Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fian N

Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci

Penulis: Puthut EA

Tebal: vi + 88 hlm

Penerbit: Mojok

Cetakan: IV, 2017

ISBN: 978-602-1318-57-7

Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami.

Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut)

Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak Suci (selanjutnya: SKYTS), sebagai pembaca, saya menemukan puncak estetis dari sebagian karya fiksi Puthut EA. SKYTS dalam jalinan kisahnya mengalir penuh pertanyaan serta penasaran. Penuh dugaan-dugaan yang tak mudah ditebak. Pembaca akan dihadapkan pada beragam penafsiran yang melonjak ke luar dari benak penasaran. Pembaca akan digiring bagai bola di atas lapangan hijau. Dari kaki ke kaki. Dari mulut gawang ke mulut gawang, penuh harap membuahkan kemenangan. Di luar, ada seorang pelatih yang sedang mengatur para pemainnya agar mampu memainkan permainan yang indah dan mampu mencetak gol. Dan ini, bukan permainan sepak bola kelas teri. Ini adalah sebuah pertunjukkan sepak bola yang memainkan rasa yang seluruh.

Puthut EA berhasil memainkan debar pada dada pembaca sejak Ia menulis puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti mati, kematian, dan air mata di dalam puisi itu.  Tak ada doa-doa dan percakapan melankoli biru pada mayat di depannya. Diam yang matang dan sempurna. Udara pun tak boleh meraba (Kematian Seorang Istri). Cara bersedih yang dinarasikan secara lain oleh Puthut EA dalam Kematian Seorang Istri membuat pembaca serentak bertanya, apakah ini sesuatu yang surealis atau fakta tapi fatal? Mana bisa tak ada kesedihan dan doa pada sebuah kehilangan yang selamanya? Puthut EA menabrak kematangan berpikir kita. Saya sebut saja ini sebagai salah satu cara mengganggu yang sekaligus mengubah mindset kita tentang kematian dan kesedihan.

Sampai di sini, kita masih dihadapkan pada kebingunan yang bertanya-tanya. Mana bisa, sudah tiga hari sebagai mayat, istrinya tidak makan dan tidak minum,tapi tidak ada yang berkurang. Tidak makin kurus dan tidak berbau busuk. Hanya tidak bergerak dan tidak bernapas, itu saja! Lagi-lagi ada yang janggal secara akal sehat. Ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Ini adalah sebuah bentuk pertanyaan kepada Tuhan tanpa harus bertanya yang dinarasikan oleh Puthut EA melalui tokoh suami di dalam Kematian Seorang Istri. Setelah hidup, mengapa manusia harus mati? Si suami harus mencari literatur-literatur tentang kematian dan mengapa manusia bisa mati. Sampai pada akhirnya, si suami tetap menulis puisi panjang dan dipenuhi beragam literatur untuk merakit bom yang dijadikannya sebagai bentuk lain bagaimana cara mematikan manusia.

Tidak hanya sampai di situ, manusia dihadapkan pada berbagai persoalan yang menuntut untuk sesegera mungkin diselesaikan. Tapi semua seperti misteri yang terdapat dalam Mencari Tangisan Pertama. Mengapa Ia harus mencari tangisan pertama? Saya, menemukan sesuatu yang lain pada cerepen ini. Puthut EA sedang mendoktrin (tetapi tidak menggurui) pembaca agar mampu bertanya tentang keadaan Ibu pertiwi, Bumi. Tentang keadaan negeri kita yang tak seimbang dalam pembangunan, pemerataan bantuan, dan adanya keterbelakangan sosial, ekonomi, pendidikan di salah satu wilayah di negeri ini. Di mana ada sebagian penduduk negeri ini ingin mencari tahu tentang rahim ibunya yang sesungguhnya.

Ia telah terlempar dari kesunyian. Dari ranjang-ranjang yang kosong, rapi, berseprei, putih, kering, dan sendiri. Ia terlempar dari bukit-bukit terjal dan menyimpan sendiri gaungnya, sudut-sudut yang kehilangan tajamnya. Manusia menjadi takut menjadi manusia yang sesungguhnya karena harus dihadapakan pada beragam persoalan. Banyak yang bermuka dua. Dan jika tak mampu beradaptasi, maka sia-sialah hidupmu. Datang dari kesunyian dan kembali kepada kesunyian yang mengerikan.

Ia mencari-cari kembali kelahiran dan tangisannya yang pertama. Jika memang pernah ada. Sebab, hari ini, seseorang yang tidak pernah bahagia, dibunuh oleh orang yang juga tidak sedang bahagia. Dan mungkin, hal yang paling membahagiakan adalah kematian itu sendiri. Sebab, tak ada lagi yang perlu diingat di sana. Semuanya tiada. Dan, banyak orang terlalu ambisius dengan waktu, selalu sibuk mencari kesenangan setelah tidur yang tenang. Mungkin, tidur adalah salah satu bentuk kesenangan lain yang membuat manusia begitu ambisius dalam menjalani hidup yang kompleks namun selalu dibatasi keterbatsan. Namun hidup kadang membuat kamu cukup sialan dan seksi.

Di dalam Ruang Tunggu Waktu, sejak pagi buka mata hingga tirai malam diturunkan, manusia dijebak dan terjebak dalam pusaran waktu yang terbatas. Semua aktivitas manusia dibatasi detak-detik jarum yang setia bergantian angka pada jam seperti dua pasang mata bersitatap , lekat; meraba punggung malam dan setiap fajar adalah sebait puisi di tubuh bayi. Tangisnya tetap rendah hati dan wangi.

Puthut EA menghadirkan kenyataan dengan tidak melebih-lebihkannya dan begitupun sebaliknya. Kenyataan diciptakan ulang dalam narasi fiksi yang begitu indah dan dipenuhi pesan-pesan kehidupan yang menguatkan. Bagaimana mungkin doa menyatu dengan dendam dan kebiadaban manusia, dengan kemunafikan yang sempurna! Benar yang dinarasikan Puthut EA di dalam kisah Sehelai Kutukan Yang Menikam. Ini adalah gambaran manusia masa kini, penuh dendam namun dalam waktu bersamaan mencari pembalasan melalui doa. Secara lain, soal dendam Puthut EA menarasikannya melalui satire yang tajam, sejujurnya aku bukan seorang pendendam, tetapi penikmat yang baik bagi setiap pembalasan. Hanya itu saja.

Narasi-narasi dalam setiap kisah yang disajikan Puthut EA patut dijadikan pedoman hidup agar menjadi lebih mapan meskipun tidak semua harus bahagia. Sebab, hidup yang sempurna adalah hidup yang bisa dinikmati dengan cara bersedih dan bersenang. Jika hanya salah satunya, hidup tak utuh. Seperti sejarah, seperti dendam, segalanya dijalani tanpa pernah bisa dimengerti. Tidak juga ketika semuanya berakhir. Tidak untuk sebuah kalimat; manusia menjalaninya dari depan, sedang sejarah bisa dimengerti dari belakang.

Sampai pada titik ini, saya yakin Anda sedang menunggu sebuah ulasan mengapa kumpulan cerpen ini diberi judul Sebuah Kitab Yang Tak Suci. Jujur, rasa penasaran Anda itu seperti rasa penasaran saya ketika pertama kali membaca kumpulan cerpen ini. Dari kisah Kematian Seorang Istri sampai pada kisah Seseorang Di Sebuah Sudut, tak satu pun saya temukan diksi atau kalimat yang merujuk pada Sebuah Kitab Yang Tak Suci. Tetapi, saya yakin bahwa Puthut EA sedang menjebak manusia ke dalam sebuah pencobaan yang yang menguntungkan. Manusia digiring masuk ke dalam sebuah judul lalu pada akhirnya tenggelam dalam setiap jalinan kisah yang ada di dalamnya. Manusia masa kini adalah manusia yang hidup dari setiap judul tulisan, entah apakah membaca isinya atau tidak. Tetapi, SKYTS sesungguhnya menghadirkan sebuah keutuhan cerita di dalamnya. Puthut EA yakin bahwa kumpulan cerita ini bukanlah sebuah kitab suci yang patut ditiru tetapi bisa dijadikan panduan dalam menikmati realitas yang dihadiahkan semesta terhadap pola laku hidup manusia seperti pesan berikut ini;

Anakku, belajarlah berjudi sendiri dengan nasibmu, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dari ketidakjelasan esok hari. Ia hanya layak dijalani, … sebelum senja merawatmu dengan kesedihan yang  masih sulit kau mengerti.(Kota yang Menuju Diam)

Pogopeo, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 52
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 304
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

expand_less