Breaking News
light_mode
Trending Tags

Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
  • visibility 90
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama.

Saya tidak.

Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster Timnas Spanyol di Pasar Boawae. Di sana ada wajah-wajah muda seperti Cesc Fàbregas, Fernando Torres, dan David Villa. Entah mengapa, mata saya berhenti pada Cesc. Sejak hari itu, saya merasa telah menemukan tim yang ingin saya ikuti. Bahkan di lemari pakaian saya pernah menempel foto Cesc Fàbregas. Barangkali terdengar berlebihan, tetapi begitulah cinta bekerja. Ia sering kali datang diam-diam, tanpa meminta persetujuan siapa pun.

Empat tahun kemudian, Piala Dunia 2010 menjadi panggung yang mengubah kenangan itu menjadi sesuatu yang lebih hidup.

Saya tidak mengikuti perjalanan Spanyol sejak fase grup. Bahkan semifinal pun saya lewatkan. Yang saya tahu hanya satu: Spanyol akan bermain di final melawan Belanda.

Hari Rabu sebelum pertandingan, saya membeli jersey Spanyol di Pasar Rabu Boawae. Saya masih mengingat rasanya mengenakan baju itu untuk pertama kali. Seolah-olah saya sudah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka.

Dini hari, sekitar pukul dua, bapak membangunkan saya.

Kami berjalan kaki menuju rumah Bapak Seli, tempat warga kampung mengadakan nonton bareng. Mata saya masih berat menahan kantuk. Jalanan masih gelap. Saya hanya mengikuti langkah bapak dari belakang. Sesampainya di sana, teras rumah sudah dipenuhi orang. Bapak menyuruh saya menyelinap ke depan agar bisa duduk dengan nyaman. Beliau memastikan saya dapat melihat layar dengan jelas, sementara dirinya berdiri di belakang bersama orang-orang lain.

Mungkin bapak lupa pertandingan itu.

Tetapi saya tidak.

Malam itu saya pertama kali benar-benar menyaksikan permainan Andrés Iniesta, Xavi Hernández, Carles Puyol, Gerard Piqué, Sergio Ramos, David Villa, Fernando Torres, dan tentu saja Cesc Fàbregas.

Saya bukan hanya melihat sebelas pemain.

Saya sedang menyaksikan sebuah cara berpikir tentang sepak bola.

Bola mengalir dari kaki ke kaki tanpa tergesa-gesa. Mereka tidak bermain untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, melainkan membuat seluruh tim terlihat indah. Sementara Belanda mengandalkan kecepatan Arjen Robben dan ketajaman Robin van Persie, Spanyol menjawabnya dengan kesabaran, penguasaan bola, dan pertahanan yang nyaris tanpa celah. Ketika akhirnya Iniesta mencetak gol kemenangan di babak tambahan waktu, saya merasa telah memilih tim yang tepat untuk dicintai.

Enam belas tahun berlalu.

Pagi ini, saya kembali duduk menyaksikan Spanyol. Generasinya telah berganti. Nama-nama yang dulu saya hafal kini hanya terlihat di tribun penonton. Xavi, Puyol, Ramos, hingga Iker Casillas hadir sebagai saksi bahwa waktu memang berjalan, tetapi identitas sebuah tim bisa tetap hidup.

Di lapangan, cerita baru sedang ditulis.

Rodri mengatur ritme permainan dengan tenang. Fabián Ruiz, Dani Olmo, dan Pedri membuat lini tengah Prancis nyaris kehilangan napas. Serangan-serangan yang biasanya mengalir kepada Kylian Mbappé dan Ousmane Dembélé dipatahkan bahkan sebelum berkembang. Di belakang, Pau Cubarsí yang baru berusia sembilan belas tahun bermain dengan ketenangan seorang bek yang seolah telah puluhan tahun berada di level tertinggi. Dan ketika bola berhasil melewati lini pertahanan, Unai Simón selalu siap menutup ruang terakhir.

Spanyol tidak sekadar mengalahkan Prancis.

Mereka membuat salah satu tim terkuat dunia kehilangan cara bermainnya.

Dua gol yang lahir melalui penalti Mikel Oyarzabal dan sepakan Pedro Porro membawa Spanyol menang 2–0 sekaligus melangkah ke final. Skornya memang sederhana, tetapi permainan mereka jauh lebih indah daripada angka yang terpampang di papan pertandingan.

Usai peluit panjang berbunyi, saya tidak merasa perlu berdebat dengan siapa pun tentang siapa tim terbaik di dunia.

Saya memilih menyeduh secangkir kopi.

Di sampingnya ada beberapa potong pisang goreng yang masih hangat.

Kadang, kemenangan sepak bola memang paling nikmat dirayakan dengan cara yang sederhana.

Sebab yang membuat pagi ini terasa istimewa bukan hanya kemenangan Spanyol. Yang ikut hadir adalah kenangan tentang seorang bapak yang membangunkan anaknya dini hari demi menonton final Piala Dunia. Tentang langkah-langkah kaki menuju rumah tetangga dalam udara yang dingin. Tentang sebuah jersey yang dibeli di pasar. Tentang seorang anak yang diam-diam belajar bahwa sepak bola lebih dari sekadar menang dan kalah.

Ia adalah tempat kenangan menemukan rumahnya.

Dan setiap kali Spanyol bermain, rumah itu selalu membuka pintunya kembali.

Jadi, lupakan dulu segala perdebatan tentang Prancis.

Mari nikmati kopi.

Dan pisang goreng yang pagi ini terasa sedikit lebih manis.

Fian N, Pondok Baca Mataleza 2026

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 299
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

  • Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    Kami Terlalu Lelah: Suara Anak-Anak dari Rumah yang Retak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Kami terlalu lelah. Kalimat itu tidak lahir dari satu hari yang buruk, melainkan dari bertahun-tahun yang menumpuk dalam diam. Lelah karena harus mengerti sebelum waktunya, lelah karena harus kuat ketika tidak ada pilihan lain, lelah karena tumbuh di antara suara yang selalu lebih keras dari hati kami sendiri. Kami tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya […]

  • Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 453
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang […]

expand_less