Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

  • account_circle Maiton Gurik
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 213
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua

(Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )

Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide alternatif, mengulang bicara, mengkoreksi diri, menambal kewarasan berpikir yang bolong dan membongkar cacat berpikir. Tanpa harus berjalan jauh ke luar negeri, tanpa harus menunggu pengalaman pahit, lewat buku kita bisa belajar dari pengalaman bangsa lain, belajar dari kesalahan masa lalu, dan mengambil hikmah dari kejayaan peradaban lain. Orang Papua wajib membaca agar tidak tertinggal, agar tahu apa yang terjadi di sekitarnya, dan paham bagaimana cara kerja dunia ini. Membaca adalah cara tercepat dan termudah untuk menjadi pintar, cerdas, kritis, rasional dan berwawasan luas.

Selama berpuluh-puluh tahun, bahkan berabad-abad, masalah utama yang dihadapi orang Papua adalah ketimpangan penguasaan pengetahuan. Banyak kekayaan alam kita dikeruk oleh orang asing, banyak perjanjian dibuat, banyak aturan ditetapkan, dan banyak kebijakan dijalankan, namun sering kali kita sebagai pemilik tanah hanya menjadi penonton atau objek yang pasif. Mengapa? Karena ketidaktahuan. Karena kita tidak membaca, tidak memahami isi peraturan, tidak paham isi kontrak, dan tidak mengerti nilai sebenarnya dari apa yg kita miliki.

UU Otsus No.21 thn 2001 adalah contoh nyata. Itu adalah “buku besar” yang berisi segala hak istimewa, kewenangan, dan kekuasaan yang diberikan negara kepada orang Papua. Di dalamnya tertulis hak atas tanah, hak mengelola sumber daya alam, hak atas dana khusus, hak pendidikan, hak budaya, dan hak politik. Namun, apa gunanya UU itu jika kita tidak membacanya? Apa gunanya hak itu jika kita tidak paham cara menggunakannya?

Orang Papua wajib membaca agar paham akan haknya sendiri. Orang Papua wajib membaca agar bisa duduk setara di meja perundingan dgn siapa pun, baik dengan pemerintah pusat, dengan investor besar, maupun dengan ahli-ahli dari luar negeri. Kita tidak boleh lagi menjadi bangsa yang dijajah oleh ketidaktahuan. Kita tidak boleh lagi tanda tangan dokumen yang isinya merugikan kita hanya karena tidak membaca atau tidak mengerti. Kita tidak boleh lagi membiarkan kekayaan tanah ini dinikmati pihak lain karena kita tidak tahu cara mengolahnya. Semua jawaban itu ada di dalam buku: buku hukum, buku ekonomi, buku pertanian, buku teknik, buku administrasi, buku sejarah, buku kiri, dan buku-buku pengetahuan lainnya.

Ketika orang Papua banyak membaca, maka kekuasaan akan kembali ke tangan yang berhak. Pengetahuan yang didapat dari buku akan mengubah posisi kita dari sekadar pemilik tanah yang diam saja, menjadi pengelola cerdas yang memimpin, mengawasi, dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari apa yang ada di tanah kelahiran sendiri. Membaca buku adalah syarat mutlak agar Otsus tidak menjadi sekadar nama, tetapi menjadi kenyataan kesejahteraan.

Ada kekhawatiran yang sering muncul: “Kalau kami banyak membaca buku dari luar, nanti hilang budaya dan adat istiadat kami.” Ini adalah pemikiran yang keliru. Justru sebaliknya, orang Papua wajib banyak membaca dan menulis agar budaya dan adat istiadat itu abadi, terhormat, dan dikenal dunia.

Buku tidak hanya berisi pengetahuan orang luar. Buku juga tempat terbaik untuk menyimpan pengetahuan kita sendiri. Nenek moyang kita dulu tidak memiliki banyak tulisan, sehingga sejarah kita pernah ditulis oleh orang lain. Dan sayangnya, sejarah yang ditulis orang lain sering kali tidak lengkap, tidak benar, atau menampilkan kita dari sudut pandang yang rendah dan salah.

Membaca buku menguatkan jati diri. Dengan membaca sejarah dunia dan sejarah bangsa lain, kita baru bisa membandingkan dan menyadari betapa berharganya budaya kita sendiri. Kita baru bisa tahu letak kekhasan dan kebesaran nenek moyang kita. Orng yang tidak membaca, biasanya orang yang meremehkan budayanya sendiri atau orang yang fanatik buta. Orang yang banyak membaca, akan menjadi orang yang bangga pada asal-usulnya sekaligus terbuka menerima hal baik dari luar. Membaca adalah jembatan agar kita bisa berdialog dengan dunia, tanpa kehilangan akar kita.

Kekayaan alam Papua luar biasa besar. Emas, tembaga, minyak, gas, kayu, ikan, tanah yang subur, dan potensi pariwisata yang tiada duanya. Namun, fakta pahit yang kita lihat hari ini: di tengah kekayaan itu, masih banyak orang Papua yang hidup miskin, kekurangan gizi, dan tertinggal secara ekonomi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya satu: kekurangan pengetahuan.

Kekayaan alam tidak akan berubah menjadi uang, lapangan kerja, atau kesejahteraan rakyat jika tidak ada pengetahuan untuk mengolahnya. Emas yang ada di tanah tidak ada gunanya jika kita tidak tahu cara menambang dengan benar, tidak tahu cara mengolahnya, tidak tahu berapa harga pasarannya, dan tidak tahu cara mengelola keuntungannya. Semua pengetahuan teknis itu ada di dalam buku.

Orang Papua wajib banyak baca buku tentang pertanian, peternakan, perikanan, teknologi, kewirausahaan, dan ekonomi. Kita harus belajar bagaimana bangsa lain yang tanahnya tandus dan miskin alam bisa menjadi negara kaya dan maju, semata-mata karena mereka pintar, karena mereka banyak belajar, dan karena mereka menguasai ilmu pengetahuan.

Membaca buku mengubah pola pikir dari “menunggu bantuan” menjadi “menciptakan kemajuan”. Ketika pemuda Papua rajin membaca buku pertanian modern, dia akan tahu cara menanam lebih banyak hasil di tanah yang sama. Ketika pemuda Papua membaca buku ekonomi kreatif, dia akan tahu bagaimana mengubah ukiran kayu atau kain adat menjadi barang mahal yang diburu dunia. Ketika kita pintar membaca dan paham ilmu, kita tidak perlu lagi bergantung pada tenaga ahli dari luar untuk membangun tanah kita sendiri. Kita yang akan menjadi ahlinya, kita yang akan menjadi pengusahanya, dan kita yang akan menikmati keuntungannya, itulah kemandirian sejati.

Tanah Papua sering kali diuji dengan masalah sosial, konflik, kekerasan, pertengkaran, dan perpecahan antar saudara. Kita sering melihat pemuda dan rakyat mudah terprovokasi, mudah percaya berita bohong, mudah terpecah belah, dan mudah terlibat bergaulan buruk yang justru merugikan diri sendiri dan tanah air. Akar dari semua masalah sosial itu adalah kurangnya pengetahuan dan rendahnya kemampuan berpikir kritis.

Buku adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini. Orng yang bnyak membaca akan memiliki wawasan yang luas. Dia akan tahu sejarah, dia akan tahu akar masalah, dia akan tahu hukum, dan dia akan tahu dampak dari setiap tindakan. Orng yang banyak membaca tidak akan mudah dibohongi oleh berita palsu atau janji manis yang tidak berdasar. Orang yang berilmu akan berpikir panjang sebelum bertindak, akan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan akal budi, bukan dengan emosi atau kekerasan.

Karena rakyat yang terpelajar, yang banyak membaca, dan yang berwawasan luas adalah rakyat yang menjunjung tinggi persatuan, yang mencintai kedamaian, dan yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Membaca mengubah pemuda dari kekuatan fisik yang berbahaya menjadi kekuatan pikiran yang membangun. Jika kita ingin Papua damai, maju, dan bersatu, maka wajibkanlah membaca buku di setiap kampung, disetiap gereja, disetiap komunitas, disetiap gang, disetiap rumah adat, dan disetiap keluarga.

Memang harus kita akui, jalan menuju budaya baca di Papua masih berat. Banyak tantangan. Buku masih barang mahal dan langka, terutama di daerah pedalaman. Perpustakaan belum merata. Bahasa menjadi kendala bagi sebagian saudara kita. Dan yang terberat: kebiasaan membaca belum tumbuh kuat dan masih rendah.

Namun, tantangan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti. Justru karena berat tantangannya, maka kewajiban itu semakin besar. Pemerintah daerah melalui Dana Otsus wajib mengalirkan uangnya untuk mendatangkan jutaan buku ke seluruh pelosok Papua. Tokoh agama dana tokoh adat wajib mengajarkan pentingnya membaca. Dan yang paling penting, setiap individu orang Papua wajib menumbuhkan rasa haus akan ilmu. Jangan menunggu disuruh. Jangan menunggu buku datang ke tangan. Cari, pinjam, beli, tukar, dan baca apa saja yang bermanfaat.

Ingat kata-kata bijak: “Jika kamu membakar buku, kamu sedang membakar masa depan bangsamu.” Sebaliknya, “Jika kamu membaca buku, kamu sedang membangun istana kemajuan bagi anak cucumu.”

Banyak baca buku adalah taktik singkat dari perjuangan panjang menuju kemerdekaan sejati. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari kebodohan, bebas dari ketergantungan, bebas dari ketidaktahuan, dan bebas dari penindasan.

Buku adalah kunci yang membuka pintu segala kemungkinan. Lewat buku, orang Papua akan paham haknya, akan mampu mengelola kekayaan negerinya, akan melestarikan budayanya dengan bangga, akan membangun ekonomi yang mandiri, dan akan menjaga persatuan serta kedamaian. Tidak ada jalan pintas menuju kemajuan. Tdk ada bangsa yang besar dan dihormati dunia tanpa menjadi bangsa yang gemar membaca dan ber-ilmu pengetahuan.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara pandang. Membaca buku bukan kegiatan orang kota saja, bukan kegiatan orang kaya saja, dan bukan kegiatan orang luar saja. Membaca buku adalah kewajiban setiap orang Papua, dari pejabat tertinggi hingga anak-anak di kampung paling terpencil.

Belilah buku, bukalah, bacalah, pahamilah, dan amalkanlah. Karena hanya dengan buku yang banyak dibaca, tangan orang Papua akan memegang kendali penuh atas nasib tanah Papua. Hanya dengan buku, kita akan berdiri tegak, lurus, cerdas, dan bermartabat setara dengan bangsa lain dimuka bumi ini. Semoga!

Salam Literasi,

Jayapura (Petiga), 27 Mei 2026

 

Komentar (2)

  • ,Hyasinta Mi

    Semangat literasi yang luar biasa dari saudara-saudara kita di papua dan tingginya minat baca ini membuktikan bahwa semangat untuk terus belajar dan memajukan daerah tidak pernah surut.Semoga fasilitas perpustakaan dan akses buku semakin merata kedepannya.Membaca adalah jendela dan salut untuk masyarakat papua terus menjaga budaya literasi dan buku-buku yang dibaca merupakan fondasi kemajuan papua dimasa depan,besar harapan agar pemerintah terus mendukung penyediaan buku dan akses internet yang merata hingga ke pelosok papua.

    Balas30 Mei 2026 8:16 am
    • Mataleza

      Amin amin, terima kasih, bu guru. semoga semakin banyak buku bacaan yang bisa dijangkau di masyarkat kita.

      Balas30 Mei 2026 12:49 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.335
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

expand_less