Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan.

Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia.

Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai.

Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang ketiga, bukan pula karena cinta telah habis. Ia datang diam-diam melalui prasangka yang dibiarkan tumbuh. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi lahir dari rasa peduli, melainkan dari rasa takut kehilangan.

Pada awalnya, semuanya tampak biasa.

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai.”

Kalimat-kalimat sederhana itu terasa hangat. Menenangkan.

Tetapi ketika kepercayaan mulai rapuh, kalimat yang sama berubah makna.

“Kenapa baru pulang?”

“Dengan siapa tadi?”

“Kenapa tidak membalas pesan?”

Yang terdengar bukan lagi perhatian, melainkan tuduhan yang dibungkus kekhawatiran.

Begitulah kepercayaan. Ia tidak selalu runtuh karena sebuah kebohongan besar. Kadang ia hancur oleh ribuan prasangka kecil yang dibiarkan hidup setiap hari.

Beberapa waktu lalu seseorang datang membawa sebuah cerita.

Dengan suara yang berusaha tegar, ia bertanya kepada saya,

“Kak, kenapa setiap kali saya pulang kerja selalu ada pertanyaan yang membuat saya merasa sedang diadili? Ketika pekerjaan sedang padat dan saya terlambat memberi kabar, saya dianggap sengaja menghindar. Seolah-olah setiap kesibukan adalah kesalahan.”

Saya tidak segera menjawab.

Ada pertanyaan yang lebih membutuhkan hati daripada jawaban. Saya memilih diam, sebab sering kali diam adalah cara terbaik untuk mendengarkan luka yang sedang berbicara.

Ia kembali melanjutkan,

“Dia selalu curiga dengan kesibukan saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan kesibukannya. Saya percaya pada setiap impian yang sedang ia perjuangkan. Mengapa kepercayaan yang saya berikan tidak pernah kembali kepada saya?”

Pertanyaan itu menggantung lama di kepala saya.

Mungkin memang benar, yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukanlah pertengkaran. Melainkan ketika seseorang harus terus-menerus membuktikan kesetiaannya kepada orang yang seharusnya sudah percaya.

Saya kemudian menyadari, di antara mereka bukan lagi kekurangan cinta. Yang mulai habis adalah rasa aman.

Ada orang yang begitu takut kehilangan, hingga tanpa sadar justru mendorong orang yang dicintainya semakin menjauh.

Ada pula yang masih percaya bahwa perempuan tidak perlu memiliki banyak ruang untuk bertumbuh. Seolah impian hanya pantas dimiliki laki-laki, sementara perempuan cukup tinggal di rumah menunggu.

Padahal cinta tidak pernah meminta seseorang mengecilkan dirinya agar pas di mata pasangannya.

Cinta yang dewasa justru bertepuk tangan ketika orang yang dicintainya bertumbuh.

Ia tidak mengikat langkah.

Ia tidak membatasi mimpi.

Ia tidak menjadikan kesuksesan pasangan sebagai ancaman.

Sebab dua orang yang saling mencintai bukan sedang berlomba menjadi lebih tinggi satu sama lain. Mereka sedang belajar menjadi akar yang saling menguatkan agar pohon kehidupan mereka tetap berdiri ketika badai datang.

Di penghujung percakapan itu saya hanya berkata pelan,

“Jangan biarkan satu musim yang buruk menghapus seluruh cerita indah yang telah kalian bangun bertahun-tahun. Ingatlah alasan mengapa dahulu kalian memilih saling menggenggam. Rawatlah kepercayaan sebagaimana kalian dahulu merawat cinta. Sebab cinta tanpa kepercayaan hanya akan melahirkan kelelahan, dan kepercayaan tanpa komunikasi perlahan akan berubah menjadi kesunyian.”

Pada akhirnya saya belajar bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling benar.

Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Hubungan adalah tentang dua orang yang setiap hari memilih untuk percaya, bahkan ketika hidup sedang sibuk menguji mereka.

Karena cinta tidak selalu berakhir ketika dua hati berhenti saling mencintai.

Sering kali ia berakhir ketika kepercayaan kehilangan rumahnya.

Dan rumah itu, selalu dibangun oleh dua orang yang memilih saling menjaga.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Selain suka menulis juga suka membaca. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK KOTAGOA BOAWAE.

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 144
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 92
    • 2Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 127
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

expand_less