Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 389
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Rumah Tuhan

Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata:

”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.”

Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang bukan hujan, tapi kasih-Nya yang menahan langkah. Agar tetap tinggal, di rumah-Nya yang tak pernah menutup pintu.

Karena sejatinya, semua bumi ini adalah pangkuan cinta-Nya. Tempat kita kembali, meski sekadar untuk diam dan merindu.

 

Kasih Mama  yang tak sempat diucapkan Kayu kepada Api

Untuk Bastian

Di tanah sunyi ia tinggalkan selembar kertas berisi pamit yang terlalu dini.

“Mama, saya pergi dulu,” tulisnya pelan, meminta direlakan, meminta air mata disimpan.

Ia bilang jangan mencari, jangan merindu, seolah cinta bisa dihentikan dengan kata-kata.

Di akhir surat hanya ada salam perpisahan

Dan sejak saat itu, seorang mama belajar hidup

Dengan rindu yang tak pernah pamit.

 

( Bastian seorang anak SD berusia 10 tahun asal Kab. Ngada kec. Jerebu’u yang mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh karena tak mampu membeli Buku Dan Pulpen)

 

Manifesto Cinta Tuhan

Kopi yang tumbuh di tanah petani desa adalah manifestasi cinta dari Tuhan.

Dengan memejamkan mata, ibadah kita pada kopi telah menjadi ritual paling khusyuk untuk menjahit kata-kata perlawanan.

Merawat cinta dari harapan petani-petani tabah yang merelakan keringat mereka berlarian menuju langit dan turun menjadi derasnya hujan.

Doa-doa yang mendiami kesunyian, sepasang suami istri meminta musim menjadi lebih baik. Berharap perayaan kali ini, senyum Tuhan hinggap lebih besar dari biasanya.

 

Rindu yang Kupelajari dari Rumah

Kelak,

Jika Tuhan mengizinkan,

Namamu akan tetap tinggal

Di akhir setiap ceritaku

Tentang pulang

 

Aku jarang bercerita

Betapa sunyinya berjalan sendiri,

Betapa sering namamu

Kusebut pelan

Di sela doa

Yang tak pernah panjang.

 

Ada banyak hal

Yang ingin kusampaikan,

Namun selalu kutunda

Bukan karena lupa,

Melainkan karena rindu

Kadang memilih diam

Agar tak memberatkan.

 

Aku belajar menyimpan rasa

Seperti caramu dulu menyimpan lelah:

Tanpa keluhan,

Tanpa ingin dipahami.

Sebab kini aku tahu,

Mendoakan orang tua

Adalah bentuk cinta

Yang paling sederhana

Dan paling panjang umurnya.

 

Jika suatu hari

Kita bertemu lagi

Atau hanya saling mengenang,

Rindu ini tak akan sia-sia.

Ia telah menjadikanku anak

Yang belajar tabah,

Dan belajar pulang

Meski dari jauh.

 

Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.

Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.

Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.

Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.

 

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Fian N

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    32 Siswa Baru SMAN 1 Jerebuu Dibekali Kepemimpinan, Jurnalistik, dan Karya Tulis Ilmiah

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Ngada – Sebanyak 32 siswa baru SMAN 1 Jerebuu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, jurnalistik, dan penulisan karya tulis ilmiah. MPLS yang berlangsung setiap hari mulai pukul […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

  • 𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋  (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    𝐋𝐀𝐌𝐀𝐔𝐑𝐈, 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐍𝐎𝐕𝐄𝐋 (𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙁𝙞𝙣𝙘𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙤𝙣𝙖)

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan. Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪, ‘istri’ dari 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, karya pertamanya. “Ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘧𝘢, maka harus ada 𝘓𝘢𝘮𝘢𝘶𝘳𝘪 supaya […]

  • Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Paulina Bening Puspa Arum
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Paulina Bening Puspa Arum Ada orang-orang yang pergi, lalu perlahan dilupakan. Nama mereka pernah disebut, wajah mereka pernah dikenal, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus jejak. Ketika semakin sedikit orang yang mengingat kenangan pun perlahan menjadi samar. Bagi Pramoedya Ananta Toer, melupakan bukan perkara sederhana. Di Pulau Buru, tempat ia menjalani penahanan politik […]

  • Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    Ketika “Gamers” Bertemu “Boomers”: Akomodasi Komunikasi yang Retak di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 584
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa IFTK Ledalero Dunia terasa semakin sempit, tetapi justru semakin keras. Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan seorang cucu di Jakarta berdebat sengit dengan kakeknya di Surabaya tentang harga cabai, lalu sejam kemudian melihat seorang aktivis lingkungan dan eksekutif perusahaan tambang saling serang di kolom komentar Instagram. Yang menarik, tak jarang […]

  • Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    Saya dan Buku: Sejarah Dunia yang Disembunyikan Karya Jonathan Black

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Resentator Buku Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Tepat, 2015. Saya masuk Jakarta untuk studi master di Unas Jakarta Selatan, beberapa bulan kemudian berkunjung ke salah satu toko buku di Jakarta Timur: Gramedia Matraman. Tujuan ke sana untuk belanja buku-buku politik, karena studi master saya ilmu politik. Ketika keliling di […]

expand_less