MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN
- account_circle Aurelio Morghan
- calendar_month Senin, 1 Jun 2026
- visibility 117
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Aurelio Morghan, SVD
TUAN MAXI DI MATA SAYA
Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di kamar saya. Selamat jalan Tuan Maxi. Tuhan Sang pemilik hidup abadi memelukmu dalam keabadian.
Tuan, demikian saya kerap memanggilnya. Seringkali juga saya panggil ‘bos’ saat kami sedang bergurau. Tak ada jarak antara kami berdua. Pribadinya bersahaja. Seorang pencinta anjing, suka beternak, berkebun dan peracik arak nan lezat. Namun di atas semuanya, ia seorang pe doa dan imam SVD yang luar biasa. Ia tak bisa mengendarai kendaraan bermotor. Tapi meskipun begitu, rentetan tugas sebagai seorang imam tak pernah dilalaikan. Tepat waktu. Tak suka umatnya hidup bermalas-malasan. Dia seorang guru bagi saya; memberi ruang paling luas untuk belajar menjadi manusia. Dia gembala; yang menaruh kepentingan umat jauh di atas segalanya. Dia seorang saudara; yang setia membimbing dengan ‘keras’ demi kebaikan saya. Di pastoran Waibalun, teriakkannya pasti menggelegar sewaktu tiba jam makan atau ketika dia butuh sesuatu. Saya dari lantai dua pasti langsung loncat terbirit-birit. Dia juga tak banyak mengerti teknologi. Seringkali HP tuanya itu ‘eror dan dengan rendah hati minta saya membetulkannya. Selain ikan Waibalun yang lezat, makanan kesukaan kami berdua adalah nasi goreng buatan om Don.
SEKILAS CERITA AWAL BERSAMA TUAN MAXI
Senin 23 Januari 2023, dari Pulau Sabu saya mengirim pesan singkat via Whatsapp kepada beliau. Seturut SK, saya ditunjuk Uskup Larantuka; Mgr. Fransiskus Kopong Kung untuk menjadi Pastor Rekan di paroki St. Ignasius Waibalun, Larantuka. Karena sewaktu mendengar kabar penempatan itu saya sedang melaksanakan pastoral asistensi di Pulau Sabu, saya sampaikan kepada beliau bahwa saya alami kendala menuju Paroki St. Ignasius Waibalun. Waktu itu di Sabu, pelayaran ke luar pulau dihentikan karena cuaca ekstrim. Pesan itu tidak lagi dibalasnya. Pikir saya dalam hati;
“Beliau ini orangnya dingin sekali. Pesan saya tidak digubrisnya.”
Beberapa waktu kemudian pelayaran dibuka kembali. Saya berlayar dari Pulau Sabu ke Kupang, lalu lanjutkan perjalanan ke mof dengan pesawat sehari setelahnya, dan berkemas lalu lanjut ke Larantuka.
Setelah tiba di Paroki Waibalun, saya disambutnya. Dengan senyum lebar dan sebatang rokok surya 16 di tangan kirinya yang sudah terbakar setengah, dia meraih pundak saya lalu memeluk saya. Saya hafal pelukannya persis seperti seorang ayah yang sedang menanti anaknya pulang dari rantau. Hangat. Kuat sekali. Lalu dia berguyon;
“Ahhh engkau ini yang namanya Pater Morghan ya. Saya punya pastor rekan kecil anak saja ini ka? Saya pikir engkau dari Jerman, padahal orang Kupang jelek keriting pendek tidak ada potongan .”
Saya tertawa. Kami tertawa. Hari itu dia mendapati ‘anaknya’ yang pulang dari rantau, sedangkan saya memperoleh seorang ‘ayah’.
PRIBADI YANG TEGAS DAN TERBUKA; TEMPAT SAYA BELAJAR BERMISI DAN MENJADI SEORANG SVD YANG TULUS
Satu tahun , adalah kesempatan berharga bagi saya berada bersama dengan beliau sebagai seorang sama saudara dalam SVD.
Saya masih ingat dengan sangat baik apa yang dikatakannya pada saat makan siang pertama di pastoran. Katanya begini;
“Morghan, kita ini SVD. Kita tidak pegang uang untuk kekayaan diri kita eee. Stipendium dan intensi yang didapat nanti dikumpulkan lalu dicatat dan diserahkan kepada SVD. Kaul Kemiskinan toh?! Kita hanya terima uang saku bulanan dari paroki ya. Kelolah baik supaya cukup. Kalau kita butuh celana atau mau beli sesuatu bisa pakai uang itu tapi harus dicatat laporannya secara jujur.”
Sejak saat itu, saya dipercayakannya untuk membuat pencatatan keuangan itu. Dan beliau rutin memantau bagaimana keadaannya. Di Waibalun ia dikenal sangat tegas dan jujur soal keuangan. Dari dialah saya belajar bagaimana menjadi seorang imam muda yang terbuka dan jujur dalam kaul kebiaraan. Selain itu, sebagai seorang senior yang sudah hidup sebagai imam lebih dari 30 tahun, ia selalu memberi saya arahan, nasihat dan correctio fraterna. Tak ada yang disembunyikan. Tanpa jaga perasaan. Langsung. To the point. Banyak hal juga seperti; makan bersama, setia dalam ekaristi, kunjungi orang sakit, harus dekat dengan orang muda, menolong orang, berkhotbah yang baik, relasi yang terbuka dengan umat dan doa pribadi adalah kualitas hidup yang selalu ia usahakan membatin sungguh di dalam diri saya.
Meskipun dia sangat senior dan saya hanyalah ‘anak kemarin’ yang baru ditahbiskan, tak ada jarak sama sekali antara kami berdua. Dia hadir sungguh sebagai seorang ayah dan sama saudara; persaudaraan egaliter. Karena teladan hidup serta kepribadiannya, syukur kepada Tuhan saya bisa menjadi seseorang yang seperti saat ini.
TUAN MAXI DAN KESEDERHANAANNYA YANG JUJUR
Satu waktu, seusai makan siang bersama, ketika sedang duduk bersantai di garasi, beliau membuka percakapan seperti ini;
“Morghan saya bisa omong ka.”
Pintanya sambil membakar rokok surya yang baru saja ia keluarkan dari bungkusan.
“Omong saja ka tuan. Pakai tanya lagi ni ka” ucap saya santai sambil memberi makan ikan di kolam.
“Begini adik, saya butuh celana training. Yang lama sudah sobek ko. Engkau bisa kasih keluar uang untuk beli kasih saya ka? Tidak usah cari yang mahal. Yang murah saja. Saya mau pakai untuk tidur dan jalan-jalan santai.”
Mendengar itu, saya kaget. Saya tersentuh dengan kejujurannya. Kesederhanaan yang tidak dimanipulasi sedikitpun. Saya menjawab ya dan segera naik ke lantai dua, mengambil uang, mengambil kunci motor dan pergi belanja saat itu juga. Memang benar, ia tak punya banyak pakaian. Pakaiannya yang itu-itu saja. Pakaian usang yang sudah lama, ada yang kekecilan ada juga yang warnanya sudah memudar. Tapi tetap saja ia simpan. Tetap ia pakai.
PERPINDAHAN TUAN MAXI DAN BEBERAPA KOMUNIKASI TERAKHIR BERSAMANYA
Setelah tiba waktunya, ia dimutasikan untuk mengabdi sebagai Pastor Paroki di Paroki Hokeng. Saya sangat sedih. Saya seperti kehilangan seorang ayah. Dalam acara perpisahan di rumah pastoran Waibalun saya tidak ingin tampil di depan karena terlalu mudah bagi saya untuk mengeluarkan air mata. Melihatnya pergi menuju Paroki lain tentu adalah sebuah kehilangan. Di halaman depan pastoran Hokeng bersama rombongan umat Waibalun lainnya kami sekali lagi menangis. Di situ, saya memeluknya kuat dan menangis.
Sambil menangis di pelukannya dia bilang kepada saya;
“Jadi misionaris yang baik e. Buat baik dengan umat Waibalun. Mereka sangat baik ko. Jangan lupa saya e. Ada waktu kunjung saya. Pulang libur bawa anggur dari Amerika Latin sana.”
Setelah momen itu, dalam berbagai kesempatan pertemuan distrik SVD Larantuka dan dalam pertemuan dekenat Larantuka kami sering bertemu. Komunikasi masih terjaga. Sering juga kami mengenang kembali kebersamaan di Waibalun dulu kalau bertemu.
Kamis, 05 Desember 2024, Tuan Maxi kirim pesan WA ke saya tentang keadaannya di tempat pengungsian di saat erupsi terjadi.
Selasa, 31 Desember 2024 gantian saya yang kirim pesan padanya. Saya beritahukan perihal pemanggilan saya ke tanah misi, terkait urusan visa, wawancara dan sebagainya. Lalu ia membalas pesan saya begini:
“Sore Morghan. Saya dapat berita tadi pagi bahwa Morghan harus ke Kupang siang tadi dan selanjutnya ke Jakarta. Saya rasa kehilangan seorang adik yang baik. Saya menikmati saat-saat kebersamaan selama di Waibalun tapi juga setelah saya pindah ke Hokeng. Morghan tetap adik yg baik. Selamat jalan ke tanah misi. Tetap semangat dan selalu saling mendoakan.
Sore ini saya harus rayakan 2 misa. 5.30 sore di Plue dan jam 8 malam di Borukedang.
Besok juga sama. Jam 8 pagi di Sukutukan dan jam 10 di Plue. Salam natal dan tahun baru. Salam untuk bapak dan mamamu dan semua adik-adikmu.”
Begitu hangat pesan yang saya terima. Ia menguatkan saya. Memberi saya semangat dan mendukung saya dalam doa.
Minggu, 27 Juli 2025, tepat di hari ulang tahun saya ia tidak kirimkan ucapan selamat ulang tahun. Beliau lupa. Saya yakin. Ia hanya kirimkan pesan begini:
“Siang Morghan. Apa kabar? Cerita dulu untuk kami daerah misimu. Kami di sini masih terus bergaul dengan Gunung Lewotobi yang sedang erupsi. Debu kelikir pasir dan batu. Sehat selalu ya Morghan.”
Kemudian saya balas pesannya dengan penuh antusias. Seperti seorang anak menceritakan kisah perjalanannya kepada ayahnya.
5 bulan kemudian, tepat hari Kamis tanggal 25 Desember 2025 ketika saya masih bekerja di sebuah paroki dekat wilayah perbatasan Argentina, saya kirimkan pesan selamat Natal untuknya. Sekali lagi dengan antusias ia membalas pesan saya:
“Selamat pesta natal Morghan. Pasti Morghan sehat dan gembira melayani umatmu di situ. Tentu umatmu di situ banyak yg cantik2, rambut air dan putih. Salam untuk mereka semua.
Malam natal saya rayakan misa di 2 gereja : gereja Kemiri dan gereja Borukedang. Hari raya natal saya rayakan di 2 gereja : gereja kemiri dan gereja Sukutukan. Bagaimana pengalaman mu disitu?”
Saya balas lagi pesannya dengan voice note berdurasi 1 menit 14 detik. Pesan itu terkirim jam 19.58 waktu Paraguay. Dan dibaca Tuan Maxi sehari setelahnya pukul 15.37 WITA. Ini jadi pesan terakhir yang tak pernah lagi ia balas.
TERIMA KASIH TUAN MAXI
Saya hanya mau ucap terima kasih padamu Tuan Maxi. Terima kasih untuk semua kebaikanmu, canda gurau bersamamu, untuk semua hal yang saya peroleh darimu. Saya bersyukur bahwa di tahun awal saya sebagai imam muda, anda menjadi rekan dan pendamping saya. Dengan air mata saya menulis ini semua. Saya kenang Tuan dalam ingatan, hati, doa dan ekaristi saya setiap hari.
2026
- Penulis: Aurelio Morghan
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar