Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

  • account_circle Kasianus Sebho
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan. Jika pertanian mampu membiayai pendidikan dan kehidupan keluarga, mengapa generasi muda justru enggan menjadi petani?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana persoalan pendapatan. Ada banyak faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga perubahan gaya hidup yang memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.

Salah satu faktor yang paling terlihat adalah citra profesi petani itu sendiri. Sejak lama, petani sering digambarkan sebagai pekerjaan yang identik dengan panas matahari, lumpur, pekerjaan fisik yang berat, serta pendapatan yang tidak menentu. Gambaran tersebut tertanam cukup kuat di masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang tua yang bekerja sebagai petani justru mendorong anak-anaknya mencari pekerjaan lain karena menganggap pekerjaan di sektor formal lebih bergengsi dan lebih aman.

Ironisnya, banyak anak petani tumbuh dengan mendengar nasihat agar belajar giat supaya tidak perlu menjadi petani seperti orang tuanya. Pesan tersebut disampaikan dengan niat baik, tetapi secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa bertani adalah pilihan terakhir ketika seseorang gagal mendapatkan pekerjaan lain.

Selain persoalan citra, faktor ekonomi juga berperan besar. Banyak anak muda melihat hasil akhir yang diterima petani tanpa memahami proses akumulasi aset yang dimiliki generasi sebelumnya. Seorang petani senior yang saat ini terlihat sukses umumnya telah mengelola lahan selama puluhan tahun. Mereka memiliki sawah, kebun, ternak, jaringan pemasaran, pengalaman menghadapi risiko, dan modal yang dibangun secara bertahap.

Sementara itu, anak muda yang ingin memulai dari nol menghadapi tantangan berbeda. Harga lahan semakin mahal, biaya produksi meningkat, sementara akses modal tidak selalu mudah. Bagi sebagian generasi muda, pekerjaan di sektor lain terlihat lebih cepat menghasilkan pendapatan bulanan dibandingkan harus membangun usaha tani dari awal.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penting. Generasi muda saat ini hidup di era digital yang menawarkan berbagai pilihan pekerjaan baru. Profesi seperti kreator konten, desainer grafis, programmer, analis data, hingga pelaku bisnis digital menjadi semakin populer. Banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan dari rumah atau dari mana saja dengan koneksi internet.

Sebaliknya, kegiatan pertanian masih dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mengharuskan seseorang hadir langsung di lahan setiap hari. Padahal kenyataannya, perkembangan teknologi pertanian modern telah mengubah banyak hal. Penggunaan drone, sensor tanah, aplikasi pemantauan cuaca, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran digital mulai diterapkan di berbagai daerah. Namun perubahan ini belum sepenuhnya diketahui oleh sebagian besar generasi muda.

Ada pula faktor ketidakpastian yang membuat anak muda ragu terjun ke sektor pertanian. Petani berhadapan dengan cuaca yang berubah, serangan organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga, hingga perubahan pasar. Risiko tersebut sering kali lebih terlihat dibandingkan peluang yang tersedia. Ketika terjadi gagal panen atau harga anjlok, informasi tersebut cepat menyebar dan membentuk persepsi negatif terhadap dunia pertanian.

Di sisi lain, kisah sukses petani sering tidak mendapatkan ruang publik yang sama besar. Padahal banyak petani hortikultura, petani benih, petani buah, peternak, maupun pelaku agribisnis yang mampu memperoleh pendapatan cukup tinggi dan mengembangkan usaha hingga berskala besar.

Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya banyak anak muda tidak menolak sektor pertanian. Mereka lebih cenderung menolak model pertanian konvensional yang dianggap berat dan kurang menarik. Ketika pertanian dikemas dalam bentuk bisnis modern, agritech, pertanian presisi, hidroponik, pertanian organik, atau pemasaran berbasis digital, minat generasi muda mulai terlihat meningkat.

Fenomena munculnya petani milenial di berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada sektor pertanian, melainkan pada cara sektor tersebut dipersepsikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi pertanian maupun nonpertanian yang mulai melihat peluang baru dalam bisnis benih, budidaya buah premium, ekspor komoditas pertanian, produksi pupuk organik, hingga jasa teknologi pertanian.

Fakta bahwa banyak petani mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses sebenarnya menunjukkan satu hal yang jarang dibahas. Pertanian telah menjadi fondasi ekonomi jutaan keluarga Indonesia selama beberapa generasi. Keberhasilan anak-anak petani memperoleh pendidikan yang lebih tinggi merupakan bukti bahwa sektor ini memiliki kemampuan menciptakan nilai ekonomi yang nyata.

Namun bagi generasi muda, keputusan memilih pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. Faktor gengsi sosial, lingkungan pergaulan, peluang karier, akses teknologi, kenyamanan kerja, dan harapan masa depan ikut membentuk pilihan mereka. Karena itulah, meskipun dunia pertanian memiliki peluang besar, daya tariknya di mata anak muda sering kali kalah oleh persepsi yang telah terbentuk bertahun tahun

 

  • Penulis: Kasianus Sebho
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 223
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 179
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 โ€” Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

expand_less