Breaking News
light_mode
Trending Tags

Erupsi Gunung Ranakah di Manggarai (1987-1988): Pewarisan Sejarah, Perbedaan Ingatan, dan Suara yang Terlupakan

  • account_circle Divianita Mil 
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Divianita Mil 

Gunung Ranakah terletak di wilayah Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Erupsi Gunung Ranakah pada akhir Desember 1987 hingga tahun 1988 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kebencanaan di wilayah tersebut. Erupsi ini ditandai dengan letusan, keluarnya abu vulkanik, pertumbuhan kubah lava, serta guguran material panas yang membahayakan wilayah di sekitar gunung.

Peristiwa tersebut juga menyebabkan masyarakat di sejumlah wilayah harus mengungsi untuk menghindari bahaya erupsi. Bencana alam tidak hanya meninggalkan perubahan pada lingkungan, tetapi juga membentuk pengalaman dan ingatan masyarakat. Bagi orang yang mengalami langsung erupsi, peristiwa tersebut mungkin diingat sebagai pengalaman yang menakutkan, perubahan kehidupan sehari-hari, atau pengalaman meninggalkan tempat tinggal sementara. Sementara itu, generasi yang tidak mengalami peristiwa tersebut mengenalnya melalui cerita keluarga, catatan sejarah, berita, dan informasi dari berbagai sumber.  Aktivitas erupsi Gunung Ranakah mulai meningkat pada 28 Desember 1987.

Letusan awal menghasilkan kolom abu yang mencapai ratusan hingga ribuan meter di atas kawah. Pada awal Januari 1988, aktivitas erupsi semakin kuat. Pada 3 Januari, kolom letusan dilaporkan mencapai sekitar 4.000 hingga 6.000 meter. Abu vulkanik juga mencapai Ruteng dan Desa Robo.

Kronologi dan dampak terjadinya eropsi gunung berapi 

Pada 6 Januari 1988, sekitar 20.000 orang dilaporkan telah mengungsi dari wilayah dalam radius lima kilometer. Angka tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap keselamatan penduduk di sekitar gunung pada masa erupsi. Pada 10–11 Januari, mulai terbentuk kubah lava. Aktivitas ini disertai guguran material panas, termasuk yang mengarah ke kawasan Wae Reno dan Wae Teko. Pada 22 Januari, terjadi guguran batuan besar di bagian timur Anak Ranakah yang merusak vegetasi di lembah sekitarnya. Aktivitas pertumbuhan kubah lava dan aliran lava masih berlangsung selama beberapa bulan berikutnya, meskipun kemudian berangsur menurun. Dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk gunung dan kerusakan vegetasi. Masyarakat juga menghadapi risiko keselamatan, pengungsian, serta kemungkinan terganggunya kegiatan sehari-hari. Abu vulkanik yang mencapai daerah sekitar dapat memengaruhi lingkungan, sedangkan ancaman material panas membuat sebagian wilayah perlu dihindari. Meskipun demikian, dampak yang dialami setiap masyarakat tidak selalu sama.

Penduduk yang tinggal dekat dengan kawasan berbahaya dapat menghadapi risiko yang berbeda dari penduduk yang tinggal lebih jauh. Karena itu, pembahasan mengenai kerusakan dan pengalaman masyarakat perlu didasarkan pada catatan resmi dan kesaksian yang dapat diperiksa, bukan hanya berdasarkan dugaan.

Hal yang diingat dari erupsi Gunung Ranakah dapat mencakup letusan, abu vulkanik, guguran material panas, pengungsian, serta perubahan lingkungan di sekitar gunung. Bagi masyarakat yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung, ingatan dapat berkaitan dengan pengalaman menghadapi keadaan darurat, mengikuti arahan keselamatan, atau meninggalkan tempat tinggal untuk sementara waktu. Namun, pengalaman setiap orang perlu dipahami berdasarkan kesaksian masing-masing karena tidak semua orang mengalami kejadian yang sama.

Sejarah meletusnya gunung ranaka menurut Deden Wahyudin dalam penelitiannya, Gunung Anak Ranakah terletak di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Gunung ini mulai muncul pada 28 Desember 1987, di antara Pegunungan Mandosawu dan Gunung Ranakah. Sebelum peristiwa tersebut, kawasan pegunungan ini dikenal sebagai kompleks gunung api yang sudah lama tidak menunjukkan aktivitas vulkanik. Kemunculan Gunung Anak Ranakah menjadi peristiwa penting karena menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat muncul kembali di kawasan yang sebelumnya dianggap tidak aktif.

Letusan Gunung Anak Ranakah berlangsung sejak 28 Desember 1987 hingga Januari 1988. Berdasarkan penelitian Deden Wahyudin, aktivitas letusannya meliputi erupsi eksplosif, yaitu keluarnya material vulkanik akibat tekanan dari dalam gunung, dan erupsi efusif, yaitu keluarnya lava ke permukaan. Erupsi tersebut menghasilkan material vulkanik yang penyebarannya perlu diperhatikan karena kawasan sekitar gunung juga dihuni penduduk dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Penelitian Deden Wahyudin juga menjelaskan bahwa letusan Gunung Anak Ranakah berpotensi menimbulkan berbagai bahaya, seperti awan panas, lontaran batuan, hujan abu vulkanik, gas berbahaya, dan aliran lava. Selain itu, terdapat bahaya lanjutan berupa guguran batuan dan lahar. Oleh karena itu, penelitian tersebut digunakan untuk memperkirakan potensi bahaya letusan dan membagi wilayah sekitar gunung ke dalam tiga kawasan rawan bencana, yaitu Kawasan Rawan Bencana I, II, dan III.

Pihak yang mengingat peristiwa ini meliputi para penyintas, keluarga mereka, masyarakat setempat, petugas yang terlibat dalam penanganan bencana, serta peneliti yang mempelajari aktivitas gunung api. Para penyintas memiliki pengalaman langsung, sedangkan anggota keluarga yang lebih muda mungkin mengetahui peristiwa tersebut melalui cerita orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Ingatan tentang erupsi Gunung Ranakah dapat diwariskan melalui cerita lisan dalam keluarga dan masyarakat. Orang yang mengalami peristiwa tersebut dapat menceritakannya kepada anak, cucu, atau generasi yang lebih muda. Melalui cerita tersebut, generasi berikutnya dapat mengenal peristiwa erupsi meskipun mereka tidak mengalaminya secara langsung.

Selain melalui cerita lisan, ingatan juga dapat diwariskan melalui laporan pemerintah, dokumentasi ilmiah, berita, foto, dan tulisan sejarah. Sumber-sumber tersebut memberikan informasi yang lebih teratur mengenai kronologi dan dampak erupsi. Apabila cerita masyarakat dibandingkan dengan catatan tertulis, pemahaman mengenai peristiwa tersebut dapat menjadi lebih lengkap.

Pewarisan ingatan juga penting untuk meningkatkan pengetahuan tentang bencana. Generasi muda dapat mempelajari bahwa lingkungan gunung api memiliki risiko tertentu dan bahwa informasi dari pihak berwenang perlu diperhatikan ketika aktivitas gunung meningkat. Dengan demikian, ingatan terhadap erupsi tidak hanya berfungsi untuk mengenang masa lalu, tetapi juga dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana pada masa mendatang.

Namun, ingatan tidak selalu diwariskan secara lengkap. Sebagian cerita mungkin hanya disampaikan dalam lingkungan keluarga tertentu, sementara cerita lain tidak lagi dibicarakan karena waktu telah berlalu. Oleh sebab itu, wawancara dengan penyintas dan pengumpulan dokumentasi lokal penting dilakukan agar pengalaman masyarakat tidak hilang.

Kelompok yang pengalamannya perlu ditelusuri lebih jauh antara lain perempuan yang mengurus keluarga selama masa pengungsian, anak-anak yang mengalami erupsi, orang lanjut usia, serta keluarga yang harus menyesuaikan kehidupan setelah meninggalkan tempat tinggal. Pengalaman mereka mungkin tidak banyak muncul dalam laporan ilmiah karena laporan tersebut lebih berfokus pada kondisi geologi dan pengamatan gunung api.

Selain itu, generasi muda yang tidak mengalami erupsi secara langsung mungkin hanya mengenal peristiwa tersebut melalui cerita yang terbatas. Jika cerita tidak lagi disampaikan dan dokumentasi lokal tidak tersedia, pengetahuan tentang pengalaman masyarakat dapat semakin berkurang.

Meskipun demikian, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok tersebut sengaja dibungkam atau dilupakan. Untuk mengetahui pengalaman mereka, diperlukan wawancara, arsip lokal, dan sumber sejarah yang dapat dipercaya. Dengan mendengarkan berbagai pihak, penulisan sejarah erupsi Gunung Ranakah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi pengalaman masyarakat, bukan hanya berfokus pada peristiwa geologisnya.

Ingatan masyarakat mengenai erupsi Gunung Ranakah dapat berbeda karena setiap orang memiliki pengalaman dan posisi yang berbeda. Orang yang tinggal dekat dengan kawasan berbahaya mungkin lebih mengingat ancaman letusan dan pengungsian. Sementara itu, orang yang tinggal lebih jauh mungkin lebih mengingat abu vulkanik atau informasi yang diterima dari orang lain.

Perbedaan juga dipengaruhi oleh usia dan pengalaman. Orang yang mengalami erupsi ketika masih anak-anak mungkin mengingat beberapa bagian peristiwa secara berbeda dari orang dewasa yang harus mengambil keputusan untuk melindungi keluarga. Setelah bertahun-tahun, ingatan juga dapat berubah karena seseorang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan keadaan hidupnya sekarang.

 

Sumber informasi turut memengaruhi cara masyarakat memahami peristiwa tersebut. Kesaksian penyintas biasanya berisi pengalaman pribadi, sedangkan laporan ilmiah menekankan data dan aktivitas gunung api. Keduanya tidak harus bertentangan karena menjelaskan sisi yang berbeda dari peristiwa yang sama.

Oleh karena itu, perbedaan ingatan tidak selalu berarti bahwa salah satu pihak keliru. Perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa sebuah peristiwa sejarah memiliki banyak sisi. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap, cerita masyarakat perlu dibandingkan dengan dokumen sejarah, laporan resmi, dan kesaksian lain yang relevan.

  • Penulis: Divianita Mil 
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 351
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • Sudut Pandang: Penjaga Garis Nol Bumi: Jiwa Abadi Garis Mentari

    Sudut Pandang: Penjaga Garis Nol Bumi: Jiwa Abadi Garis Mentari

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Mercy Eunike Grahyesta Beslar
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Oleh: Mercy Eunike Grahyesta Beslar Menatap Titik Nol: Jejak Ekuator di Bumi Siantan Kota Pontianak berdiri tegak di atas hamparan geografis yang amat istimewa dalam peta dunia. Di wilayah Siantan, Pontianak Utara, terbentang garis imajiner bumi bernilai nol derajat (0°00’00” Latitude) yang membelah belahan bumi utara dan belahan bumi selatan secara sempurna. Di titik inilah […]

  • Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    Ketika Tangan yang Memberi Justru Dipersoalkan

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, sampai dengan saat ini, saya masih melaksanakan recovery setelah minggu pertama pasca gempa turun ke beberapa lokasi. Dan tidak sengaja, tadi saya temukan sesuatu di Facebook. Dan saya mencoba menulis sebisa saya dan merespon apa kadarnya. Sebab, kandang kita salah dan tidak salah presepsi atas sesuatu yang terlihat oleh mata. Saya membaca […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 422
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

expand_less