Breaking News
light_mode
Trending Tags

PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

  • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
  • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
  • visibility 356
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 – 

Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja

Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a

Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka tidak bekerja sendirian. Mereka memberi kepercayaan kepada orang lain untuk meneruskan karya misi Allah. Sebagai penerus karya Misi Allah, sadarlah kita bahwa Tuhan tidak memilih orang yang mampu tetapi DIA memampukan orang yang dipilih-Nya. Tuhan tidak memilih orang yang suci, tetapi DIA akan menyucikan orang yang dipilih-Nya. Hal ini meneguhkan keyakinan iman bahwa  ada saat-saat Tuhan hadir tidak melulu melalui doa, tetapi melalui seseorang atau orang lain.

Untuk sebuah karya keselamtan dibutuhkan kerja sama dan sama-sama bekerja. Kerja sama mesti disponsori oleh mentalitas yang penuh dengan kedamaian. Makanya, dalam Injil Yohanes kita dengar bagaimana Yesus memberikan Damai Sejahtera untuk para murid-Nya di sela-sela kenaikan-Nya ke Surga.

Amatlah masuk akal mengingat untuk dapat bekerja sama dan sama-sama bekerja maka diperlukan semangat perdamaian. Semangat perdamaian membuat kita melihat orang lain dengan kacamata kasih bukan persaingan. Dengan itu, kita punya kemampuan untuk tidak mau menonjol sendiri, tidak mau terang benderang sambil memadamkan cahaya orang lain. Semangat perdamaian buat kita menjadi pribadi yang lebih peka dalam sebuah tim.

Tuhan, yang kalau Dia mau sombong, Dia dapat kerja tanpa mengandalkan manusia. Buktinya, DIA ciptakan bumi dan segala isinya, tanpa campur tangan manusia. Tetapi Tuhan dalam diri Yesus tidak sesombong itu, DIA tetap mengandalkan manusia. Tuhan yang adalah Maha segalanya masih membutuhkan manusia, masih  beri kepercayaan kepada manusia lemah. Anehnya, kita yang masih manusia tidak setengah dewa pun ini, sudah pelan-pelan menyombongkan diri untuk tidak mempercayai sesama kita, untuk tidak membutuhkan sesama kita. Parahnya lagi, karena sudah dicandu kemajuan teknologi, orang lebih men-tuhankan HP dan mem-PHP kan Tuhan. Orang terlampau percaya diri sampai-sampai tidak mau bekerja sama dengan Tuhan.

Pertanyaan refleksi untuk kita, mampu kah kita menjadi pribadi yang bekerja sama dengan Tuhan? Maukah kita sama-sama bekerja dengan rekan kerja tanpa merasa diri yang paling hebat, sedangkan rekan kerja hanyalah beban yang buat pekerjaan terasa berat? Sudahkah kita menjadi pribadi yang mampu membagi peran dan tanggung jawab dengan yang lain sebagai upaya wujudkan kerja sama dan sama-sama bekerja? Mampukah kita mengkaderkan orang lain dalam hidup kita?

Hari ini dunia memberikan perhatian kepada para bidan dalam Hari Bidan sedunia / Internasional.

Sembari kita bersyukur dan berdoa untuk kehadiran para bidan, mari kita belajar dari para bidan yang dengan keterbatasan jumlah tenaga bidan mereka melayani masyarakat dan ibu hamil dengan bantuan ibu Kader. Konsep ibu kader ini menarik, bahwa Ibu Kader kesehatan memegang peran krusial sebagai jembatan antara masyarakat dan tenaga medis (khususnya bidan) dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Mereka adalah penggerak utama di tingkat akar rumput (Posyandu) yang membantu bidan desa dalam memantau, mendampingi, dan mengedukasi masyarakat terkait kesehatan reproduksi, kehamilan, hingga tumbuh kembang balita.

Sampai di sini, saya akhirnya paham dan semoga penikmat permen pun paham akan agenda dan misi keselamatan dari Tuhan kita bahwa jalan keselamatan itu merupakan karya bersama yang butuh kerja sama dan sama-sama bekerja dalam kedamaian.(mof)

Rm. Laurensius Feto, Pr / Master Oyen Feto- Imam Keuskupan Agung Ende, Sedang berkuliah di Binus University, Jakarta. Motto panggilan imamat: Berjalan Sambil Berbuat Baik.

  • Penulis: Rm Laurensius Feto, Pr
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

  • ,Hyasinta Mi

    Terima kasih renungan hari ini yang mengingat saya dalam hal apa saja bahwa segala sesuatu bisa berhasil dengan baik karena semuanya itu adalah campur tangan Tuhan bukan semata-mata usaha kita sendiri. .Keberhasilan dalam keluarga,ditempat kerja itu bisa berhasil dengan baik apabila kita harus ada kerjasama dari semua pihak.
    Semoga Tuhan selalu memberkati segala usaha-usaha dan karya-karya selanjutnya.

    Balas5 Mei 2026 9:15 pm
    • Mataleza

      Mama ibu, Terima kasih yang selalu sempatkan waktu untuk merenungkan sabda Tuhan. Semoga hal hal baik terus terjadi di dalam masing-masing hidup kita.

      Balas12 Mei 2026 2:39 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 229
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 (Pater), selamat pagi.” Mama […]

  • Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    Sudut Pandang: Tubuh Perempuan dalam Kepala Laki-laki

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 876
    • 32Komentar

    Mbay-22 Mei 2026. Saya tidak tahu apakah pengalaman ini layak disebut menarik atau justru menyakitkan. Mungkin keduanya. Atau mungkin hanya sebuah pengalaman biasa yang kebetulan saya dengar secara langsung sehingga meninggalkan kesan yang lebih dalam di kepala saya. Yang jelas, ada sesuatu yang terasa ganjil sejak awal. Sesuatu yang terus tinggal diam-diam di pikiran saya […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 225
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 344
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

expand_less