Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • visibility 295
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fian N

Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci

Penulis: Puthut EA

Tebal: vi + 88 hlm

Penerbit: Mojok

Cetakan: IV, 2017

ISBN: 978-602-1318-57-7

Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami.

Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut)

Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak Suci (selanjutnya: SKYTS), sebagai pembaca, saya menemukan puncak estetis dari sebagian karya fiksi Puthut EA. SKYTS dalam jalinan kisahnya mengalir penuh pertanyaan serta penasaran. Penuh dugaan-dugaan yang tak mudah ditebak. Pembaca akan dihadapkan pada beragam penafsiran yang melonjak ke luar dari benak penasaran. Pembaca akan digiring bagai bola di atas lapangan hijau. Dari kaki ke kaki. Dari mulut gawang ke mulut gawang, penuh harap membuahkan kemenangan. Di luar, ada seorang pelatih yang sedang mengatur para pemainnya agar mampu memainkan permainan yang indah dan mampu mencetak gol. Dan ini, bukan permainan sepak bola kelas teri. Ini adalah sebuah pertunjukkan sepak bola yang memainkan rasa yang seluruh.

Puthut EA berhasil memainkan debar pada dada pembaca sejak Ia menulis puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti mati, kematian, dan air mata di dalam puisi itu.  Tak ada doa-doa dan percakapan melankoli biru pada mayat di depannya. Diam yang matang dan sempurna. Udara pun tak boleh meraba (Kematian Seorang Istri). Cara bersedih yang dinarasikan secara lain oleh Puthut EA dalam Kematian Seorang Istri membuat pembaca serentak bertanya, apakah ini sesuatu yang surealis atau fakta tapi fatal? Mana bisa tak ada kesedihan dan doa pada sebuah kehilangan yang selamanya? Puthut EA menabrak kematangan berpikir kita. Saya sebut saja ini sebagai salah satu cara mengganggu yang sekaligus mengubah mindset kita tentang kematian dan kesedihan.

Sampai di sini, kita masih dihadapkan pada kebingunan yang bertanya-tanya. Mana bisa, sudah tiga hari sebagai mayat, istrinya tidak makan dan tidak minum,tapi tidak ada yang berkurang. Tidak makin kurus dan tidak berbau busuk. Hanya tidak bergerak dan tidak bernapas, itu saja! Lagi-lagi ada yang janggal secara akal sehat. Ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Ini adalah sebuah bentuk pertanyaan kepada Tuhan tanpa harus bertanya yang dinarasikan oleh Puthut EA melalui tokoh suami di dalam Kematian Seorang Istri. Setelah hidup, mengapa manusia harus mati? Si suami harus mencari literatur-literatur tentang kematian dan mengapa manusia bisa mati. Sampai pada akhirnya, si suami tetap menulis puisi panjang dan dipenuhi beragam literatur untuk merakit bom yang dijadikannya sebagai bentuk lain bagaimana cara mematikan manusia.

Tidak hanya sampai di situ, manusia dihadapkan pada berbagai persoalan yang menuntut untuk sesegera mungkin diselesaikan. Tapi semua seperti misteri yang terdapat dalam Mencari Tangisan Pertama. Mengapa Ia harus mencari tangisan pertama? Saya, menemukan sesuatu yang lain pada cerepen ini. Puthut EA sedang mendoktrin (tetapi tidak menggurui) pembaca agar mampu bertanya tentang keadaan Ibu pertiwi, Bumi. Tentang keadaan negeri kita yang tak seimbang dalam pembangunan, pemerataan bantuan, dan adanya keterbelakangan sosial, ekonomi, pendidikan di salah satu wilayah di negeri ini. Di mana ada sebagian penduduk negeri ini ingin mencari tahu tentang rahim ibunya yang sesungguhnya.

Ia telah terlempar dari kesunyian. Dari ranjang-ranjang yang kosong, rapi, berseprei, putih, kering, dan sendiri. Ia terlempar dari bukit-bukit terjal dan menyimpan sendiri gaungnya, sudut-sudut yang kehilangan tajamnya. Manusia menjadi takut menjadi manusia yang sesungguhnya karena harus dihadapakan pada beragam persoalan. Banyak yang bermuka dua. Dan jika tak mampu beradaptasi, maka sia-sialah hidupmu. Datang dari kesunyian dan kembali kepada kesunyian yang mengerikan.

Ia mencari-cari kembali kelahiran dan tangisannya yang pertama. Jika memang pernah ada. Sebab, hari ini, seseorang yang tidak pernah bahagia, dibunuh oleh orang yang juga tidak sedang bahagia. Dan mungkin, hal yang paling membahagiakan adalah kematian itu sendiri. Sebab, tak ada lagi yang perlu diingat di sana. Semuanya tiada. Dan, banyak orang terlalu ambisius dengan waktu, selalu sibuk mencari kesenangan setelah tidur yang tenang. Mungkin, tidur adalah salah satu bentuk kesenangan lain yang membuat manusia begitu ambisius dalam menjalani hidup yang kompleks namun selalu dibatasi keterbatsan. Namun hidup kadang membuat kamu cukup sialan dan seksi.

Di dalam Ruang Tunggu Waktu, sejak pagi buka mata hingga tirai malam diturunkan, manusia dijebak dan terjebak dalam pusaran waktu yang terbatas. Semua aktivitas manusia dibatasi detak-detik jarum yang setia bergantian angka pada jam seperti dua pasang mata bersitatap , lekat; meraba punggung malam dan setiap fajar adalah sebait puisi di tubuh bayi. Tangisnya tetap rendah hati dan wangi.

Puthut EA menghadirkan kenyataan dengan tidak melebih-lebihkannya dan begitupun sebaliknya. Kenyataan diciptakan ulang dalam narasi fiksi yang begitu indah dan dipenuhi pesan-pesan kehidupan yang menguatkan. Bagaimana mungkin doa menyatu dengan dendam dan kebiadaban manusia, dengan kemunafikan yang sempurna! Benar yang dinarasikan Puthut EA di dalam kisah Sehelai Kutukan Yang Menikam. Ini adalah gambaran manusia masa kini, penuh dendam namun dalam waktu bersamaan mencari pembalasan melalui doa. Secara lain, soal dendam Puthut EA menarasikannya melalui satire yang tajam, sejujurnya aku bukan seorang pendendam, tetapi penikmat yang baik bagi setiap pembalasan. Hanya itu saja.

Narasi-narasi dalam setiap kisah yang disajikan Puthut EA patut dijadikan pedoman hidup agar menjadi lebih mapan meskipun tidak semua harus bahagia. Sebab, hidup yang sempurna adalah hidup yang bisa dinikmati dengan cara bersedih dan bersenang. Jika hanya salah satunya, hidup tak utuh. Seperti sejarah, seperti dendam, segalanya dijalani tanpa pernah bisa dimengerti. Tidak juga ketika semuanya berakhir. Tidak untuk sebuah kalimat; manusia menjalaninya dari depan, sedang sejarah bisa dimengerti dari belakang.

Sampai pada titik ini, saya yakin Anda sedang menunggu sebuah ulasan mengapa kumpulan cerpen ini diberi judul Sebuah Kitab Yang Tak Suci. Jujur, rasa penasaran Anda itu seperti rasa penasaran saya ketika pertama kali membaca kumpulan cerpen ini. Dari kisah Kematian Seorang Istri sampai pada kisah Seseorang Di Sebuah Sudut, tak satu pun saya temukan diksi atau kalimat yang merujuk pada Sebuah Kitab Yang Tak Suci. Tetapi, saya yakin bahwa Puthut EA sedang menjebak manusia ke dalam sebuah pencobaan yang yang menguntungkan. Manusia digiring masuk ke dalam sebuah judul lalu pada akhirnya tenggelam dalam setiap jalinan kisah yang ada di dalamnya. Manusia masa kini adalah manusia yang hidup dari setiap judul tulisan, entah apakah membaca isinya atau tidak. Tetapi, SKYTS sesungguhnya menghadirkan sebuah keutuhan cerita di dalamnya. Puthut EA yakin bahwa kumpulan cerita ini bukanlah sebuah kitab suci yang patut ditiru tetapi bisa dijadikan panduan dalam menikmati realitas yang dihadiahkan semesta terhadap pola laku hidup manusia seperti pesan berikut ini;

Anakku, belajarlah berjudi sendiri dengan nasibmu, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dari ketidakjelasan esok hari. Ia hanya layak dijalani, … sebelum senja merawatmu dengan kesedihan yang  masih sulit kau mengerti.(Kota yang Menuju Diam)

Pogopeo, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    Patuh Kepada Patah dan Kita yang Selalu Tumbuh Setelahnya

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Selain sandaran, manusia butuh kutipan Hallo, teman-teman. Apa kabar? Harapan saya, semoga selalu dalam keadaan yang sehat, siap menjalani akhir pekan dan selalu setia dalam menikmati perkara-perkara hidup yang dialami. Saya pun punya harapan lain yakni, semoga teman-teman setia membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Ya, jangan buru-buru tinggalkan tulisan saya sebelum ada jejak yang […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 259
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Kasianus Sebho
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian. […]

  • Sudut Pandang: Merajut Kemandirian PSN Ngada Lewat Koperasi Suporter

    Sudut Pandang: Merajut Kemandirian PSN Ngada Lewat Koperasi Suporter

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 118
    • 1Komentar

    Oleh: John Lobo Langkah PSN Ngada untuk bertransisi dari klub plat merah yang manja menjadi klub modern yang mandiri adalah keputusan yang strategis demi masa depan sepak bola Nusa Tenggara Timur (NTT). Melegalkan PSN Ngada menjadi badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) adalah sebuah keharusan agar Laskar Jaramasi bisa bersaing secara profesional di tingkat nasional. […]

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

expand_less