung pada ajang Kotagoa Diamond Competition antar Sekolah Dasar yang berlangsung setiap sore hingga malam hari. Ketika matahari kembali menyinari lapangan di pagi dan siang hari, suasana yang sama meriah kembali tercipta. Kali ini, para pelakunya adalah siswa-siswi SMPSK Kotagoa Boawae sendiri melalui kegiatan rutin yang […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 302
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Memori Kolektif Perjuangan Jenderal Sudirman melalui Cerita dan Ingatan Masyarakat

    Memori Kolektif Perjuangan Jenderal Sudirman melalui Cerita dan Ingatan Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Ketika Perjuangan Seorang Jenderal Menjadi Ingatan Bersama Nama Jenderal Sudirman merupakan salah satu nama yang lekat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia tidak hanya dikenang sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh yang melambangkan keteguhan dalam menghadapi tekanan dan keterbatasan selama revolusi kemerdekaan. Perjuangannya, […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

expand_less