Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 153
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)

Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, dusun, dan masa depan anak cucu. Ketegasan itu lahir dari pengalaman. Ia tahu bagaimana izin turun tanpa musyawarah, bagaimana ekskavator datang sebelum persetujuan, dan bagaimana janji kesejahteraan berubah menjadi pos aparat.

Karena rekam jejaknya jelas, maka ketika tiba-tiba muncul sebuah video yang menunjukkan Mama Yosinta berubah sikap, kejanggalan itu langsung terasa. Orang yang sudah berjalan jauh demi sebuah penolakan tidak akan berbalik tanpa sebab. Sebab itu mudah dibaca. Pihak lain memanfaatkan dua celah yang paling rentan: kondisi ekonomi dan trauma. Hidup di kampung dengan beban keluarga tidak ringan. Harga barang naik, akses kesehatan mahal, anak harus sekolah. Dalam keadaan seperti itu, tawaran uang bukan sekadar angka. Ia adalah tekanan. Lalu ada trauma. Bertahun-tahun rakyat berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan dan bayang-bayang pendekatan militer setiap kali bersuara. Trauma tidak hilang. Ia tidur di tubuh. Ketika dibangunkan dengan intimidasi halus, ia bisa membuat orang memilih diam atau mengucapkan kalimat yang diminta. Maka video yang beredar itu bukan bukti “kesadaran baru”. Ia adalah potret ketakutan yang dipaksa bicara.

Situasi ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Cara melawannya hanya satu: ambil kembali kendali atas narasi. Ajak Mama Yosinta berdiri bersama beberapa tokoh adat yang terekam dalam film Pesta Babi. Berdiri di atas tanahnya sendiri, menatap kamera tanpa perantara, lalu nyatakan sikap bersama. Pertama, tegaskan bahwa seluruh isi film Pesta Babi adalah fakta. Film itu merekam perampasan ruang hidup di Merauke, pembukaan hutan di Boven Digoel, hilangnya dusun sagu karena konsesi, dan suara mama-mama yang menolak sejak hari pertama. Kedua, klarifikasi bahwa video Mama Yosinta yang sebelumnya beredar dibuat dalam situasi intimidasi. Sampaikan bahwa ada tekanan ekonomi yang dimanfaatkan dan ada rasa traumatik berhadapan dengan hukum serta aparat. Pernyataan kolektif penting karena satu suara mudah dibeli dan dipelintir. Suara bersama lebih sulit dibungkam. Ia menutup ruang bagi pihak yang mau mengadu domba tokoh dengan rakyatnya.

Apa yang terjadi pada Mama Yosinta adalah cermin dari pola lama yang masih dipakai hari ini. Inilah wajah baru kolonialisme: ia kalah bersaing di ranah fakta, maka ia bermain di ranah tekanan. Ia tidak bisa lagi menyebut Tanah Papua sebagai tanah kosong karena kamera sudah masuk ke kampung, data satelit sudah merekam deforestasi, dan mama-mama sudah bersaksi sampai ke MK. Ketika fakta tidak bisa dibantah, maka yang dibantah adalah orangnya. Tokoh dilemahkan, narasi diputar, dukungan palsu diciptakan. Tujuannya satu: agar proyek jalan terus, agar konsesi aman, agar tanah adat pindah tangan dengan stempel “persetujuan masyarakat”.

Karena itu sikap kita harus tegas sejak awal. Tanah Papua bukan tanah kosong. Di atasnya ada marga, ada sejarah, ada batas dusun, ada pohon yang ditanam tete nene. Jangan pernah lepaskan tanah adat kepada negara dalam bentuk dan kepentingan apa pun. Nama bisa berganti: PSN, food estate, investasi hijau, ketahanan pangan, HGU. Tetapi pola tetap sama: tanah diambil, rakyat dipinggirkan, janji tinggal di baliho. Sekali tanah lepas, yang kembali bukan kesejahteraan. Yang kembali hanya program CSR, pembagian sembako, dan penjagaan bersenjata.

Film Pesta Babi adalah dokumen. Ia bukan fitnah. Ia adalah arsip tentang apa yang sedang terjadi. Membiarkan film itu dibunuh dengan video klarifikasi rekayasa berarti membiarkan sejarah ditulis oleh pemodal. Membela Mama Yosinta berarti membela hak untuk berkata tidak. Jika hari ini Mama Yosinta ditekan, maka besok bisa siapa saja. Jika hari ini satu suara dibeli, maka besok satu kampung bisa disewa.

Jalan keluarnya ada di tangan kita. Hidupkan kembali fakta film itu di para-para adat, di gereja, di kelas, di diskusi kampus, di media sosial. Dampingi Mama Yosinta dan tokoh-tokoh lain agar tidak berjalan sendiri. Kawal setiap proses perizinan di kampung. Tolak tanda tangan di atas kertas kosong. Catat setiap nama yang datang membawa uang dan janji. Kolonialisme hanya menang kalau kita diam dan terpecah. Ia akan kalah kalau kita bersuara bersama dan menjaga tanah seperti menjaga napas. Kohao

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan
Kokoda, 24 Mei 2026 || 03:09

 

Dukung Pondok Baca Mataleza Olakile dengan donasi ke sini

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 309
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 215
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 1.021
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

expand_less