Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi
- account_circle Sella Suhardi
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- visibility 220
- comment 3 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Duka Pernikahan (I)
Aku pernah, pernah sekali mencintaimu
Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar
Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar
Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam
Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam
Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan
Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap
Kini aku hidup bersama kenangan
Mengumpulkan serpihan hati dan
Sibuk menyulamnya kembali pada ujung usia kita
Benar, aku sendiri bersama senja yang pernah kau kenalkan
dan dua butir mutiara yang kau suguhkan selepas janji suci itu.
Merauke, 4 Desember 2018
Duka Pernikahan (II)
Rindu yang terus memercik
Dan langkahmu yang semakin jauh
Aku yang gugup dan bibir yang kaku
Menahan kenangan ini pergi berlalu
Berkali-kali kusangkal kesedihan yang datang
Lalu menyebut hati yang patah ini sebagai bahagia yang jalang
Memang benar yang tuan katakan
Masa lalu selalu punya caranya sendiri
Sekadar menarik kau pada suatu rasa bernama rindu
Dan kemudian mutiara ini akan kubawa pergi.
Merauke, 7 Desember 2018
Aku, Kau dan Hujan
Aku,
Mata ini tak mampu menjangkaumu
Malamku tak seredup itu hingga kaupun berlalu
Kau,
Berlalu begitu saja, aku, kau tinggalkan seorang diri
Derap langkah yang kian syahdu, kau pun jauh.
Hujan,
Beberapa tetes pecah pada kelopak mataku
Untuk kesekiankalinya aku dialiri rindu yang begitu deras
Hujan ini mengutuk aku pada malam tanpamu
Banjiri hatiku dengan rindu padamu.
Aku, Kau dan Hujan
Aku masih di sini, di jendela ini
Kau terus berlalu pada jalan-jalanmu
Hujan terus menderas, tumpahkan rindu pada malamku
Dan aku, kau, tak lagi bersua pada hujan malam ini.
Merauke, April 2018
Β
Kembali
Kau belum jauh
Belum banyak langkah yang percuma
Pagimu baru beranak mentari
Embun pada daunmu ingin kau kembali.
Tungku dapur baru dinyalakan
Kau tak perlu tergesa pergi.
Ini masih subuh
Sekacu cita baru dikemas,
Ada wasiat yang harus kau dengar
Agar pedih perih tak banjiri hatimu.
Kau harus kembali
Dan kita akan berbincang
Tentang dunia yang tak selalu manis
Secangkirku memang tak menarik,
Pahit getirnya menggelikan harimu:
Tetapi kau hanya perlu memilih
Teguk hitamku atau pergi bersama dahagamu.
Merauke, 25 April 2018
Tertanda Lukamu
Teruntuk kau yang tak bisa kusebut namamu
Aku adalah kesunyian yang enggan kau kunjungi
Dalam setiap kilap kemilau, aku adalah noda hitam bayanganmu
Kita adalah jiwa-jiwa yang kosong
Memelihara keegoisan, kita telah rela melepaskan.
Hati yang gunda telah terlukis indah pada raut wajah penuh seluruh
Β
Aku inikah yang kau sebut kebencian hingga tak kembali?
Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan
Maka pergilah dengan langkah bersih tanpa sebercak kenangan
Bebaskan aku dari satu kata pisah,
Bukan diam dan menghilang.
Merauke, 12 Juli 2019
Β
Kiasan Cinta
Pagi dan malam terus berganti
Tak ada yang abadi
Dahan-dahan ditingkap
Lorong-lorong menyepi
Sementara ia,
Menertawakan luka hatimu.
Begitulah cinta,
Memeluk erat kaktus, kau yang berdarah.
Merauke, Agustus 2019
Senja
Meredup petang
Hariku hampir usai
Langit menelan separuh mataku dan haripun berlalu
Tak ada pesan selepas senja
Aku masih saja bingung dan kau tetap memilih diam
Sekarang sudah seperempat hari dan kita masih tak saling melirik
Merakit hati yang kian lelap pada malam yang sendu
Aku masih di sini
Seruput habis dinginnya malam,
membalut luka-luka yang tak kunjung pulih
Aku tahu kau tak peduli, pun aku masih tetap di sini
Menanti pagi dengan sejuta harap yang enggan kau semogakan.
Merauke, 15 Juli 2019
Suatu Hari
Suatu hari nanti
Akan ada satu dua kenangan
Yang mencengkram hatimu
Suatu hari nanti kau merasa rindu tetapi enggan bertemu
Sangat lihai kau sembunyikan rindu itu rapat-rapat di balik lidahmu
Suatu hari nanti pada sebuah kertas merah
Kau menulis namanya
Mengukir mawar merah di sampingnya
Lalu teteskan air mata.
Merauke, Suatu Hari di 2019
Β
Kita yang Telah Usai
Aku menemukan huruf-huruf pada namamu
Menggantung pada tiap sisi duri mawar itu.
Menghitam legam
Menusuk langit malam,
Menggenggam erat enggan lepas
Tak berdarah tetapi hitamnya, kelam.
Perihal hati,
Aku melukisnya dengan tinta hitam dan tangan lebam
Oleh sebuah kenyataan.
Merauke, Tengah malam di 2019
Sella Suhardi, berasal dari Manggarai, sering menulis puisi tetapi juga sering menghilang. namun percaya bahwa puisi adalah jalan pulang menuju kata-kata untuk merawat yang hilang. Saat ini menetap di Merauke.
- Penulis: Sella Suhardi
- Editor: Fian N

Terima kasih matalezaπ«Άπ»
11 Mei 2026 1:50 amteruslah hidup untuk kami yang selalu menggalau lewat puisiπ€βπ»
Kita serupa kumpulan sajak yang akan terus hidup dalam puisi π
17 April 2026 12:39 pmSukses selalu saudari.
Kaka, terima kasih.
17 April 2026 8:15 pm