Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis
- account_circle Agustinus S. Sasmita
- calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
- visibility 922
- comment 7 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa yang harus dihasilkan agar bisa ditukar dengan sesuatu yang lebih dibutuhkan untuk kelangsungan hidup? Dalam perjalannya, pertanyaan itu melahirkan sistem pertukaran yang berevolusi secara perlahan, dari yang semula dalam bentuk barter sederhana hingga terciptanya material yang kini kita sebut sebagai uang. Pada akhirnya, uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan sebuah catatan panjang perjalanan manusia dalam memaknai nilai, kebutuhan, dan kelangsungan hidup (Harari, 2020).
Dalam bukunya Money: Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan, Yuval Noah Harari mengungkapkan bahwa uang adalah medium pertukaran universal; sebuah alat yang memungkinkan setiap orang mengonversi hampir segala hal. Namun, di awal peradaban, komunitas dan keluarga-keluarga manusia dibangun di atas fondasi yang tak ternilai. Kehormatan, loyalitas, moralitas, dan cinta adalah hal-hal yang berada di luar domain pasar dan tak akan dibeli atau dijual dengan uang (Harari, 2020). Namun, berkaca pada kenyataan hari-hari ini, fondasi itu terkikis. Uang dengan segala kapasitasnya, berhasil menerobos masuk ke ranah-ranah sakral tersebut. Dalam perjalanannya, kita kerap menemukan sisi gelap uang yang semakin tak terhindarkan.
Kehormatan menjadi salah satu nilai yang paling mudah bergeser ketika uang mulai masuk ke dalam relasi antarmanusia. Perubahan ini mewabah ketika peradaban manusia memasuki era globalisasi dan modernisasi (Hapsah, 2024). Mentalitas era baru ini merasuki hampir semua lini kehidupan, salah satunya adalah sistem belis (mahar dalam perkawinan). Dalam sudut pandang kultural, belis pada awalnya dimaknai sebagai simbol penghormatan. Ia dilihat sebagai tanda yang mewujudkan rasa terima kasih pria kepada seorang wanita yang ingin pindah ke hubungan keluarga barunya dan pada gilirannya menghormati perannya sebagai istri. Dengan kata lain, belis menjadi meterai yang mengesahkan perpindahan perempuan dan sukunya ke suku laki-laki. Oleh karena itu, selama belis belum dibayar, laki-laki harus tinggal dalam keluarga perempuan serta tidak memiliki hak atas anak-anaknya (Daku, 2025). Dalam banyak kasus, besaran belis sangat bergantung pada kesepakatan atau pun status sosial calon pengantin, terutama pihak wanita. Namun, seiring waktu, tradisi ini mengalami trasisi dari nilai kehormatan menjadi tuntutan. Bagi setiap laki-laki yang memilih untuk hidup berkeluarga dalam suatu ikatan perkawinan yang “sah”, belis bukan lagi sekadar simbol melainkan beban yang harus dipenuhi.
Sebagian besar masyarakat penganut sistem belis menolak anggapan bahwa praktik ini merupakan aktivitas jual-beli perempuan. Bagi mereka, belis merupakan simbol penghargaan tertinggi atas peran wanita yang akan menjadi istri, ibu, sekaligus penerus generasi dan penyambung tali kekerabatan. Namun, di balik kemuliaan makna tersebut, penulis melihat sisi lain yang tak kalah penting untuk disoroti. Praktik yang lahir dan diproduksi dalam kultur patriarki ini justru menjadi sarana eksploitasi terselubung bagi laki-laki. Tekanan itu mulai terasa ketika seorang perempuan memilih tinggal bersama pasangannya namun belum dibelis. Dalam situasi seperti ini, laki-laki kerap berada dalam posisi terdesak, baik oleh norma adat maupun lingkungan sekitarnya. Belis menjadi standar sosial untuk mengukur kesuksesan dan tanggung jawab seorang laki-laki terhadap pasangannya. Hal ini menjadi beban ganda bagi laki-laki, di satu sisi ia harus memenuhi tuntutan adat, dan di sisi lain ia juga harus membangun relasi personal yang seharusnya dibangun di atas nilai-nilai selain materi.
Belis: Jalan Solidaritas vs Beban Individu
Konon, dalam dialog negosiasi belis di sebuah rumah adat, suasana tegang menyelimuti ruangan. Di satu sisi, pihak wanita mengajukan tuntutan belis yang tinggi, termasuk nominal air susu ibu. Di sisi lain, pihak pria berusaha mengeluhkan tingginya permintaan tersebut. Pada akhirnya, dalam nada kesal, calon pengantin pria melontarkan pertanyaan: “Mengapa pihak perempuan menuntut nominal air susu ibu begitu tinggi? Apakah kalian berpikir kami laki-laki ketika balita minum coca-cola?”. Pertanyaan itu tentu lebih dari sekadar keluhan. Ia merepresentasikan beban administrasi adat yang cenderung menekan. Secara sosial, ada kebanggaan bagi seorang laki-laki yang memenuhi tuntutan belis dan juga pihak perempuan yang dibelis. Namun, kebanggaan sosiologis ini sering kali menjadi sumber dilema yang mendalam. Laki-laki diperhadapkan dengan tuntutan menjaga tradisi, memenuhi ekspektasi sosial, dan berusaha membangun relasi personal dengan pihak keluarga perempuan melalui ketaatan pada permintaan adatnya.
Dalam berbagai diskusi antropologis, relasi yang dimulai dari sebuah pemberian (materi/non-materi) sering dianggap sebagai ikatan ketergantungan antar-individu. Marcel Mauss, seorang filsuf asal Prancis, menyebut pemberian (the gift) sebagai fasilitas yang menentukan bagaimana orang berhubungan dengan benda dan melaluinya orang dapat berhubungan dengan sesamanya. Pemberian sebagai salah satu bentuk pertukaran memuat tiga kewajiban utama, diantaranya: menerima, memberi, dan mengembalikan (balasan). Bagi Mauss, pemberian yang tidak diimbangi oleh balasan dari pihak penerima justru merendahkan martabat penerima, terutama ketika penerima melakukan hal tersebut tanpa memikirkan balasannya (Sufyanto, 2024). Dalam tradisi belis, kalkulasi balasan hampir tak sebanding dengan pemberiannya. Pada titik ini penulis menilai pihak laki-laki justru menjadi dermawan semu di hadapan adat (belis).
Kita hampir tidak temukan dimensi yang sungguh-sungguh egaliter dalam budaya belis. Sebab, sistem ini berdiri di atas ambiguitas yang melekat. Di satu sisi, ia merupakan instrumen solidaritas sosial, namun di sisi lain justru menjelma menjadi peristiwa transaksi material. Dalam proses perundingan, pengumpulan, hingga pelunasan belis selalu melibatkan banyak pihak. Meski dalam logika internal adat, belis menjadi simbol penghormatan kepada perempuan, namun membutuhkan keterlibatan dari pihak laki-laki untuk mewujudkannya dalam bentuk mahar sesuai yang disepakati. Di sinilah letak paradoksalnya. Dari kacamata psikologis, momen perundingan dan penetapan belis melahirkan rasa cemas yang mendalam bagi laki-laki. Meskipun, metode perundingan dari kedua belah pihak terasa sangat demokratis, namun kesepakatan itu pada akhirnya tetap membebankan laki-laki secara tidak proporsional.
Dengan bertitik tolak pada kenyataan masa kini, modernitas dan perubahan etos ekonomi pasar melahirkan modifikasi intensi permintaan belis. Jika dulu belis lebih berakar pada nilai-nilai adat yang relatif tetap, kini kerap disesuaikan dengan status pendidikan, pekerjaan, hingga latar belakang sosial ekonomi perempuan (Awang, 2024). Pergeseran ini tidak hanya mengubah sakralitas belis sebagai simbol penghormatan, tetapi juga menimbulkan beban psikologis bagi pihak laki-laki. Lebih jauh lagi, dampak budaya belis merembet ke ranah finansial. Berhadapan dengan realitas minimnya lapangan pekerjaan, kasus PHK yang marak terjadi, distabilitas politik nasional maupun global, dan berbagai kesenjangan lainnya, budaya belis berubah menjadi tekanan. Bagi keluarga baru yang hendak memulai kehidupan bersama, belis sering kali mengakibatkan terkurasnya tabungan hingga meninggalkan utang dalam jangka panjang. Karena itu, saatnya kita mempertanyakan kembali makna dari praktik ini –apakah kita perlu pemaknaan ulang (atau pun repraktik) atas budaya belis?
Fleksibilitas Adat yang Diharapkan
Sakralitas adat tidak akan direduksi mana kala ia tidak hadir sebagai “algojo” bagi ekonomi pasangan muda. Karena itu, komodifikasi budaya belis, dalam arti transformasi bentuk (bukan maknanya), sangat dibutuhkan saat ini. Belis yang semula menuntut pengadaan mahar dalam bentuk fisik (material), dapat diubah ke dalam nominal uang yang lebih memudahkan. Sebab, makna simbolis dan esensi belis terletak pada kejujuran dan ketulusan, bukan tuntutan barang atau nilai nominal yang menekan.
Tuntutan fleksibilitas adat yang diharapkan saat ini bukan sebagai upaya menghapus tradisi. Upaya ini justru merupakan bentuk negosiasi nilai belis agar tidak menjadi beban finansial yang melumpuhkan. Adat semestinya tidak lagi dilihat sebagai hambatan kemajuan atau kesejahteraan, melainkan sebagai pilar identitas yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan demikian, adat tetap terjaga sakralitasnya, sementara pasangan muda pun dapat mulai kehidupan baru tanpa dihantui oleh beban yang seharusnya tidak perlu ada.
Tentang Penulis
Agustinus S. Sasmita, Alumnus Fakultas Filsafat UNWIRA
Ketua komunitas literasi Sodalitas Sui
Referensi
Harari, Yuval Noah, Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya, (terj. Yanto Musthofa), Tangerang Selatan: Pustaka Alvabet, 2017.
Harari, Yuval Noah, Money: Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan, (terj. Haz Algebra), Manado: Global Indo Kreatif, 2020.
Hapsah, Romlah Harniati dkk., Dinamika Interaksi Manusia, Masyarakat, dan Budaya, dalam Era Globalisasi dan Modernisasi, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Vol. 2 No.2 (2024), doi: https://doi.org/10.71382/sinova.v2i2.149.
Daku, Theresia Avila Chastysima, Dinamika Tradisi Belis di Era Modern: Perspektif Orang Tua di NTT, Journal of Indonesian Scholars for Social Research Vol. 5 No. 1 (2025), doi: https://doi.org/10.59065/jissr.v5i1%20Special%20Issues.219.
Awang, Anisa Ndula dkk., Tingkat Pendidikan Sebagai Patokan Belis Perempuan Sumba, Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 2 (2024), doi: 10.33503/paradigma.v29i3.
Sufyanto, Panorama History of Social Exchange Theory, Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024), doi: https://doi.org/10.21070/kanal.v13i1.1800.
- Penulis: Agustinus S. Sasmita
- Editor: Gregorius Nggadung

Salam kenal Agustinus dan terima kasih untuk tulisan yang syarat makna ini. Semoga tulisan ini bisa dibaca oleh mereka sekarang yang lagi mengampuh hukum adat dan memiliki kedudukan strategis dalam pengambilan keputusan sosial. Prinsipnya ide-ide reflektif ini perlu di-gas-kan terus agar dapat memecahkan pikiran dan hati yang membatu karena terjebak ketidaktahuan atau pura-pura tidak tahu.
4 Mei 2026 5:30 pmTerima kasih sudah berbagi bagaimana tentang Uang di Saat sekarang Spesial pada Adat dan Budaya,,,Belis juga sudah di gunakan melalui Uang.Sangat bermanfaat tulisannya semoga menjadi pengetahuan yang sangat berarti buat kami para pembaca.Suksess dan Semangat sllu
14 April 2026 8:21 pmTerima kasih banyak, bapak guru sudah berikan tanggapan positifnya.
19 April 2026 8:45 amKeren dah. Jadi tau letak dilemanya sang lelaki. Semangat kakak
14 April 2026 11:15 amTerima kasih, kak. saling belajar dan memahami.
14 April 2026 12:57 pmKeren Ase, perspektif yang sangat menarik.
Kalau kita telisik secara jelih lagi, selain yang telah disampaikan dalam tulisan di atas, sangat nampak juga kesan bahwa hari-hari ini, praktik Belis semacam dipolitisasi demi prestise, entah bagi pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Bagi pihak laki-laki akan lahir perasaan bahwa mereka hebat, statusnya naik krna telah menyelesaikan mahar yang dituntut, sedangkan bagi pihak perempuan, mereka akan merasa sukses karena anak mereka bisa mendatangkan “kekayaan”. Secara sosial mereka akan diakui.
Dengan demikian praktik Belis bergeser nilainya, bukan lagi bentuk penghormatan thd harkat dan martabat manusia, melainkan sebagai ajang tontonan.
Selain itu praktik Belis juga seringkali tampak sebagai praktik eksploitasi manakala nominal Belis ditentukan dan mengandung tuntutan harus dituntaskan atau dibayar tuntas.
Dalam konteks inilah makna Belis sebagai penghargaan terhadap martabat manusia (perempuan) perlu digugat. Karena martabat manusia kemudian direduksi ke dalam nominal angka-angka yang ditentukan sebagai mahar.
Logikanya sederhana, kalau memang martabat manusia tak ternilai harganya, maka tuntutan mahar dengan penetapan nominal mahar yang harus dipenuhi sesungguhnya meniadakan ketakternilaian martabat manusia itu sendiri.
Dengan begitu saya berpikir bahwa sebaiknya Belis itu harus dipahami maknanya dalam ranah simbolis. Bahwa entah berapapun pemberian pihak laki-laki sebagai mahar, mesti diterima, jangan diberikan tuntutan nominal yang harus dibayar. Sebab yang paling penting adalah ketulusan dan kejujuran dalam penghargaan atau penghormatan thd martabat manusia tersebut yang melampaui nominal yang diberikan.
14 April 2026 5:55 pmTerima kasih
22 April 2026 12:17 pm