Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kekuasaan dan Pertarungan Legitimasi dalam Cerpen Keroncong Pembunuhan Karya Seno Gumira Ajidarma melalui Perspektif Pierre Bourdieu

  • account_circle Elisabet Laura Kurniasari
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Elisabet Laura Kurniasari

Kekuasaan dalam kehidupan sosial tidak selalu dipertahankan melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui pembentukan cara berpikir, penguasaan informasi, dan penentuan kebenaran yang dianggap sah. Individu sering kali menerima suatu ajaran tanpa mempertanyakan dasar keberadaannya karena telah terbiasa hidup dalam struktur sosial tertentu. Persoalan tersebut tergambar dalam cerpen Keroncong Pembunuhan karya Seno Gumira Ajidarma yang mengisahkan seorang penembak bayaran ketika menjalankan kontrak pembunuhan terhadap seseorang yang disebut sebagai pengkhianat bangsa dan negara. Namun, tugas tersebut menimbulkan konflik ketika penembak mulai mempertanyakan kesalahan sasarannya. Melalui perspektif sosiologi sastra Pierre Bourdieu, konflik tersebut dapat dipahami sebagai hubungan antara habitus, modal, ranah, doxa, ortodoksi, heterodoksi, dan kekerasan simbolik yang membentuk pertarungan legitimasi kekuasaan.

Habitus merupakan sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman sosial dan mempengaruhi cara individu berpikir, menilai, serta bertindak. Dalam cerpen, habitus terlihat melalui pandangan penembak yang menganggap pembunuhan sebagai pekerjaan profesional. Pernyataan “Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku” menunjukkan bahwa penembak telah menginternalisasi pembagian tanggung jawab antara pelaksana dan pemberi perintah. Bahkan, pernyataan “Aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk” memperlihatkan usaha memisahkan tindakan teknis dari konsekuensi moralnya. Dengan demikian, kekerasan tidak lagi dipahami sebagai tindakan yang harus dipertanggungjawabkan secara pribadi, melainkan sebagai kewajiban kontraktual yang dianggap wajar.

Habitus tersebut terbentuk dan dijalankan dalam hubungan sosial yang mempertemukan kepentingan politik dengan jaringan operasi pembunuhan. Dalam konsep ranah Bourdieu, setiap pelaku menempati posisi berbeda berdasarkan penguasaan sumber daya dan kewenangannya. Penembak memiliki kemampuan teknis, tetapi tidak berwenang menentukan sasaran maupun waktu pelaksanaan. Sebaliknya, perempuan perantara menguasai informasi dan penyampaian instruksi meskipun tidak memegang senjata. Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan alat kekerasan tidak selalu sejalan dengan kewenangan mengambil keputusan.
Hubungan antarpelaku juga memperlihatkan peranan berbagai bentuk modal. Modal ekonomi diwujudkan melalui kontrak pembayaran yang digunakan untuk memperoleh sekaligus mengendalikan tenaga penembak. Keahlian membidik menjadi modal budaya yang memberikan keuntungan dalam jaringan pembunuhan. Sementara itu, hubungan antara penembak, perempuan perantara, dan pemberi perintah menunjukkan keberadaan jaringan operasional yang memungkinkan pertukaran informasi. Adapun modal simbolik terlihat pada laki-laki berbaju batik merah yang memperoleh penghormatan dari peserta pesta.

Pernyataan “Orang-orang mengerumuninya dengan hormat” menunjukkan adanya pengakuan sosial terhadap kedudukannya. Namun, pengakuan tersebut bertentangan dengan tuduhan politik yang dilekatkan kepadanya.

Pertentangan itu memperlihatkan adanya perebutan kewenangan dalam menentukan identitas seseorang. Pemberi tugas menyebut sasaran sebagai “pengkhianat bangsa dan negara” tanpa memberikan pembuktian yang memadai. Tuduhan tersebut berfungsi sebagai upaya delegitimasi terhadap individu yang sebelumnya memperoleh penghormatan sosial. Melalui kategori pengkhianat, kepentingan politik tertentu berusaha ditampilkan sebagai kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian, legitimasi kekuasaan dibangun melalui klaim kebenaran yang digunakan untuk membenarkan tindakan pembunuhan.

Dalam perspektif Bourdieu, mekanisme tersebut menunjukkan indikasi kekerasan simbolik, yakni dominasi yang bekerja melalui bahasa dan kategori penilaian sehingga suatu ketimpangan dapat diterima sebagai sesuatu yang sah. Ketika penembak sempat menganggap sasaran pantas memperoleh hukuman karena disebut pengkhianat, terlihat bahwa penilaian politik pemberi tugas mulai mempengaruhi cara berpikirnya. Padahal, penembak belum mengetahui secara langsung kesalahan sasaran. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pelabelan politik dapat menormalisasi kekerasan fisik melalui pembentukan persepsi mengenai siapa yang dianggap bersalah.

Penerimaan awal penembak terhadap pembagian kewenangan juga menunjukkan indikasi doxa, yaitu keyakinan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar tanpa dipertanyakan. Namun, keadaan berubah ketika ia mulai meragukan tuduhan terhadap sasarannya. Pertanyaan “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” memperlihatkan munculnya heterodoksi, yakni pandangan yang menentang aturan dan kebenaran dominan. Penembak tidak lagi mempersoalkan prosedur kontrak semata, tetapi mulai menggugat legitimasi keputusan pembunuhan.

Sebaliknya, perempuan perantara menunjukkan kecenderungan ortodoksi dengan mempertahankan kewenangan melalui perintah, pembatasan informasi, dan ancaman pembatalan kontrak. Ketika penembak menolak, pertentangan berkembang menjadi perebutan informasi dan perubahan posisi kekuasaan. Penembak menggunakan keterampilan membidiknya untuk mengancam perempuan hingga memperoleh informasi mengenai laki-laki berkacamata sebagai pihak pemberi perintah. Kemampuan yang semula mendukung kepentingan pihak dominan akhirnya digunakan untuk menentang kewenangan tersebut. Meskipun demikian, perubahan ini tidak menunjukkan pembebasan sepenuhnya karena penembak masih menggunakan ancaman kekerasan sebagai sarana menyelesaikan konflik.

Melalui keseluruhan konflik tersebut, Keroncong Pembunuhan memperlihatkan bahwa habitus dapat menormalisasi kepatuhan terhadap kekuasaan, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan munculnya heterodoksi. Keraguan penembak menjadi awal perlawanan terhadap legitimasi politik yang sebelumnya diterima tanpa pembuktian. Sementara itu, pelabelan pengkhianat memperlihatkan bagaimana kekerasan simbolik berpotensi menjadikan kepentingan pihak dominan seolah-olah sebagai kebenaran bersama.

Namun, perlawanan penembak tetap bersifat terbatas karena ia belum meninggalkan habitus kekerasan yang membentuk tindakannya. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan bahwa menggugat legitimasi kekuasaan tidak selalu berarti terbebas dari mekanisme dominasi. Persoalan utamanya bukan hanya siapa yang memiliki kekuasaan untuk memberikan perintah, melainkan juga siapa yang berhak menentukan kebenaran dan menjadikan penilaian tersebut sebagai dasar untuk menguasai kehidupan orang lain.

  • Penulis: Elisabet Laura Kurniasari
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Tuhan dan Puan Sedang Online Kucumbui minggu dijantung rindu Ada sehelai cemburu yang gugur Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.   Aku tahu, Mungkin kau sedang memulung harimu Dalam kesibukan Hingga serentetan pesanku kau abaikan. Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh, […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 232
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Stefani Kurnia
    • visibility 75
    • 0Komentar

    “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17) Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia pada […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 235
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

expand_less