Breaking News
light_mode
Trending Tags

Messi Adalah Titik Kumpul dari Para Pemain Inggris

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • visibility 226
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada dua hal yang sulit saya lakukan belakangan ini: bangun pagi dan percaya bahwa alarm benar-benar punya niat baik kepada manusia. Udara sedang dingin-dinginnya. Selimut terasa seperti kontrak seumur hidup yang tidak boleh diputus sepihak. Namun, sejak babak 32 besar Piala Dunia dimulai, semua prinsip hidup itu mendadak gugur.

Saya rela bangun pukul tiga dini hari. Bukan karena sedang menjadi pribadi religius yang rajin bangun sebelum fajar, melainkan karena ada dua tim yang membuat kantuk kehilangan martabatnya: Spanyol dan Argentina.

Pagi tadi giliran Argentina menghadapi Inggris. Banyak orang mengira pertandingan ini adalah duel sebelas lawan sebelas. Padahal, kenyataannya lebih sederhana sekaligus lebih lucu. Ini adalah pertandingan Lionel Messi melawan hampir seluruh pemain Inggris.

Sejak peluit pertama dibunyikan, Messi diperlakukan bukan sebagai seorang pemain sepak bola, melainkan sebagai pusat gravitasi. Ke mana ia bergerak, empat sampai lima pemain Inggris ikut bergeser. Kalau Messi berjalan ke kanan, mereka ikut ke kanan. Kalau ia turun menjemput bola, mereka ikut turun. Rasanya tinggal menunggu saja kapan salah satu pemain Inggris ikut duduk kalau Messi memutuskan beristirahat sejenak.

Saya membayangkan Tuchel mungkin berkata sebelum pertandingan, “Jangan biarkan Messi bernapas.”

Masalahnya, ketika terlalu sibuk menghitung napas Messi, Inggris lupa menghitung pemain Argentina yang lain.

Babak pertama berjalan keras. Intensitas pertandingan langsung tinggi. Pelanggaran demi pelanggaran membuat wasit bekerja lebih keras daripada komentator yang harus mencari kata-kata baru selain “pelanggaran taktis”. Tidak ada gol tercipta. Kedua tim masih saling mengukur, saling mengintip celah, sambil berharap lawan lebih dulu melakukan kesalahan.

Memasuki babak kedua, Inggris akhirnya memecah kebuntuan. Sebuah serangan cepat berhasil diselesaikan Gordon menjadi gol pada menit ke-55. Stadion bergemuruh. Para pendukung Inggris mulai membayangkan tiket menuju final.

Lalu datanglah keputusan yang, menurut saya, terlalu cepat lahir dari rasa takut. Tidak lama setelah hydration break, Gordon ditarik keluar dan diganti pemain bertahan. Skor memang masih 1-0, tetapi Inggris seolah memutuskan bahwa pertandingan sudah selesai.

Padahal, ada satu aturan tidak tertulis dalam sepak bola: jangan pernah menganggap pertandingan selesai selama Messi masih berada di lapangan.

Scaloni membaca situasi dengan tenang. Ia tidak panik. Justru karena Messi sudah menjadi titik kumpul seluruh pemain Inggris, ruang kosong bermunculan di tempat lain. Argentina tinggal membutuhkan kaki-kaki segar untuk memasuki ruang yang mulai ditinggalkan itu.

Pergantian pemain pun dilakukan. Tenaga baru masuk. Ritme permainan berubah. Serangan Argentina menjadi lebih hidup. Bola tidak lagi harus selalu berakhir di kaki Messi. Justru karena semua mata terus tertuju kepadanya, pemain lain memperoleh kemewahan yang jarang dimiliki di pertandingan besar: ruang.

Gol penyama akhirnya lahir melalui Enzo Fernández. Setelah beberapa kali mencoba menembak dari luar kotak penalti, percobaan berikutnya akhirnya bersarang di gawang Inggris. Umpan Messi dari sisi kanan kembali menunjukkan bahwa visi bermain kadang lebih mematikan daripada kecepatan berlari.

Skor berubah menjadi 1-1. Di pinggir lapangan, Scaloni tetap tenang seperti orang yang sudah tahu akhir cerita. Sebaliknya, Tuchel mulai kehilangan ketenangan. Ia buru-buru memasukkan pemain yang lebih menyerang, mencoba merebut kembali momentum yang perlahan berpindah kubu.

Namun, momentum dalam sepak bola sering kali punya selera humor. Belum lama Inggris menata ulang permainan, Lautaro Martínez justru mencetak gol kedua Argentina. Lagi-lagi Messi menjadi arsitek yang tidak terlalu tertarik mencetak gol sendiri. Ia cukup menggeser bola ke ruang yang benar, lalu membiarkan rekan setim menyelesaikan pekerjaan.

Messi memang tidak selalu harus menjadi pencetak gol agar menjadi pemain terbaik di lapangan. Kadang ia cukup membuat seluruh pertahanan lawan kehilangan orientasi. Dan pagi itu, Inggris tampak seperti sekelompok orang yang terlalu sibuk mengejar bayangan hingga lupa menjaga pintu rumahnya sendiri.

Peluit panjang akhirnya berbunyi. Argentina menang 2-1 dan melaju ke final untuk menemani Spanyol.

Pertandingan ini sekali lagi mengajarkan bahwa Messi bukan sekadar pemain yang harus dijaga. Ia adalah gangguan sistem. Kehadirannya memaksa lawan mengubah struktur, mengorbankan posisi, bahkan mengubah cara berpikir sepanjang pertandingan.

Ironisnya, semakin banyak pemain Inggris berkumpul mengelilingi Messi, semakin besar ruang yang mereka tinggalkan untuk pemain Argentina lainnya.

Dan mungkin, di situlah letak kejeniusan terbesar Lionel Messi. Ia tidak selalu menjadi pusat permainan karena terus memegang bola.

Kadang ia menjadi pusat permainan hanya karena semua orang terlalu sibuk menjaganya.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Menyebut Namamu, Lukisan Tak Bernama, Bukan Kita, Aku

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Menyebut Namamu Aku pernah mencoba mencari celah pada bingkai senyummu Namun yang aku dapat hanyalah rajutan kata yang di bungkus rapi pada wajah cantikmu Itulah alasan pasti mengapa aku tetap di sini menatap langit tanpa henti sembari melantunkan doa di sepertiga malam menyebutkan namamu pada puisiku untuk […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month 2 jam yang lalu
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • Puisi-Puisi Hyan Godho

    Puisi-Puisi Hyan Godho

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hyand Godho
    • visibility 251
    • 0Komentar

    TUA JOSE [P. Yosef Wiese, SVD]   Opa Kumi kasi Tua Jose kuda besar Waktu ia datang ke Boanio Jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin.   Nenek Tera kaget (istrinya Opa Kumi). “Orang Belanda, bukannya pegang senjata?” “Lalu curi kami pu rempah-rempah di ladang?”. “Juga Jagung, juga padi dan kelapa” tambahnya.   Tua Jose diam saja […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 408
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 246
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

  • SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    SKENARIO PARIPURNA OLIGARKI: Menanti Pahlawan Keadilan di Balik Kriminalisasi Nadiem Makarim

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Mohammad Sjafie Tama
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Oleh: Mohammad Sjafie Tama Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Ibarat Tubuh, Indonesia sedang disayat-sayat oleh pedang hukum milik kuasa modal. Baru saja dipertontonkan kepada kita, ruang sidang yang seharusnya menjadi altar suci bagi keadilan kini berubah menjadi ruang jagal bagi para inovator dan pengabdi. Tuntutan 18 tahun penjara serta denda Rp 5,6 […]

expand_less