Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya
- account_circle Filemon Pandu Wimastha
- calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
- visibility 212
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di Rumah Tuhan
Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak berkata:
”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.”
Aku singgah di perhentian terakhir, dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang bukan hujan, tapi kasih-Nya yang menahan langkah. Agar tetap tinggal, di rumah-Nya yang tak pernah menutup pintu.
Karena sejatinya, semua bumi ini adalah pangkuan cinta-Nya. Tempat kita kembali, meski sekadar untuk diam dan merindu.
Kasih Mama yang tak sempat diucapkan Kayu kepada Api
Untuk Bastian
Di tanah sunyi ia tinggalkan selembar kertas berisi pamit yang terlalu dini.
“Mama, saya pergi dulu,” tulisnya pelan, meminta direlakan, meminta air mata disimpan.
Ia bilang jangan mencari, jangan merindu, seolah cinta bisa dihentikan dengan kata-kata.
Di akhir surat hanya ada salam perpisahan
Dan sejak saat itu, seorang mama belajar hidup
Dengan rindu yang tak pernah pamit.
( Bastian seorang anak SD berusia 10 tahun asal Kab. Ngada kec. Jerebu’u yang mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh karena tak mampu membeli Buku Dan Pulpen)
Manifesto Cinta Tuhan
Kopi yang tumbuh di tanah petani desa adalah manifestasi cinta dari Tuhan.
Dengan memejamkan mata, ibadah kita pada kopi telah menjadi ritual paling khusyuk untuk menjahit kata-kata perlawanan.
Merawat cinta dari harapan petani-petani tabah yang merelakan keringat mereka berlarian menuju langit dan turun menjadi derasnya hujan.
Doa-doa yang mendiami kesunyian, sepasang suami istri meminta musim menjadi lebih baik. Berharap perayaan kali ini, senyum Tuhan hinggap lebih besar dari biasanya.
Rindu yang Kupelajari dari Rumah
Kelak,
Jika Tuhan mengizinkan,
Namamu akan tetap tinggal
Di akhir setiap ceritaku
Tentang pulang
Aku jarang bercerita
Betapa sunyinya berjalan sendiri,
Betapa sering namamu
Kusebut pelan
Di sela doa
Yang tak pernah panjang.
Ada banyak hal
Yang ingin kusampaikan,
Namun selalu kutunda
Bukan karena lupa,
Melainkan karena rindu
Kadang memilih diam
Agar tak memberatkan.
Aku belajar menyimpan rasa
Seperti caramu dulu menyimpan lelah:
Tanpa keluhan,
Tanpa ingin dipahami.
Sebab kini aku tahu,
Mendoakan orang tua
Adalah bentuk cinta
Yang paling sederhana
Dan paling panjang umurnya.
Jika suatu hari
Kita bertemu lagi
Atau hanya saling mengenang,
Rindu ini tak akan sia-sia.
Ia telah menjadikanku anak
Yang belajar tabah,
Dan belajar pulang
Meski dari jauh.
Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.
Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.
Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.
Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.
- Penulis: Filemon Pandu Wimastha
- Editor: Fian N

Saat ini belum ada komentar