Breaking News
light_mode
Trending Tags

PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

  • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
  • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
  • visibility 198
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 –

12 Mei 2026 –

Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur

Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11

Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan.

Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh mereka boleh di pasung tetapi tidak dengan iman mereka kepada Kristus. Keduanya penuh dengan Roh Kudus, sehingga tidak ada hal duniawi yang dapat membelenggu mereka.

Di dalam penjara sekali pun, Roh Penghibur seperti yang dijanjikan Yesus dalam Injil Yohanes pun nampak: “Dan kalau Roh Penghibur itu datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman.

Hal yang paling membangkitkan decak kagum yang suci dari kisah keduanya ini bahwa meskipun mereka punya kesempatan untuk kabur dari penjara, tetapi mereka tidak memilih untuk kabur. Mereka mengubur niatan untuk kabur. Padahal, mereka memiliki intuisi orang yang penuh Roh Kudus. Kalau mereka kabur, maka itu bagian dari menggali kubur untuk kepala penjara. Kepala penjara, ketika tahu bahwa penjara porak-poranda, dia berpikir bahwa dua tahanan ‘istimewa’ ini sudah kabur. Makanya dia hendak menghunuskan pedangnya hendak membunuh diri. Syukur dua Rasul ini menguburkan niatan kabur, kalau tidak, kepala penjara sudah di kubur.

Paulus dan Silas menyelamatkan nyawa sang Kepala penjara. Lagi dan lagi, kedua Rasul yang penuh Roh Penghibur ini malah membawa keselamatan yang jauh lebih mendalam bagi keluarganya dengan membaptis mereka dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Dari kisah Paulus dan Silas dan dari Injil suci hari ini, semoga penikmat permen dapat menarik makna spiritualitas untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman. Ternyata, situasi yang tidak nyaman itu bagian dari cara Tuhan untuk menyelamatkan kita, membuat hidup kita menjadi berkat dan membawa selamat bagi orang lain. Sehingga, teologi Katolik yang kuat mesti kita imani ialah tidak ada kemuliaan tanpa Salib.

Cara Tuhan ini akan bisa kita pahami, cara Tuhan ini akan berbuah selamat apabila kita tetap berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah bahkan doa dan pujian itu sampai didengar oleh orang lain. Bukankah itu yang dibuat Paulus dan Silas. Kelihatannya simple, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dan menghayatinya.

Semoga penikmat permen ketika ada masalah dan berada di dalam situasi tidak nyaman, kita tidak memilih hal senang dan nikmat, tetapi justru memilih hal tenang nan hikmat. Semoga kita tidak memilih cerita ke “salah orang” tetapi sebaiknya cerita ke Tuhan dan Bunda Maria. Semoga kita tidak kabur ke hal dosa tetapi justru semakin berdoa.

Nah, agar penikmat permen bisa sampai di level “bertahan dalam ketidak-nyaman-an”, maka kita tidak bisa hanya andalkan kekuatan manusiawi semata. Ini mesti ada “jalur langit-NYA”, yah kekuatan Roh Kudus. Ternyata, bertahan untuk ada di dalam situasi tidak nyaman, tidak melulu tidak baik. ‘Paulus mentality’ bisa mungkin dan hanya mungkin jika kita mendapat kekuatan Roh Kudus, kekuatan Ilahi. Kalau hanya andalkan jabatan, prestise, prestasi, apalagi kalau hanya andalkan “healing sambil tek-tokan di tik-tok alias ‘ber-kicau mania’” maka lihatlah orang-orang sukses di mata dunia tetapi yang tidak mendalam hidupnya; pandanglah orang-orang kaya di mata dunia yang tidak menginspirasi dalam kebaikan, sehingga miskin di hadapan Tuhan.

Saya ambil contoh, suami-istri yang tidak bertahan dalam situasi yang tidak menyenangkan biasanya memilih untuk “kabur” dari satu sama lain. Survey membuktikan, orang-orang yang kabur ini malah “mengubur” banyak hal termasuk mengubur masa depan anak-anaknya, mengubur harapan untuk kembali lagi. Anehnya, orang-orang demikian, setelah kabur dari ke-tidaknyaman-an bukan malah menguburkan diri dalam iman, harapan dan kasih, eh malah bersensasi mencari validasi, kacaunya lagi itu semua tidak lahir dari Roh Kudus yang menginspirasi. (mof)

Rm. Laurensius Feto, Pr / Master Oyen Feto- Imam Keuskupan Agung Ende, Sedang berkuliah di Binus University, Jakarta. Motto panggilan imamat: Berjalan Sambil Berbuat Baik.

  • Penulis: Rm Laurensius Feto, Pr
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

  • Hyasinta Mi

    Terima kasih renungan hari ini telah menguatkan saya dalam menghadapi segala masalah baik dilingkungan keluarga,sekolah maupun masyarakat harus dihadapi dengan hati yang tenang karena Roh Kudus merupakan sumber kekuatan sejati.Kehadiran Roh Kudus membuat saya sadar bahwa lari dari masalah tidak akan menemukan suatu penyelesaian.Sesuai dengan tema renungan hari in tentang Kubur Niatan Kabur dan biarkan Roh Kudus memimpin langkah saya untuk melakukan kehendak Bapa.Marilah kita hidup menabur dalam Roh.

    Balas13 Mei 2026 11:41 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 142
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    INDONESIA DARURAT KEKERASAN FISIK: LOGIKA “DI BAWAH TELAPAK KAKI”

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Filmon Hasrin
    • visibility 263
    • 4Komentar

    Sejak Indonesia merdeka pada 1945, harapannya jelas: terbebas dari kekerasan fisik dan konflik bersenjata. Namun, realitas berbicara lain. Kekerasan justru terus hadir dalam berbagai bentuk dan periode. Sejarah mencatat pembunuhan aktivis seperti Tan Malaka, hilangnya Widji Thukul pada era Orde Baru, hingga tragedi kekerasan massal 1965 dan 1998. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu, […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    Buah dari Jalan Panjang Sebuah Proses

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Perjalanan SMPSK Kotagoa Boawae dalam mengikuti Turnamen SMATER NDAO CUP merupakan bagian dari proses pembinaan yang panjang, terencana, dan berkesinambungan. Keikutsertaan dalam ajang ini tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya untuk meraih kemenangan dalam waktu singkat, melainkan sebagai sarana strategis dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, baik dari aspek keterampilan, karakter, maupun mentalitas bertanding. Sekolah […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 286
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 100
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

expand_less