Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

  • account_circle Maiton Gurik
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 150
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua

(Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )

Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide alternatif, mengulang bicara, mengkoreksi diri, menambal kewarasan berpikir yang bolong dan membongkar cacat berpikir. Tanpa harus berjalan jauh ke luar negeri, tanpa harus menunggu pengalaman pahit, lewat buku kita bisa belajar dari pengalaman bangsa lain, belajar dari kesalahan masa lalu, dan mengambil hikmah dari kejayaan peradaban lain. Orang Papua wajib membaca agar tidak tertinggal, agar tahu apa yang terjadi di sekitarnya, dan paham bagaimana cara kerja dunia ini. Membaca adalah cara tercepat dan termudah untuk menjadi pintar, cerdas, kritis, rasional dan berwawasan luas.

Selama berpuluh-puluh tahun, bahkan berabad-abad, masalah utama yang dihadapi orang Papua adalah ketimpangan penguasaan pengetahuan. Banyak kekayaan alam kita dikeruk oleh orang asing, banyak perjanjian dibuat, banyak aturan ditetapkan, dan banyak kebijakan dijalankan, namun sering kali kita sebagai pemilik tanah hanya menjadi penonton atau objek yang pasif. Mengapa? Karena ketidaktahuan. Karena kita tidak membaca, tidak memahami isi peraturan, tidak paham isi kontrak, dan tidak mengerti nilai sebenarnya dari apa yg kita miliki.

UU Otsus No.21 thn 2001 adalah contoh nyata. Itu adalah “buku besar” yang berisi segala hak istimewa, kewenangan, dan kekuasaan yang diberikan negara kepada orang Papua. Di dalamnya tertulis hak atas tanah, hak mengelola sumber daya alam, hak atas dana khusus, hak pendidikan, hak budaya, dan hak politik. Namun, apa gunanya UU itu jika kita tidak membacanya? Apa gunanya hak itu jika kita tidak paham cara menggunakannya?

Orang Papua wajib membaca agar paham akan haknya sendiri. Orang Papua wajib membaca agar bisa duduk setara di meja perundingan dgn siapa pun, baik dengan pemerintah pusat, dengan investor besar, maupun dengan ahli-ahli dari luar negeri. Kita tidak boleh lagi menjadi bangsa yang dijajah oleh ketidaktahuan. Kita tidak boleh lagi tanda tangan dokumen yang isinya merugikan kita hanya karena tidak membaca atau tidak mengerti. Kita tidak boleh lagi membiarkan kekayaan tanah ini dinikmati pihak lain karena kita tidak tahu cara mengolahnya. Semua jawaban itu ada di dalam buku: buku hukum, buku ekonomi, buku pertanian, buku teknik, buku administrasi, buku sejarah, buku kiri, dan buku-buku pengetahuan lainnya.

Ketika orang Papua banyak membaca, maka kekuasaan akan kembali ke tangan yang berhak. Pengetahuan yang didapat dari buku akan mengubah posisi kita dari sekadar pemilik tanah yang diam saja, menjadi pengelola cerdas yang memimpin, mengawasi, dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari apa yang ada di tanah kelahiran sendiri. Membaca buku adalah syarat mutlak agar Otsus tidak menjadi sekadar nama, tetapi menjadi kenyataan kesejahteraan.

Ada kekhawatiran yang sering muncul: “Kalau kami banyak membaca buku dari luar, nanti hilang budaya dan adat istiadat kami.” Ini adalah pemikiran yang keliru. Justru sebaliknya, orang Papua wajib banyak membaca dan menulis agar budaya dan adat istiadat itu abadi, terhormat, dan dikenal dunia.

Buku tidak hanya berisi pengetahuan orang luar. Buku juga tempat terbaik untuk menyimpan pengetahuan kita sendiri. Nenek moyang kita dulu tidak memiliki banyak tulisan, sehingga sejarah kita pernah ditulis oleh orang lain. Dan sayangnya, sejarah yang ditulis orang lain sering kali tidak lengkap, tidak benar, atau menampilkan kita dari sudut pandang yang rendah dan salah.

Membaca buku menguatkan jati diri. Dengan membaca sejarah dunia dan sejarah bangsa lain, kita baru bisa membandingkan dan menyadari betapa berharganya budaya kita sendiri. Kita baru bisa tahu letak kekhasan dan kebesaran nenek moyang kita. Orng yang tidak membaca, biasanya orang yang meremehkan budayanya sendiri atau orang yang fanatik buta. Orang yang banyak membaca, akan menjadi orang yang bangga pada asal-usulnya sekaligus terbuka menerima hal baik dari luar. Membaca adalah jembatan agar kita bisa berdialog dengan dunia, tanpa kehilangan akar kita.

Kekayaan alam Papua luar biasa besar. Emas, tembaga, minyak, gas, kayu, ikan, tanah yang subur, dan potensi pariwisata yang tiada duanya. Namun, fakta pahit yang kita lihat hari ini: di tengah kekayaan itu, masih banyak orang Papua yang hidup miskin, kekurangan gizi, dan tertinggal secara ekonomi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya satu: kekurangan pengetahuan.

Kekayaan alam tidak akan berubah menjadi uang, lapangan kerja, atau kesejahteraan rakyat jika tidak ada pengetahuan untuk mengolahnya. Emas yang ada di tanah tidak ada gunanya jika kita tidak tahu cara menambang dengan benar, tidak tahu cara mengolahnya, tidak tahu berapa harga pasarannya, dan tidak tahu cara mengelola keuntungannya. Semua pengetahuan teknis itu ada di dalam buku.

Orang Papua wajib banyak baca buku tentang pertanian, peternakan, perikanan, teknologi, kewirausahaan, dan ekonomi. Kita harus belajar bagaimana bangsa lain yang tanahnya tandus dan miskin alam bisa menjadi negara kaya dan maju, semata-mata karena mereka pintar, karena mereka banyak belajar, dan karena mereka menguasai ilmu pengetahuan.

Membaca buku mengubah pola pikir dari “menunggu bantuan” menjadi “menciptakan kemajuan”. Ketika pemuda Papua rajin membaca buku pertanian modern, dia akan tahu cara menanam lebih banyak hasil di tanah yang sama. Ketika pemuda Papua membaca buku ekonomi kreatif, dia akan tahu bagaimana mengubah ukiran kayu atau kain adat menjadi barang mahal yang diburu dunia. Ketika kita pintar membaca dan paham ilmu, kita tidak perlu lagi bergantung pada tenaga ahli dari luar untuk membangun tanah kita sendiri. Kita yang akan menjadi ahlinya, kita yang akan menjadi pengusahanya, dan kita yang akan menikmati keuntungannya, itulah kemandirian sejati.

Tanah Papua sering kali diuji dengan masalah sosial, konflik, kekerasan, pertengkaran, dan perpecahan antar saudara. Kita sering melihat pemuda dan rakyat mudah terprovokasi, mudah percaya berita bohong, mudah terpecah belah, dan mudah terlibat bergaulan buruk yang justru merugikan diri sendiri dan tanah air. Akar dari semua masalah sosial itu adalah kurangnya pengetahuan dan rendahnya kemampuan berpikir kritis.

Buku adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini. Orng yang bnyak membaca akan memiliki wawasan yang luas. Dia akan tahu sejarah, dia akan tahu akar masalah, dia akan tahu hukum, dan dia akan tahu dampak dari setiap tindakan. Orng yang banyak membaca tidak akan mudah dibohongi oleh berita palsu atau janji manis yang tidak berdasar. Orang yang berilmu akan berpikir panjang sebelum bertindak, akan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan akal budi, bukan dengan emosi atau kekerasan.

Karena rakyat yang terpelajar, yang banyak membaca, dan yang berwawasan luas adalah rakyat yang menjunjung tinggi persatuan, yang mencintai kedamaian, dan yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Membaca mengubah pemuda dari kekuatan fisik yang berbahaya menjadi kekuatan pikiran yang membangun. Jika kita ingin Papua damai, maju, dan bersatu, maka wajibkanlah membaca buku di setiap kampung, disetiap gereja, disetiap komunitas, disetiap gang, disetiap rumah adat, dan disetiap keluarga.

Memang harus kita akui, jalan menuju budaya baca di Papua masih berat. Banyak tantangan. Buku masih barang mahal dan langka, terutama di daerah pedalaman. Perpustakaan belum merata. Bahasa menjadi kendala bagi sebagian saudara kita. Dan yang terberat: kebiasaan membaca belum tumbuh kuat dan masih rendah.

Namun, tantangan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti. Justru karena berat tantangannya, maka kewajiban itu semakin besar. Pemerintah daerah melalui Dana Otsus wajib mengalirkan uangnya untuk mendatangkan jutaan buku ke seluruh pelosok Papua. Tokoh agama dana tokoh adat wajib mengajarkan pentingnya membaca. Dan yang paling penting, setiap individu orang Papua wajib menumbuhkan rasa haus akan ilmu. Jangan menunggu disuruh. Jangan menunggu buku datang ke tangan. Cari, pinjam, beli, tukar, dan baca apa saja yang bermanfaat.

Ingat kata-kata bijak: “Jika kamu membakar buku, kamu sedang membakar masa depan bangsamu.” Sebaliknya, “Jika kamu membaca buku, kamu sedang membangun istana kemajuan bagi anak cucumu.”

Banyak baca buku adalah taktik singkat dari perjuangan panjang menuju kemerdekaan sejati. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari kebodohan, bebas dari ketergantungan, bebas dari ketidaktahuan, dan bebas dari penindasan.

Buku adalah kunci yang membuka pintu segala kemungkinan. Lewat buku, orang Papua akan paham haknya, akan mampu mengelola kekayaan negerinya, akan melestarikan budayanya dengan bangga, akan membangun ekonomi yang mandiri, dan akan menjaga persatuan serta kedamaian. Tidak ada jalan pintas menuju kemajuan. Tdk ada bangsa yang besar dan dihormati dunia tanpa menjadi bangsa yang gemar membaca dan ber-ilmu pengetahuan.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara pandang. Membaca buku bukan kegiatan orang kota saja, bukan kegiatan orang kaya saja, dan bukan kegiatan orang luar saja. Membaca buku adalah kewajiban setiap orang Papua, dari pejabat tertinggi hingga anak-anak di kampung paling terpencil.

Belilah buku, bukalah, bacalah, pahamilah, dan amalkanlah. Karena hanya dengan buku yang banyak dibaca, tangan orang Papua akan memegang kendali penuh atas nasib tanah Papua. Hanya dengan buku, kita akan berdiri tegak, lurus, cerdas, dan bermartabat setara dengan bangsa lain dimuka bumi ini. Semoga!

Salam Literasi,

Jayapura (Petiga), 27 Mei 2026

 

Komentar (2)

  • ,Hyasinta Mi

    Semangat literasi yang luar biasa dari saudara-saudara kita di papua dan tingginya minat baca ini membuktikan bahwa semangat untuk terus belajar dan memajukan daerah tidak pernah surut.Semoga fasilitas perpustakaan dan akses buku semakin merata kedepannya.Membaca adalah jendela dan salut untuk masyarakat papua terus menjaga budaya literasi dan buku-buku yang dibaca merupakan fondasi kemajuan papua dimasa depan,besar harapan agar pemerintah terus mendukung penyediaan buku dan akses internet yang merata hingga ke pelosok papua.

    Balas30 Mei 2026 8:16 am
    • Mataleza

      Amin amin, terima kasih, bu guru. semoga semakin banyak buku bacaan yang bisa dijangkau di masyarkat kita.

      Balas30 Mei 2026 12:49 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 226
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 254
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Inspirasi: Kis 2:1-11 /// Yoh 20:19-23 Kita buka renungan di Hari Raya ini dengan pantun: Maksud hati mengunjungi Om Strom, apa daya bertemu Veronika. ROH KUDUS menjadikan kita Strong. Di tengah situasi sedih dan terluka. Ketika Roh Kudus turun atas para Rasul, saat itu Gereja lahir. Gereja yang penuh dengan daya Roh Kudus, membuat Gereja […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 113
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

expand_less