Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 177
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan.

Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia.

Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai.

Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang ketiga, bukan pula karena cinta telah habis. Ia datang diam-diam melalui prasangka yang dibiarkan tumbuh. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi lahir dari rasa peduli, melainkan dari rasa takut kehilangan.

Pada awalnya, semuanya tampak biasa.

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai.”

Kalimat-kalimat sederhana itu terasa hangat. Menenangkan.

Tetapi ketika kepercayaan mulai rapuh, kalimat yang sama berubah makna.

“Kenapa baru pulang?”

“Dengan siapa tadi?”

“Kenapa tidak membalas pesan?”

Yang terdengar bukan lagi perhatian, melainkan tuduhan yang dibungkus kekhawatiran.

Begitulah kepercayaan. Ia tidak selalu runtuh karena sebuah kebohongan besar. Kadang ia hancur oleh ribuan prasangka kecil yang dibiarkan hidup setiap hari.

Beberapa waktu lalu seseorang datang membawa sebuah cerita.

Dengan suara yang berusaha tegar, ia bertanya kepada saya,

“Kak, kenapa setiap kali saya pulang kerja selalu ada pertanyaan yang membuat saya merasa sedang diadili? Ketika pekerjaan sedang padat dan saya terlambat memberi kabar, saya dianggap sengaja menghindar. Seolah-olah setiap kesibukan adalah kesalahan.”

Saya tidak segera menjawab.

Ada pertanyaan yang lebih membutuhkan hati daripada jawaban. Saya memilih diam, sebab sering kali diam adalah cara terbaik untuk mendengarkan luka yang sedang berbicara.

Ia kembali melanjutkan,

“Dia selalu curiga dengan kesibukan saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan kesibukannya. Saya percaya pada setiap impian yang sedang ia perjuangkan. Mengapa kepercayaan yang saya berikan tidak pernah kembali kepada saya?”

Pertanyaan itu menggantung lama di kepala saya.

Mungkin memang benar, yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan bukanlah pertengkaran. Melainkan ketika seseorang harus terus-menerus membuktikan kesetiaannya kepada orang yang seharusnya sudah percaya.

Saya kemudian menyadari, di antara mereka bukan lagi kekurangan cinta. Yang mulai habis adalah rasa aman.

Ada orang yang begitu takut kehilangan, hingga tanpa sadar justru mendorong orang yang dicintainya semakin menjauh.

Ada pula yang masih percaya bahwa perempuan tidak perlu memiliki banyak ruang untuk bertumbuh. Seolah impian hanya pantas dimiliki laki-laki, sementara perempuan cukup tinggal di rumah menunggu.

Padahal cinta tidak pernah meminta seseorang mengecilkan dirinya agar pas di mata pasangannya.

Cinta yang dewasa justru bertepuk tangan ketika orang yang dicintainya bertumbuh.

Ia tidak mengikat langkah.

Ia tidak membatasi mimpi.

Ia tidak menjadikan kesuksesan pasangan sebagai ancaman.

Sebab dua orang yang saling mencintai bukan sedang berlomba menjadi lebih tinggi satu sama lain. Mereka sedang belajar menjadi akar yang saling menguatkan agar pohon kehidupan mereka tetap berdiri ketika badai datang.

Di penghujung percakapan itu saya hanya berkata pelan,

“Jangan biarkan satu musim yang buruk menghapus seluruh cerita indah yang telah kalian bangun bertahun-tahun. Ingatlah alasan mengapa dahulu kalian memilih saling menggenggam. Rawatlah kepercayaan sebagaimana kalian dahulu merawat cinta. Sebab cinta tanpa kepercayaan hanya akan melahirkan kelelahan, dan kepercayaan tanpa komunikasi perlahan akan berubah menjadi kesunyian.”

Pada akhirnya saya belajar bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling benar.

Bukan pula tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Hubungan adalah tentang dua orang yang setiap hari memilih untuk percaya, bahkan ketika hidup sedang sibuk menguji mereka.

Karena cinta tidak selalu berakhir ketika dua hati berhenti saling mencintai.

Sering kali ia berakhir ketika kepercayaan kehilangan rumahnya.

Dan rumah itu, selalu dibangun oleh dua orang yang memilih saling menjaga.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Selain suka menulis juga suka membaca. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK KOTAGOA BOAWAE.

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah Bertemu, Kami Berteman

    Setelah Bertemu, Kami Berteman

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan. Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Diamnya Seorang Bapak

    Sudut Pandang: Di Balik Diamnya Seorang Bapak

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Davianti Mil
    • visibility 177
    • 7Komentar

    “Ketika  ia  masih  jauh,  ayahnya  telah  melihatnya,  lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” – Lukas 15:20   Saya memiliki sosok seorang ayah yang sangat keras tapi di balik kerasnya ini dia juga sosok seorang ayah yang sangat baik bahkan dia sangat menyayangi anak-anaknya, biarpun setiap hari dia sering memarahi kami sebagai anaknya akan tetapi seorang […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 218
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    CPJF Flores: Red Spurs dari Rigi yang Datang Membawa Mimpi Besar di TURBO CUP 2026

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 167
    • 2Komentar

    Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, lahir sebuah tim yang sedang menulis kisahnya sendiri. Namanya CPJF Flores (PT. Charon Pokphand Jaya Farm). Usianya memang masih sangat muda, tetapi semangat dan keberaniannya telah membuat banyak orang mulai melirik ke arah mereka. Didirikan pada tahun 2025, CPJF Flores bukan sekadar tim sepak bola yang […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

expand_less