Pesta yang tidak Pernah Mengundang Tuan Rumah
- account_circle Aloysius Wudi
- calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
- visibility 100
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Opini atas Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
Oleh: Aloysius Wudi
Ada sebuah pesta yang berlangsung sangat meriah di Papua Selatan. Ratusan alat berat datang beriringan seperti tamu agung. Kapal-kapal besar merapat ke dermaga tanpa basa-basi perkenalan. Aparat berdiri tegak mengawal kedatangan mereka bukan menghalangi, melainkan mempersilakan masuk. Proyek pangan dan energi nasional sedang bergerak. Biodiesel sawit. Bioetanol tebu. Nama-nama yang terdengar ilmiah, visioner, bahkan mulia.
Yang tidak terdengar adalah pertanyaan paling sederhana yang mestinya diajukan sejak awal: kepada siapa tanah ini sesungguhnya milik?
— ● —
Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale merekam pertanyaan yang tak pernah dijawab itu ke dalam film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Hasilnya: sebuah karya investigasi 95 menit yang berbasis penelitian sejarah, antropologi, dan jurnalisme lapangan. Bukan fitnah. Bukan provokasi. Rekaman.
Namun justru rekaman itulah yang dianggap berbahaya.
Nobar dibubarkan. Forum diskusi dihentikan paksa. Layar digulung sebelum percakapan sempat dimulai di Beberapa Universitas, Kota, Desa dihentikan oleh aparat yang mengklaim tidak ada instruksi dari atasan. Seolah-olah ada keyakinan bahwa selama gambar itu tidak ditampilkan, kenyataan di baliknya pun akan berhenti bergerak.
Ironisnya, upaya pembungkaman itu justru menjadi kampanye terbaik yang pernah diterima sebuah film dokumenter Indonesia. Lebih dari 1.700 layar nobar terselenggara. Jutaan orang menonton di YouTube. Gratis. Tanpa bisa dibubarkan.
— ● —
Yasinta Moiwend dari suku Marind tidak butuh teori kolonialisme untuk memahami apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya perlu melihat ekskavator berdiri di tepi hutan sagu yang selama ini menopang kehidupannya dan ia sudah mengerti. Vincen Kwipalo dari suku Yei tidak perlu membaca dokumen kebijakan untuk tahu bahwa sungai yang mulai keruh itu bukan pertanda kemajuan.
Mereka merespons dengan apa yang mereka punya: salib merah dan palang adat. Simbol penolakan yang sederhana, tanpa amunisi, tanpa pengacara, tanpa siaran pers. Hanya tegak berdiri di hadapan konvoi alat berat yang dikawal aparat negara.
Perlawanan yang paling sunyi kerap datang dari mereka yang paling sedikit bicara di media nasional.
— ● —
Di Mana Gereja Katolik Ketika Umatnya Menangis?
Orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu mereka yang kini berdiri di tepi tanah yang perlahan diambil sebagian besar adalah umat Katolik. Mereka dibaptis. Mereka mengucapkan pengakuan iman. Dan mereka percaya, dengan segenap keyakinan yang diajarkan sejak kecil, bahwa ada institusi di dunia ini yang tidak akan pernah berpaling dari mereka ketika negara memilih berbalik punggung.
Pertanyaannya hanya satu, dan pertanyaan ini lebih menohok dari segala narasi tentang kolonialisme: di manakah Gereja Katolik?
Bukan gereja sebagai bangunan. Bukan gereja sebagai jadwal misa Minggu. Tetapi gereja sebagai institusi yang, selama lebih dari satu abad, mengklaim telah meletakkan fondasi moralnya di atas prinsip keberpihakan kepada yang lemah dan tertindas.
Pada 15 Mei 1891, Paus Leo XIII menerbitkan Rerum Novarum ensiklik yang menjadi tonggak lahirnya Ajaran Sosial Gereja. Di sana, di hadapan dunia yang sedang dicabik-cabik Revolusi Industri, Paus Leo XIII menyerukan dengan lantang bahwa Gereja tidak boleh tinggal diam ketika kaum buruh diperlakukan semata sebagai alat produksi. Bahwa martabat manusia tidak dapat ditawar oleh kepentingan modal. Bahwa Gereja harus hadir nyata, bukan simbolik di sisi mereka yang paling terluka oleh ketidakadilan struktural.
Seratus tiga puluh lima tahun kemudian, pada 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menandatangani ensiklik pertamanya: Magnifica Humanitas. Diterbitkan tepat pada peringatan ke-135 Rerum Novarum, ensiklik ini kembali menyerukan perlindungan martabat manusia, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada kelompok paling rentan. Kata-kata itu bergema dari Vatikan, diterjemahkan ke puluhan bahasa, disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.
Tetapi di Papua Selatan, pada hari yang sama dan hari-hari sesudahnya, ekskavator tetap bergerak. Hutan sagu tetap dibabat. Sungai tetap mengalir keruh.
Dan dari uskup, dari konferensi waligereja, dari para pastor yang tinggal bersama umat di kampung-kampung terpencil itu suara apa yang terdengar?
Sunyi.
Bukan sunyi yang khusyuk seperti doa kontemplatif. Sunyi yang canggung. Sunyi yang terasa seperti pilihan yang sudah dipertimbangkan dengan matang dan keputusannya adalah: lebih baik tidak bersuara.
Gereja Katolik memiliki jaringan yang tidak dimiliki institusi mana pun di wilayah itu. Pastornya hadir di kampung-kampung yang tidak terjangkau wartawan. Ia menyaksikan langsung bukan dari laporan, bukan dari briefing apa yang sedang terjadi pada umatnya. Dan kewibawaan moralnya, bila digunakan, adalah kekuatan yang bahkan aparat pun sulit mengabaikan.
Maka ini bukan soal kemampuan. Ini soal pilihan.
Jika Rerum Novarum adalah suara profetis Gereja yang lahir karena keberanian berbicara di tengah tekanan industri dan kapital maka apa artinya ensiklik itu hari ini, ketika umat yang dibaptis di tepi sungai Papua berdiri sendirian menghadapi konvoi alat berat, sementara institusi yang mengklaim sebagai garda terdepan kemanusiaan memilih menjaga jarak yang aman?
Yesus dari Nazaret tidak menyurati pihak berwenang ketika bait Allah dijadikan sarang penyamun. Ia masuk, dan ia membalik meja.
Tapi kita tidak sedang berbicara tentang meja. Kita sedang berbicara tentang hutan. Tentang tanah leluhur. Tentang jiwa-jiwa yang percaya pada janji yang telah diulang-ulang selama berabad-abad: bahwa Gereja berpihak kepada yang paling kecil.
Bila janji itu hanya berlaku ketika tidak ada konsekuensi politik, maka yang perlu kita pertanyakan bukan hanya di mana Gereja Katolik berada tetapi gereja seperti apa yang sesungguhnya sedang kita percayai.
— ● —
Siapa yang Sesungguhnya Berpesta?
Judul film ini bukan dipilih secara sembarangan.
Awon Atatbon tradisi sakral suku Muyu adalah pesta makan babi yang menjadi medium syukur kepada alam, rekonsiliasi antarsuku, dan peneguhan ikatan komunitas. Babi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah simbol kehormatan, cermin hubungan manusia dengan leluhur dan tanahnya.
Para sutradara meminjam simbol itu dengan ironi yang sangat tajam: siapa sesungguhnya yang sedang berpesta?
Yang berpesta di atas tanah Papua bukan orang Papua. Yang berpesta adalah konsesi-konsesi raksasa, proyek-proyek strategis yang anggarannya dibaca dalam satuan triliun, dan kepentingan-kepentingan yang datang dari jauh makan kenyang, lalu meninggalkan bekas yang harus ditanggung oleh orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu seumur hidup mereka.
Tuan rumah berdiri di luar. Memandangi pestanya sendiri dari balik pagar.
— ● —
Ada yang menyebut film ini sebagai ancaman terhadap persatuan bangsa. Ada yang menggolongkannya sebagai narasi yang memecah belah.
Pertanyaannya justru sebaliknya: apakah sebuah dokumenter yang hanya merekam kenyataan bisa memecah belah sesuatu yang utuh? Ataukah yang selama ini terjadi adalah kenyataan itu memang sudah retak dan kamera hanya memperlihatkan retakannya dengan lebih jelas?
Sebab kenyataan tidak memiliki kepentingan untuk menjadi dramatis. Ia ada apa adanya. Yang dramatis adalah ketika memperlihatkan kenyataan saja sudah dianggap tindakan subversif.
— ● —
Pesta Babi pada akhirnya bukan semata tentang Papua. Ia adalah cermin bagi pertanyaan yang lebih besar dan lebih lama terus kita hindari: pembangunan untuk siapa, dan atas nama siapa?
Ketika jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah benar-benar melibatkan mereka yang tanahnya dibangun, maka yang terjadi bukanlah pembangunan. Ia adalah pengambilalihan yang dikemas dalam bahasa kemajuan.
Di suatu ruangan ber-AC yang jauh dari Merauke, seseorang sedang menyajikan laporan kemajuan proyek dengan grafik yang menanjak.
Di selatan Papua, seorang umat Katolik berdiri di tepi sungai yang mulai keruh menunggu suara yang pernah berjanji tidak akan pernah membiarkannya sendirian.
Suara itu belum datang.
Pestanya memang meriah. Sayang, undangannya tidak pernah sampai ke tangan yang benar.
— ● —
“Kolonialisme tidak selalu datang dengan kapal perang. Kadang ia datang dengan ekskavator dan konsesi. Dan yang paling menyakitkan bukan kehadiran penindas melainkan ketidakhadiran mereka yang, selama berabad-abad, berjanji untuk berdiri di sisi yang paling lemah.”
Ditulis dengan kegelisahan yang diam-diam meradang. (Azis Wudi Ramba)
- Penulis: Aloysius Wudi
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar