Breaking News
light_mode
Trending Tags

Siapa yang Datang Melayat? Pelajaran dari Cerpen Zulidahlan tentang Tetangga yang Menjauh

  • account_circle Milka Raema LN
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Maka Sempurnalah Penderitaan Saya di Muka Bumi, seorang anak kehilangan ibunya, tetapi duka terbesarnya bukan kematian itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa tidak ada seorang pun datang. “Tidak ada yang datang. Tidak ada yang melayat. Tidak ada yang peduli bahwa seseorang telah mati,” begitu kalimat yang menggambarkan sunyinya rumah tokoh aku. Pertanyaannya, mengapa sebuah kampung bisa begitu dingin terhadap kematian? Jawabannya tidak cukup dicari pada watak tokohnya. Ia harus dicari pada lingkungan yang mengelilinginya.

Di sinilah gagasan milieu dari kritikus Prancis Hippolyte Taine berguna. Taine berpendapat bahwa karya sastra tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibentuk oleh keadaan sosial, budaya, dan alam tempat pengarang dan tokoh-tokohnya hidup. Dengan gagasan ini, penderitaan tokoh aku tidak lagi terbaca sebagai nasib pribadi, melainkan sebagai produk dari cara sebuah masyarakat memperlakukan sesamanya.

Lingkungan pertama dalam cerpen ini adalah kampung yang tertutup dan penuh prasangka. Sejak ayah tokoh aku ditangkap, tetangga menjauh. Penangkapan itu disusul oleh kakak perempuannya, Marmi, abangnya, Parlan, dan pamannya, Tarto, yang hingga kini tak ada kabarnya. Tokoh aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia dihukum karena dianggap sebagai anak dari seseorang yang dicap bersalah. Cerpen ini bisa dibaca sebagai potret masyarakat pascatragedi 1965, ketika kecurigaan politik merembes ke dalam hubungan sehari-hari. Banyak keluarga yang dianggap berafiliasi dengan pihak tertentu dikucilkan, bahkan ketika mereka tidak tahu-menahu soal politik.

Yang mengerikan dari lingkungan semacam ini adalah cara ia bekerja. Tidak ada kekerasan yang tampak. Tidak ada yang berteriak atau mengusir. Yang ada hanya pintu yang tidak diketuk, sapaan yang berhenti, dan pelayat yang tidak datang. Pengucilan dilakukan bersama-sama dengan diam, sehingga tidak ada satu orang pun yang merasa bertanggung jawab. Masyarakat yang dikuasai rasa takut kepada negara dan aparat kehilangan kemampuan paling dasarnya, yaitu berempati pada kematian.

Lingkungan kedua yang digambarkan cerpen ini adalah lingkungan religius. Tokoh aku mendengar suara anak-anak mengaji pada seorang guru muda, sementara guru-guru tua, yang kebanyakan bapak kyai atau haji, disebut telah “jadi korban kebodohan manusia”. Di pedesaan Jawa, kyai dan haji bukan sekadar guru agama. Mereka juga penjaga moral dan rujukan hidup bersama. Hilangnya mereka berarti hilangnya penyangga nilai. Kalimat itu dapat dibaca sebagai kritik bahwa tekanan politik tidak hanya memisahkan orang dari tetangganya, tetapi juga mengosongkan masyarakat dari kearifan yang selama ini menjaga kemanusiaannya.

Kondisi ini menjelaskan mengapa kampung dalam cerpen tampak begitu kehilangan arah moral. Tanpa figur yang mengingatkan bahwa merawat jenazah adalah kewajiban bersama, ketakutan menang atas kemanusiaan.

Hal menarik berikutnya, lingkungan dalam cerpen ini tidak hanya melukai tetapi juga menyembuhkan. Di tengah kesepian, tokoh aku berseru, “Tuhan, kalau memang benar Kau ada, beri aku jalan.” Seruan itu menandai tumbuhnya kesadaran spiritual yang perlahan menggeser dendamnya. Ditambah pesan terakhir sang ibu untuk memaafkan, serta kebaikan kecil seorang pemuda kurus di rumah Pak Lurah, lingkungan sosial yang semula menutup pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pada akhirnya tetangga datang melayat.

Perubahan ini menunjukkan sesuatu yang penting dalam pandangan Taine. Lingkungan membentuk manusia, tetapi lingkungan juga dibentuk oleh manusia. Satu sikap yang memilih memaafkan, bukan membalas, cukup untuk membuka retakan pada dinding prasangka. Tokoh aku tidak melawan dengan amarah. Ia memilih bertahan, mengurus jenazah ibunya sendiri, dan menunggu. Cerpen ini mengajukan harapan yang sederhana: rekonsiliasi dimulai dari satu orang yang menolak membalas kebencian dengan kebencian.

Dari cerpen ini, saya bercermin. Stigma yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mudah ditemukan di sekitar kita, dalam bentuk lain tetapi dengan mekanisme serupa. Kita mencap seseorang karena keluarganya, latar belakangnya, atau pilihan politiknya, lalu perlahan menjauhinya tanpa pernah merasa melakukan kejahatan. Cerpen Zulidahlan mengingatkan bahwa diam bersama bisa menjadi bentuk kekerasan, dan bahwa penderitaan seseorang sering kali bukan semata nasibnya, melainkan buatan lingkungan yang membiarkannya.

Karena itu, membaca sastra lewat lensa milieu bukan sekadar latihan teori. Ia melatih kita bertanya siapa yang membentuk penderitaan, dan apa peran kita di dalamnya. Barangkali ukuran sebuah masyarakat bukan seberapa ramai ia merayakan, melainkan seberapa banyak orang yang datang ketika seseorang yang paling dijauhi kehilangan ibunya.

Biodata Singkat

Milka Raema LN, mahasiswa Universitas Sanata Dharma, program studi Sastra Indonesia. Saat ini saya duduk di semester 7. Di sela-sela perkuliahan, saya sedang belajar mengaplikasikan teori Hippolyte Taine dalam karya sastra—termasuk esai ini yang secara khusus ditulis untuk menuntaskan Ujian Tengah Semester. Dapat disapa melalui Instagram @milkarln dan email milkaraemalisda@gmail.com.

  • Penulis: Milka Raema LN
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 360
    • 2Komentar

    Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    Sudut Pandang: Di Balik Seragam dan Pintu Kos

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Regina Alexandria Wulandari
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Oleh: Regina Alexandria Wulandari Pagi hari bagi sebagian orang mungkin dimulai dengan secangkir kopi, sarapan, atau persiapan untuk berangkat kuliah dan bekerja. Namun, bagi bapakku yang kini berusia 52 tahun, pagi menjadi waktu untuk kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah 18 tahun bekerja sebagai satpam, kini ia menjalani pekerjaan berbeda dengan menjaga sebuah rumah kos. Seragam […]

  • Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    Ketika Penindasan Dianggap Wajar: Kekerasan Simbolik dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El Saadawi

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Alfina Shalsa Damayanti
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Oleh: Alfina Shalsa Damayanti – Esai Kajian Sastra Indonesia. Universitas Sanata Dharma Penindasan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam kehidupan sosial, penindasan juga dapat berlangsung melalui nilai, norma, dan pandangan yang menentukan bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Ketika perempuan dituntut untuk patuh, menerima keputusan laki-laki, dan mempertahankan kehormatan berdasarkan ukuran yang ditentukan […]

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Langit yang Menyatukan, Bumi yang Memisahkan: Membaca Takdir Bidadari dari Jawa hingga Sulawesi Tenggara

    Langit yang Menyatukan, Bumi yang Memisahkan: Membaca Takdir Bidadari dari Jawa hingga Sulawesi Tenggara

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Yoseph Yapi Taum
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Oleh: Yoseph Yapi Taum Ada getaran yang membekas ketika membaca kembali mitos-mitos lama Nusantara. Cerita tentang seorang pemuda bumi yang mengintai bidadari mandi di telaga, mencuri pakaian atau selendangnya, lalu memaksanya terikat dalam kehidupan fana, adalah motif yang berulang dari ujung barat hingga timur kepulauan ini. Namun, ketika dua cerita dari dua bentang geografis yang […]

expand_less